Try Sutrisno, Surabaya


TRI15 November 1935,  Try Sutrisno Lahir di Surabaya.

1942 -1950, masuk Sekolah Dasar.  Try  yang baru berusia 11 tahun waktu itu, terpaksa sekolah terhenti, karena harus mencari nafkah untuk meringankan beban hidup keluarga dengan menjual air minum, kemudian menjual koran, dan akhirnya menjadi penjual rokok di stasiun Mojokerto.

Tahun 1948. dua tahun dalam pengungsian, usianya baru 13 tahun, ia diangkat sebagai Tobang (pesuruh) di Batalyon Poncowati, menjadi kurir sekaligus sebagai anggota PD (Penyelidik Dalam) bertugas cari informasi ke daerah pendudukan Belanda selanjutnya disampaikan kepada para pejuang Republik, serta membawa perbekalan dan obat-obatan.

Tahun 1949, setelah pengakuan kedaulatan,  keluarganya kembali ke Surabaya. Try kemudian melanjutkan sekolahnya yang sempat terhenti.

1950-1953,  melanjutkan sekolah ke  SMP sekitar 3 tahun ke Perguruan Taman Siswa, sekolahnya sebelumnya pada zaman Jepang. Ayahnya, kembali bekerja di Dinas Kesehatan Kota. Tidak berdinas di lingkungan Tentara/TNI lagi. Sang ayah akhirnya pensiun dari Dinas Kesehatan Kota pada tahun 1953.

1953-1956,  ia melanjut ke SMA II jurusan SMA/B. Sekolahnya yang selalu terputus-putus dan a tamat SMA tahun 1956, pada saat usianya sudah 21 tahun.

Try Sutrisno 1Tahun 1956, Try mendaftar dan mengikuti test masuk Akademi Teknik Angkatan Darat (Atekad). Setelah test akademi di Surabaya, Try dinyatakan lulus. Kemudian dalam test kesehatan yang dilaksanakan di Malang, ia dinyatakan tidak memenuhi syarat. Namun atas perhatian dan perintah dari Jenderal GPH Djuatikusumo ia mendapatkan panggilan kembali. Bersama yang lainnya ia kemudian dikirim ke Bandung untuk mengikuti Phsychotest. Akhirnya Try dinyatakan diterima sebagai Taruna Akademi Genie yang kemudian berubah nama menjadi Atekad.

Tahun 1959, Lulus dari Atekad dengan pangkat Letda Czi, ia ditugaskan pertama kali di Kodam IV /Sriwijaya sebagai Dan Ton Zipur.

1-10-1959. Dilantik menjadi Letda CZI NRP. 18436.

1959-1962, Danton Zipur di Palembang.

5 Februari 1961, Try resmi menikah dengan Tuti Sutiawati (lahir, 3-4-1940) seorang mojang Bandung, puteri pertama dari pasangan Sukarna – Hj. Hasanah. dan kemudian dikaruniai 4 orang putera dan 3 orang puteri.

1. Nora Tristiyana: 5-4-1962
2. Taufik Dwi Cahyono: 9-8-1964
3. Firman Santya Budi: 17-11-1965
4. Nori Chandrawati: 31-3-1967
5. Isfan Fajar Satrio: 7-2-1970
6. Kunto AriefWibowo: 15-3-1971
7. Natalia Indrasari: 30-12-1974
Dari 4 orang puteranya, seorang mengabdikan diri sebagai anggota Polri, dan yang seorang lagi mengabdikan diri sebagai anggota TNI AD mengikuti jejaknya. Sementara puteri sulungnya yang berprofesi sebagai dokter gigi, bersuamikan seorang anggota TNI AD juga, Jenderal TNI Ryamizard Ryacudu, yang menjabat Kasad pada pemerintahan Megawati Soekarnoputri.

