Sejarah Pendidikan TNI Angkatan Laut


KOBANGDIKAL003 Sejak awal terbentuk, pimpinan angkatan laut telah menyadari betapa pentingnya pendidikan untuk mengembangkan angkatan laut. Dalam rangka mengawaki organisasi yang baru lahir tersebut tentu membutuhkan personel yang memiliki berbagai macam kemampuan. Berdirinya beberapa pendidikan dan pelatihan Angkatan Laut termasuk pelatihan-pelatihan singkat, menunjukkan perhatian para pemimpin Angkatan Laut dalam mengembangkan dan mengorganisasi Korps Militer agar sesuai dengan perkembangan jaman, meskipun pada masa itu keadaannya masih belum teratur. Antara tahun 1945 sampai 1950, Angkatan Laut mengadakan berbagai jenis pelatihan di Jawa dan Sumatera seperti : Latihan Opsir di Serang, Latihan Opsir di Kalibakung, Sekolah Pelayaran di Tanjung Balai Asahan, Sekolah Pelayaran di Pariaman, Training Station Serang Jaya di Aceh, Training Camp di Pariaman dan Training Camp Orion di Sibolga. Salah seorang pemimpin Angkatan Laut R.E. Martadinata mengemukakan tentang pentingnya pendidikan ini:

“.. Pendidikan profesional itu sangat penting, meskipun situasinya hampir tidak memungkinkan. Jika hal itu tidak menarik perhatian kami, maka ALRI hanya akan menjadi tentara darat dan hal itu akan menimbulkan kesulitan besar di laut…”.

Langkah maju dalam bidang pendidikan adalah didirikannya Jawatan Pendidikan Angkatan Laut pada bulan Maret 1946 atas perintah Markas Besar ALRI di Yogyakarta yang saat itu dipimpin oleh Laksamana III Maspardi selaku Kepala Staf Umum ALRI. Jawatan ini dianggap sebagai cikal bakal Direktorat Pendidikan Angkatan Laut (Ditdikal). Sebagai kelanjutan dari usaha tersebut,  Laksamana III Maspardi, Laksamana III Adam dan Mayor Martadinata selanjutnya berjuang dengan keras untuk mendirikan Sekolah Angkatan Laut (SAL).  Mengingat situasi saat itu masih menghadapi ancaman dari Belanda yang ingin menguasai kembali Indonesia, maka dipilihlah Tegal sebagai tempat pendidikan dengan alasan karena di Tegal sudah pernah memiliki Sekolah Pelayaran dan juga karena kota-kota besar seperti Jakarta, Semarang dan Surabaya masih menjadi ajang pertempuran.

KOBANGDIKAL004Setelah dipublikasikan melalui Harian Kedaulatan Rakyat yang terbit di Yogyakarta, SAL Tegal menerima 200 orang siswa yang selanjutnya ditempatkan di kesatrian pendidikan, menempati bekas Sekolah Kepandaian Putri Tegal yang sebelumnya pernah digunakan oleh Jepang untuk menawan tentara Belanda. Setelah persiapan selesai maka tanggal 12 Mei 1946, SAL Tegal dibuka secara resmi oleh Presiden R.I. Soekarno dan disaksikan Wakil Presiden Moh. Hatta, Panglima Besar Soedirman, para Menteri, pejabat teras Mabes ALRI Yogyakarta serta anggota ALRI Pangkalan IV Tegal. Peresmian SAL Tegal ini selanjutnya dijadikan sebagai momen penting dan tonggak sejarah bagi cikal bakal perkembangan pendidikan TNI AL sehingga setiap tanggal 12 Mei diperingati sebagai Hari Pendidikan TNI AL. Penetapan Hari Pendidikan TNI AL tersebut dikukuhkan berdasarkan Surat Keputusan Kasal Nomor Skep/729/IV/1977 tanggal 21 April 1977.

