H. Raden Panji Mohammad Noer, Kabupaten Sampang


mohammad_noer

13 Januari 1918, H. Raden Panji Mohammad Noer lahir di Kampung Beler, Desa Rong Tengah, pinggiran kota Sampang, Jawa Timur. Indonesia. putra ketujuh dari 12 anak pasangan Raden Aria Condropratikto dan Raden Ayu Siti Nursiah, dua-duanya keturunan bangsawan Madura.

Tahun 1932, Cak Noer menamatkan Pendidikan HLS lulus.
Tahun 1936, Cak Noer menyelesaikan pendidikannya MULO.
Tahun 1939, Cak Noer menyelesaikan pendidikannya di MOSVLA di Magelang.
Juli 1939 -Agustus 1949, M. Noer memulai karir sebagai pangreh prajanya, magang di Kantor Kabupaten Sumenep.

Tahun 1941, H Raden Panji Mohammad Noer menikahi Mas Ayu Siti Rachma,. Mereka dikaruniai 8 anak, empat putri dan empat putra, 21 cucu, dan 6 cicit.

Agustus 1949-Maret 1950, Cak Noer sebagai Kapten TNI

Tahun 1950, H Raden Panji Mohammad Noer sebagai Patih (Wakil Bupati) Bangkalan, M. Noer mencetuskan gagasan pembangunan Jembatan Surabaya-Madura. Latar belakangnya, ketika menjabat Patih (Wakil Bupati) Bangkalan tahun 1950, ada kerja sama antara Bupati Bangkalan dan Walikota Surabaya. H Raden Panji Mohammad Noer menjadi sekretaris. Kemudian setelah menjabat gubernur, M. Noer jadi ketua.

Desember 1967-Januari 1971, H Raden Panji Mohammad Noer, seorang pamong abdi rakyat. menjabat Gubemur Kdh Tingkat I Jawa Timur.

Tahun 1970-an, Cak Noer menjadi Komisaris PT Super Mitory Utama (Sidoarjo); Komisaris PT Unilever Indonesia (Surabaya); Komisaris perusahaan properti PT Mas Murni Indonesia serta Komisaris Bank Tiara

23 Januari 1971,  – Januari 1976, H Raden Panji Mohammad Noer menjabat Gubemur Kdh Tingkat I Jawa Timur, untuk kedua kalinya. Ketika jadi gubernur, M. Noer mengubah pelabuhannya, tidak di Ujung, tetapi di Perak agar bisa terbuka 24 jam. Monopoli PJKA-pun dihapus, terbuka untuk semua pengusaha angkutan. Tetapi hal itu belum memuaskan. Karena itu ia punya ide membangun sebuah jembatan yang menghubungkan Surabaya dengan Madura.

Tahun 1973 -1978, Cak Noer menjadi Anggota MPR RI

Oktober 1976-Oktober 1980, Cak Noer sebagai Duta Besar R.I untuk Perancis

Agustus 1981-1983, Cak Noer menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA)

Tahun 1983-11 Maret 1988, Cak Noer menjadi Anggota DPA Periode II

Tahun 1987, Cak Noer menjadi Anggota MPR RI

Tahun 1989-1997, M Cak Noer menjadi Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN).

Tahun 1989-2010, Cak Noer  menjadi Ketua Dewan Penyantun seluruh Univ Negeri di Surabaya dan beberapa Univ Swasta di Surabaya, Jember dan Madura.

Tahun 1980-2010, Cak Noer  menjadi Ketua Yayasan Jantung Cab. Utama Jawa Timur. Alamat Kantor: Yayasan Jantung Indonesia Cab. Utama Jatim.

Tahun 1984-2010, Cak Noer  menjadi Ketua Yayasan Asma Wilayah Jawa Timur.

Tahun 1985-2010, Cak Noer  menjadi Ketua Yayasan Aji Dharma Bhakti (bergerak di bidang Sosial Pendidikan) Pemberian beasiswa.

Tahun 1989, Cak Noer  menjadi Ketua Dewan Penyantun seluruh Univ Negeri di Surabaya dan beberapa Univ Swasta di Surabaya, Jember dan Madura.

Tahun 1990-an, Terakhir Cak Noer sebagai Direktur Utama PT Dhipa Madura Pradana; Komisaris SCTV (Surya Citra Televisi) dan advisor perusahaan makanan Ajinomoto.

13 Nopember 1993, bersama  S.K. Rektor Universitas Airlangga No.3748/PT03.H/P/1993, H Raden Panji Mohammad Noer mendapat Piagam Penghargaan Rektor Univ. Airlangga “WIIDYA AIRLANGGA KENCANA” Atas Jasa Prestasinya ikut memajukan dan mengembangkan Ilmu Pengetahuan, Teknologi, Kemasyarakatan dan Kebudayaan.

Agustus  2005-2010, Syaykh Panji Gumilang mengangkat H Raden Panji Mohammad Noer sebagai anggota Dewan Kurator Universitas Al-Zaytun. Selain itu  juga menjadi anggota Dewan Kurator pelbagai perguruan tinggi di Surabaya, seperti Airlangga, ITS, Muhammadiyah, Bayangkara dan UBN. Padahal pendidikannya hanya setingkat SMA.

Sabtu 17 September 2005, di Surabaya H Raden Panji Mohammad Noer di dalam sebuah pidato menyambut rombongan Al-Zaytun pimpinan Syaykh AS Panji Gumilang, ia berkata “Negara ini kaya dan besar, Di tanahnya, lautnya, semuanya ada. Tetapi, kenapa rakyatnya miskin? “Inilah yang betul-betul tidak kita pahami”.

21 September 2009 Cak Noer dirawat di RS Darmo, Surabaya. Menurut puteranya Prof dr Sjaifuddin Noer, selama dirawat kondisi kesehatannya turun-naik dan dalam empat hari kondisinya memburuk.
Jumat 16 April 2010, pukul 08.50 Wib. Yang Maha Kuasa memanggilnya pulang (wafat) Cak Noer dalam usia 92 tahun di Surabaya.
Sabtu, 17 April 2010, setelah dishalatkan di Masjid Al Falah Surabaya, Masjid Agung Bangkalan, dan Masjid Agung Sampang, sesuai wasiatnya. Jenazah disemayamkan di rumah duka Jalan Anwari 11, Surabaya dan dikebumikan di pemakaman keluarga di Desa Somor Kompah, Kabupaten Sampang, Jawa Timur.

Tanda Penghargaan yang diperoleh Cak Noer diantaranya : 1. Bintang Gerilya; 2. Satya Lencana Perang Kemerdekaan I; 3. Satya Lencana Perang Kemerdekaan II; 4. Satya Lencana Penegak; 5. Tanda Kehormatan Bhayangkara; 6. Bintang Yalasena; 7. Tanda Kehormatan Bintang Mahaputra Utama III; 8. Dari Pemerintah Perancis : Odre National Du Merite (Grand Officer); 9. Tanda Penghargaan Lencana “MELATI” dari Kwartir Nasional Gerakan Pramuka; 10. Satya Lencana Kebaktian Sosial; 11. Manggala Karya Kencana dari BKKBN; 12. Tanda Penghargaan dari Menteri Pemuda & Olah Raga; 13. Tanda Penghargaan dari Menteri Keuangan “Pembayar Pajak Penghasilan Perorangan” dan 14. Bintang Legiun Veteran Republik Indonesia.=S1Wh0T0=

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pejabat Negara, Sampang, Th. 2010, Tokoh dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s