Tahun 1962, ditugaskan pada Yon Zikon Komando Mandala di Kendari. Seusai tugas Mandala, ia yang waktu itu sudah berpangkat Lettu Czi kembali ke satuan Induknya Kodam IV/Sriwijaya sebagai Dan Kima Yon Zikon-2/Dam IV SWJ.

Tahun 1962 Lettu Try mengikuti pendidikan MOS Pazikon

1-1-1963, Naik Pangkat menjadi Lettu.

1962-1963, Try sebagai Danton Zikon di Kendari

Tahun 1964 ia mengikuti Latihan Dasar Para; Dankima Yonzikon-2 di Palembang

Tahun 1965,  ia pindah ke Jakarta sebagai Dan Ki Dump Truck.

T^ahun 1965-1867, Dankizi I/DTR di Jakarta.

 Tahun 1965,Setelah lulus mengikuti pendidikan Kupaltu ia dilantik menjadi Kapten.

1 Januari 1966 dan diangkat menjadi Dan Ki I/Dump Truck, kemudian menjadi Wadan Denma Ditziad.

Wadan Denma Ditziad di Jakarta: 1967-1968

Tahun 1967, Kapten Try Sutrisno ini sempat mengikuti Latihan MOS Amfibi. Kemudian dari Ditziad.

Tahun 1968, ia dipindahtugaskan ke Bandung sebagai Wadan Yonzipur-9/Para.

Tahun 1968 -1970, ia mengikuti tugas belajar di Suslapa Zeni.

1-1-1970-1971, naik pangkat menjadi Mayor Czi, dan dipercaya memimpin Yonzipur/Amfibi (Danyon Zipur 10/FIB) di Pasuruan.

1-1-1972, seusai mengikuti pendidikan Seskoad, ia naik pangkat menjadi Letkol Czi dan pindah ke Mabesad Jakarta sebagai Karo Binlatsat Staf Operasi TNI AD.

Tahun 1974, Try ditugaskan menjadi Ajudan Presiden RI, Soeharto. dua tahunkemudian naik pangkat menjadi Kolonel Czi.

1-4-1976, Naik Pangkat menjadi Kolonel.

Tahun 1977,  ia dikirim ke Bandung untuk mengikuti pendidikan Seskogab ABRI.

Tahun 1978, ia ditugaskan menjabat sebagai Kasdam XVI/ Udayana yang bermarkas di Denpasar, mendampingi Mayjen TNI Dading Kalbuadi (Pangdam). Dua tahun sesudah menyandang pangkat Kolonel.

Tahun 1979, ketika masih menjabat sebagai Kasdam XVI/Udayana, pangkatnya dinaikkan menjadi Brigjen TNI, dan kemudian menjadi Pangdam IV/Sriwijaya. ia melaksanakan Operasi Ganeca, yakni sebuah operasi lingkungan hidup berupa pengembalian gajah-gajah ke habitatnya. Bersamaan dengan ini Bertindak selaku Laksusda Sumatera Selatan.

1-5-1979, Naik Pangkat menjadi Brigadir Jenderal.

Tahun 1980, pada saat menjabat Pangdam itu pulalah ia diangkat menjadi Anggota MPR RI Utusan Daerah Sumatera Selatan.

1 Desember 1982, ia diangkat menjadi Pangdam V/Jaya hingga tahun 1985 dan pangkatnya juga naik menjadi Mayor Jenderal TNI. Di masa pengabdiannya ini Try dihadapkan dengan beberapa peristiwa gangguan kemanan ibu kota. Di antaranya, yaitu peristiwa terbakarnya Toserba Sarinah, peristiwa Tanjung Priok dan pengeboman di Kantor Cabang Bank BCA.

Tahun 1982. telah berhasil menuumpas GPK separatis Aceh, yang merupakan kelanjutan (kambuhan) dari GPLHT (Gerakan Pengacau Liar Hasan Tiro) yang lahir pada tahun 1976.

Tahun 1983-1993, menjadi Anggota MPR RI di Jakarta.

