Episode Perang Kemerdekaan, Kabupaten Lamongan


Persiapan Menghadapi Tugas Besar

Setelah Kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945 dan Undang-Undang Dasar ditetapkan pada tanggal 18 Agustus, serta Pemerintah Republik Indonesia dan Komite Nasional Indonesia Pusat terbentuk, pada tanggal 19 Agustus ditetapkan pembagian daerah menjadi Daerah Propinsi, Karesidenan dan Kabupaten. Dengan demikian pada tiap-tiap Daerah tersebut dibentuk Pemerintah Sementara RI. Tetapi pembentukan pemerintahan tersebut tidak selalu berjalan lancar.

Atas instruksi Pemerintah RI Pusat di Jakarta pada tanggal 22 Agustus 1945, maka dibentuk Komite Nasional Indonesia Daerah (KNID) Propinsi, Karesidenan, Kabupaten, Kawedanan dan Kecamatan. KNID Karesidenan Bojonegoro terbentuk pada tanggal#31 Agustus 1945, anggotanya berjumlah 37 orang dengan Susunan Pengurus .yang diketuai oleh Sutardjo dan sekretaris Abdul Sakiman. Perutusan Lamongan yaitu Sumantri duduk sebagai Ketua Bagian Khusus.

Pada tanggal 14 September 1945 Pemerintah Jepang di Karesidenan Bojonegoro mengumumkan bahwa pemerintahnya tidak mengakui Prokla­masi Kemerdekaan Indonesia, sehingga banyak rakyat yang tidak berani mengibarkan bendera merah putih dan tetap mengibarkan bendera Jepang. Siaran pemerintah Jepang itu pada tanggal 16 September 1945 disebarluaskan oleh Shuchokan (Residen) ke tiga daerah Kabupaten, yakni Bojonegoro, Lamongan dan Tuban.

Pada Tanggal 22 September 1945 KNID Karesidenan Bojonegoro mengadakan rapat yang juga dihadiri oleh KNID Kabupaten termasuk Lamongan. Rapat KNID itu mengeluarkan mosi yang berisi desakan kepada Residen supaya mencabut siarannya dan memproklamasikan Daerah Bojonegoro sebagai Daerah Karesidenan dari Negara Republik Indonesia.

Pada tanggal 24 September 1945, pukul 07.00 pagi, halaman Rumah Karesidenan sudah dibanjiri

ratusan pemuda Angkatan Muda Indonesia (AMRI) dan Pemuda Republik Indonesia (PRI) yang mendesak kepada Residen Bojonegoro RMTA. Suryo untuk menandatangani naskah proklamasi berdirinya Pemerintah RI Daerah Karesidenan Bojonegoro. \

Pada hari itu juga KNID Karesidenan Bojonegoro menyelenggarakan rapat raksasa di alun-alun. Situasi gegap gempita menyambut kemerdekaan meledak dengan gemuruhnya lagu-lagu perjuangan seperti Di Timur Matahari Mulai Bercahaya, Sorak-sorak Bergembira, dan Dari Barat Sampai ke Timur. Rakyat yang selama itu hidup dalam tindasan dan ketakutan tiba- tiba muncul serentak, berbondong-bondong membanjiri alun-alun Bojonegoro dengan dada tegak dan pekik : Merdeka ! Setelah selesai mengibarkan bendera merah putih di halaman Kantor Karesidenan, para pemuda kemudian menjemput Residen RMTA Suryo untuk membacakan “proklamasi” di depan orang banyak yang hadir dalam Rapat Raksasa tersebut. Proklamasi itu berbunyi :

PROKLAMASI

“Berdasarkan Proklamasi Indonesia Merdeka oleh PYM Soekarno
dai2 PYM Hatta, Presiden dan Wakil Presiden Republik Indone-
sia pada tanggal 17 Agustus 1945, maka kami atas nama
seluruh Rakyat Daerah Karesidenan Bojonegoro dari segala
lapisan, pada hari ini : Senen Wage 24 September 1945
meresmikan pernyataan telah berdirinya Pemerintah an Republik
Indonesia Daerah Karesidenan Bojonegoro, dan terus
mengadakan tindakan-ti?idakan seperlunya.
Kepada seluruh rakyat kami serukan supaya tetap tinggal
tenang dan tenteram melakukan kewajibamiya masing-masing.”

Bojonegoro, 24 September 1945
R.M.T.A. SURYO

Segera setelah Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia dan “proklamasi khusus” dikumandangkan, tanggung jawab rakyat Lamongan terutama para pemudanya dituntut untuk mempertahankan dan membel anya dengan segala tenaga dan jiwanya. Ternyata rakyat dan pemuda di wilayah Lamongan telah siap menghadapi segala kemungkinan yang terjadi. Mereka berbondong-bondong memasuki Barisan Pemuda Desa (istilah waktu itu Pemuda Kent = Inti) dan Laskar-laskar yang ada untuk dilatih kemiliteran. Sekalipun dengan pengetahuan dan keterampilan yang hanya sedikit, tetapi didorong oleh semangat juang yang tinggi untuk mempertahankan Proklamasi

Kemerdekaan dan membela Ibu Pertiwi, mereka siap melaksanakan tugas besar itu kapan saja.

Pada pertempuran Surabaya yang kemudian dikenal peristiwa 10 Nopeniber 1945 dan ditetapkan sebagai Hari Pahlawan, tidak sedikit putera-putera Lamongan ambyur ke medan perang bergabung ke dalam Badan Kelaskaran seperti Hizbullah-Sabilillah, Badan Perjuangan Rakyat Indonesia (BPRI) yang dipimpin oleh Bung Tomo, Pesindo dan lain-lain.

Pada pertempuran di daerah Benjeng (barat kota Surabaya) pada tanggal 2 Mei 1946, lima orang putera Lamongan anggota Lasykar Hizbullah, yakni Khairul Huda, Djamil, Askan, Sutadji, dan Abdullah gugur di medan laga. Mereka dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kusuma Bangsa Lamongan.

Tokoh yang terkenal dalam perjuangan bersenjata di Surabaya ini adalah Kyai H. Amin Mustofa, seorang ulama yang menjadi komandan Hizbullah dari Paciran. Pada waktu agresi Belanda II beliau tertangkap, disiksa dan ditembak di desa Dagan. Beliau gugur bersama kakak dan lima orang kawannya. Namanya diabadikan menjadi nama jalan di kota Lamongan.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Sejarah, Th. 1994 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s