Asal-Usul Desa Tlemang, Kabupaten Lamongan


Menurut ceritera dari masyarakat setempat, sekitar tahun 1677 ketika terjadi pergolakan di kerajaan Mataram, seorang pemuda yang bernama R. Nurlali salah seorang putra dari R. Trunodjojo dari kerajaan Mataram, meninggalkan kerajaan tersebut. Ia pergi mengembara, mengikuti Sunan Giri.

Ketika itu di sebelah Timur pulau Jawa masih banyak orang-orang yang hidupnya tersesat. Mereka hidup dari mencuri, me­rampok, membegal, dan sebagainya. Melihat kenyataan yang demikian terketuklah hati R. Nurlali untuk turut serta mem­berantas kejahatan tersebut.

Kemudian Sunan Giri memerintahkan R. Nurlali memberantas perbuatan yang tidak terpuji serta me­nyebarkan agama Islam. Kemudian dengan mengendarai kudanya berangkatlah R. Nurlali menuju daerah Lamongan. Di tengah per­jalanan R. Nurlali menemui seorang wanita yang sedang dijarah kawanan perampok. R. Nurlali menolong, serta mencoba me­nyelamatkan wanita tersebut, sehingga terjadilah kejar mengejar antara R. Nurlali dengan kawanan perampok tersebut.

Akhirnya R. Nurlali mencari siasat dengan masuk ke dalam hutan. Dan tibalah mereka di atas suatu bukit, yang kemudian diberi nama Bukit Inggil. Pada waktu itu kuda R. Nurlali sangat kelelahan sehingga mengeluarkan air liur mak tlemong (bahasa Jawa, me­netes dengan tiba-tiba), sehingga tempat perhentian itu akhirnya disebut Tlemang yang berasal dari kata tlemong.

Akibat kejadian tersebut Kanjeng Sunan Prapen (Sunan Giri) memberi tugas R. Nuriali untuk memberantas para durjana di daerah itu. Dengan dibekali sebuah piandel (Bahasa Jawa, Senjata Sakti) berupa keris yang diberi nama SENGGRUK SEMALANG GANDRING. Keberhasilan R. Nurlali dalam menegakkan ketentraman dan memberantas kejahatan itu tentu saja sangat menye­nangkan hati Sunan Giri.

Sebagai penghormatan terhadap jasanya itu, kemudian R. Nurlali diangkat menjadi pemimpin masyarakat desa Tlemang. Untuk meresmikan pengangkatannya itu, maka secara formal diadakan upacara wisuda, yang dihadiri Sunan Giri (Kanjeng Sunan Prapen). Upacara wisuda itu dilaksanakan tepat pada tanggal 27 Jumadilawal.

Untuk menghormat para tamu khususnya Sunan Giri dan para pengikutnya, R. Nurlali mengerahkan warganya untuk menyaji­kan masakan yang dibuat secara sederhana dari hasil daerah se­tempat dengan bumbu seadanya. Bahkan yang memasakpun hanya kaum laki-laki saja. Kegiatan wisuda inilah oleh masyarakat setempat diberi nama Sanggring yang dilestarikan sampai sekarang.

Dalam pelaksanaan upacara itu dibuatlah sesaji berupa 8 pi­ring sayur sanggring yang ditujukan untuk arwah kedelapan orang wali, maksudnya agar masyarakat desa Tlemang dan sekitarnya selalu mendapat rahmat dan keselamatan. Berkat pusaka yang dimilikinya, R. Nurlali menjadi seorang yang sakti yang disegani oleh lawan maupun kawan. Setelah tua R. Nurlali yang sakti itu sering diberi gelar Kaki Terik.

Mengapa R. Nurlali kemudian diberi gelar Kaki Terik? Pada usianya yang se­makin lanjut, R. Nurlali mempunyai pusaka sakti yang diberi nama Teken Wuluh Gading. Teken berarti tongkat, Wuluh berarti bambu, dan Gading berarti kuning, jadi Teken Wuluh Gading itu mempunyai makna tongkat bambu kuning.

Tongkat bambu kuning yang dimiliki oleh Raden Nurlali itu berupa sebatang bambu kuning yang sudah sangat kering, seakan-akan siap untuk dibakar. Meskipun bambu itu sudah sangat kering, ia masih mam­pu untuk tumbuh lagi pucuk-pucuk mudanya, yang dalam bahasa Jawa disebut trubus atau terik.

Karena kehebatan tongkat kuning yang sudah kering yang masih mampu tumbuh lagi itulah maka Raden Nurlali itu digelari Kaki Terik. Kaki Terik mempunyai beberapa sahabat, yakni Kaki Bromo geni yang mempunyai ke­saktian untuk menciptakan api tanpa menggunakan sarana apapun. Ia menciptakan api dengan tenaga batinnya yang sangat sakti.

Sahabatnya yang lain ialah Kaki Ngembes (ada juga yang me­nyebut Ki Bromo Gedali) yang dapat menciptakan air/sumber mata air walaupun di tempat yang kering kerontang sekalipun. Beliau bertempat tinggal di Ngembes, ketika meninggal ia di makamkan di sebuah tempat yang kemudian disebut Ngembes pula. Sahabat Kaki Terik yang lain ialah Kaki Gereng.

Pada masa mudanya Kaki Gereng adalah seorang tokoh hitam di desa Tle­mang yang sangat ditakuti oleh rakyat kecil. Namun, setelah para Sunan berhasil menaklukkannya akhirnya Kaki Gereng bertobat dan patuh kepada para Wali dan Sunan. Kaki Gereng akhirnya menjadi tokoh yang sangat disegani karena menjadi orang saleh yang sangat budiman.

Sampai sekarang ini rakyat desa Tlemang beserta para kerabat desanya selalu setia memberikan sesaji untuk arwah para wali yang dimakamkan di desa Tlemang. Sesaji itu berupa sayur sanggring delapan piring untuk arwah delapan wali. Adapun maksud dan tujuannya ialah agar para kawula alit di desa Tlemang beserta para pemimpinnya mendapat rahmat dan keselamatan dari Tuhan Yang Maha Pengasih.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Upacara Tradisional Mendhak/ Nyanggring di Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan , Propinsi Jawa Timur. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Th. 1991, hlm. 15-17

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Sejarah, Th. 1991 dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Asal-Usul Desa Tlemang, Kabupaten Lamongan

  1. dicky berkata:

    seharusnya bukan sesaji

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s