20-8-1985-1986, naik Pangkat menjadi Letnen Jenderal TNI sekaligus menjabat Wakasad di Jakarta mendampingi Kasad. Jenderal TNI Rudhini. setelah sepuluh bulan sejak diangkat menjadi Wakasad, kemudian diangkat menjadi Kasad menggantikan Jenderal TNI Rudhini.

Tahun 1985-1993, Juga dipercaya memimpin organisasi olahraga bulutangkis, Ketua Umum PBSI. Hasil dari pembinaannya, diraihnya 2 (dua) medali emas, 2 (dua) medali perak dan 1 (satu) medali perunggu pada event Olimpiade Barcelona tahun 1992. Ia memimpin PB. PBSI selama dua periode yakni dari tahun 1985 hingga tahun 1993.  Selama menjadi Kasad, yang hanya sekitar satu setengah tahun, Try mengakui tak sempat berbuat banyak.

20-4-1987, Naik Pangkat menjadi Jenderal.

Tahun 1988 awal,  Try dipromosikan menjadi Pangab. Namun sempat merintis berdirinya Badan TWP TNI AD (Tabungan Wajib Perumahan TNI AD), yang membantu para prajurit TNI AD dan PNS TNI AD dalam pengadaan rumah murah untuk warga TNI AD.

Tahun 1988 hingga tahun 1993. Ketika itu ABRI masih terdiri dari institusi TNI AD, TNI AL, TNI AU, dan POLRI. Banyak peristiwa penting selama kepemimpinannya, seperti pemberontakan GPK (Gerakan Pengacau Keamanan) di Aceh.

Tahun 1989, menyusul dibubarkannya Kodam I/Iskandarmuda.

Tahun 1990 awal,  di Lampung terjadi Peristiwa Talangsari.
Tahun 1991, Peristiwa Santa Cruz. Saat itu gerombolan GPK Timtim (Fretilin) turun ke kota melakukan demonstrasi secara brutal menentang integrasi, menyusul dibukanya daerah Timtim dengan dunia luar.

Dengan keterbatasan anggaran untuk ABRI, ia sempat melakukan penggantian sebagian kecil Alut Sista TNI AD yakni peluru kendali Rapier untuk pengamanan obyek vital Arun dan Bontang. Demikian pula penggantian Alut Sista TNI AL dengan beberapa kapal bekas pakai. Juga pembaruan terhadap beberapa Alut Sista TNI AU berupa pengadaan pesawat tempur F-16 dan pesawat latih kelas Charlie, walaupun pembayarannya dengan cara dicicil (multi year program). Sedangkan POLRI mendapatkan perhatian pada pengadaan peralatan khusus untuk keperluan penyidikan, serta perlengkapan untuk Satuan Reserse dan Satuan Lalu Lintas.

Tahun 1993, Pada Sidang Umum MPR masa bakti 1992 – 1997 memilihnya menjadi Wakil Presiden RI mendampingi HM. Soeharto, Fraksi ABRI MPR-RI yang mencalonkannya, mendahului pilihan terbuka dari Presiden Soeharto. Suatu hal yang tidak lazim di era Orde Baru. Presiden Soeharto merasa di-fait accompli.

Pada tahun 1998 tugasnya sebagai Wapres berakhir, dan kemudian digantikan oleh BJ. Habibie pada Sidang Umum MPR 1998.

Tahun 1998, dia terpilih menjadi Ketua Umum DPP Pepabri periode 1998-2003. Tantangan berat yang dihadipnya kala itu adalah adanya kecenderungan dari masing-masing Angkatan membuat organisasi Purnawirawan sendiri. Ia mengakhiri masa bhaktinya pada tahun 2003 .

Tahun 1999- ….,  Penasehat dan Sesepuh PKPI pimpinan Edi Sudradjat. Ia pun masih berstatus Penasehat Yayasan Kejuangan Panglima Besar Sudirman, yang bergerak di bidang pendidikan, yang membawahi UPN. Veteran dan SMU Taruna Nusantara.

Tahun 2002-….,  Ketua Umum Prima (Persahabatan RI-Malaysia). Dan juga bersama Kyai Haji Ali Ya’fi aktif menjadi pembina perkumpulan keagamaan “Spiritual Journeyff”.

Tahun 2003, Penasehat Gerakan Kebangkitan Indonesia Raya.
Tahun 2003- …. Dewan Pembina Pusat Pepabri.

Dan Masih banyak lagi kegiatan yang diembannya antara lain :

Pembina Paguyuban Keagamaan “Spiritual Journey”, Dewan Pendiri Masjid AI Akbar Surabaya, Penasehat Pengurus Masjid Sunda Kelapa, Jakarta, Pembina Masjid Cut Nyak Dien, Jakarta, Penasehat Pesantren (Pendidikan Terpadu) “AI-Fajar”,

Pembina Paguyuban Alumni Atekad 1959,

Penasehat Yayasan Pendidikan Terpadu “Krida Nusantara”, Penasehat Perguruan Tinggi Al Ajar,

Dewan Penyantum Institut Ilmu AI Qur’an Jakarta (IIQ Jakarta).

Bintang-bintang/Tanda-tanda Jasa yang didapat dari Dalam Negeri:
– Bintang Republik Indonesia Adipradana.
– Bintang Mahaputra Adipurna
– Bintang Mahaputra Adipradana
– Bintang Yudha Dharma Utama
– Bintang Dharma
– Bintang Kartika Eka Paksi Utama
– Bintang Jalasena Utama
– Bintang Swa Bhuwana Paksa Utama
– Bintang Bhayangkara Utama
– Bintang Kartika Eka Paksi Pratama
– Bintang Kartika Eka Paksi Nararya
– Satya Lancana GOM VII
– Satya Lancana Sapta Marga (PRRI Sumbar)
– Satya Lancana Sapta Marga (PRRI Sumsel)
– Satya Lancana Satya Dharma
– Satya Lancana Wira Dharma
– Satya Lancana Penegak
– Satya Lancana Seroja
– Satya Lancana Kesetiaan VIII
– Satya Lancana Kesetiaan XVI
– Satya Lancana Kesetiaan XXIV
– Satya Lancana Wira Karya.

Dari Luar Negeri:
– Bt. Order of The Yugoslav Flag With Golden Star (Yugoslavia)
– Bt. Order for The Military Merits With Golden Stafr(Yugoslavia)
– Bt. Das Grosse Verdienstkreuz Mit Stern (Jerman)
– Bt. The Most Noble Order of The Crown of Thailand (Thailand)
– Bt. Commandeur de La Legion D’Honneur (Prancis)
– Bt. Darjah Paduka Mahkota (Johor)
– Bt. Ereteken Voor Verdienste (Belanda)
– Bt. Legion of Merit (USA)
– Bt. Nishan-I-Imtiaz (Pakistan)
– Bt. Kepahlawanan Panglima Gagah Angkatan Tentera (Malaysia)
– Bt. Darjah Yang Mulia Pangkuan Negara (Malaysia)
– Bt. Tong II (Republik Korea)
– Bt. Kehormatan Darjah Utama Bakti Chemerlang (Singapura).
– Bt. The Most Exalted Order of The White Elephant (Thailand)
– Bt. Kebesaran Negara (Brunei Darussalam)
– Bt. Philippine Legion of Honor (Philipina).=S1Wh0T0=

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sosok, Surabaya, Th. 2012 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Try Sutrisno, Surabaya

  1. TABULA ADVENTURE berkata:

    salute untuk Sang Jenderal….semoga selalu berbuat baik terus pak….Salam Hormat dari kami!!!

  2. vina tue reny berkata:

    mengapa kakek try tidak mencalonkan diri sebagai presiden” dari reny cucu bapak ngadimin

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s