SAL Tegal menyelenggarakan dua macam pendidikan yaitu untuk tingkat calon Perwira dan tingkat calon Bintara. Lama pendidikan 3 tahun dengan perincian dua tahun  untuk pelajaran teori dan satu tahun untuk pelajaran praktek. Komandan pertama SAL Tegal adalah Laksamana III Adam. SAL Tegal bertujuan mendidik atau membentuk pelaut yang mampu memimpin kapal perang dan menjalankan mesin kapal. Sesuai dengan tujuan institusional, sekolah ini dibagi atas dua bagian yaitu : pertama, siswa dididik untuk bekerja di geladak-geladak kapal dan yang kedua, siswa dididik untuk menjadi ahli mesin kapal perang. Kurikulum yang diajarkan dibuat oleh Jawatan Pendidikan Angkatan Laut, 60% mempelajari ilmu navigasi, astronomi, mesin dan undang-undang pelayaran, 10% mempelajari pengetahuan dan praktek kemiliteran seperti pengetahuan senjata dan gerakan dasar kemiliteran. Sisanya materi pelajaran lainnya berkaitan dengan pengetahuan umum seperti Matematika, Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia

Para siswa terbagi dalam tiga kelompok, yaitu : kelompok pertama adalah mereka yang telah menyelesaikan pendidikan di Sekolah Rakyat, kelompok kedua adalah mereka yang memiliki ijazah SMP, dan kelompok ketiga, mereka yang berasal dari Sekolah Menengah Tinggi dan Sekolah Guru A (SGA). Kelompok kedua dan ketiga mengikuti pendidikan untuk memperoleh ijazah Bintara (SAL mendidik48 siswa calon Bintara), sedangkan kelompok pertama dididik untuk menjadi Tamtama. Dengan menganalisis cara penerimaan siswa yang dilakukan SAL, dapat dikatakan bahwa jenis pendidikan ini berbeda dengan pendidikan yang diusulkan sebelumnya oleh Angkatan Laut, seperti Latihan Opsir Serang dan Sekolah Radio dan Telegrafis Lawang. Dua sekolah yang masing-masing mempersiapkan opsir dan teknisi dalam bidang telegrafi ini hanya menerima para pelaut. Dapat dikatakan SAL Tegal merupakan Sekolah Angkatan Laut pertama yang mendidik calon Bintara dan Tamtama dengan menerima siswa yang berasal dari sipil

Seperti telah dikemukakan oleh Martadinata, situasi memang belum memungkinkan sehingga keadaan kesatrian maupun akomodasinya pada saat itu masih sangat sederhana, para siswa tidur beralas tikar di lantai dan makan nasi bungkus. Peralatan untuk latihan juga sangat minim akibatnya mereka tidak memiliki kesempatan untuk mempraktekkan apa yang mereka pelajari.  Sesungguhnya sekolah ini ingin mendidik siswa untuk menjadi pelaut yang dapat menangani kapal perang tetapi kenyataannya mereka belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di kapal perang, untuk latihan mereka menggunakan kapal nelayan penangkap ikan. Memang jauh dari harapan namun setidaknya mereka mengetahui bagaimana keadaan laut, mendayung dengan baik, bagaimana mereka berlayar dan yang terpenting para siswa mengenal lebih dekat dengan kehidupan laut.

Kegiatan SAL Tegal sempat terhenti ‘ketika Belanda melancarkan agresi pada bulan Juni 1946. Para siswa tidak dapat belajar sepenuhnya karena harus ikut bertempur dan berjuang bersama rakyat melawan Belanda. Gedung sekolah terpaksa dibumihanguskan karena terus diintai pesawat udara lawan. Setelah perjanjian Renville ditandatangani, SAL Tegal kembali dilanjutkan namun dipindah lokasinya ke Juwana (dekat Tegal). Setelah menjalani pendidikan selama kurang lebih 3 tahun, akhirnya pada tahun 1949 diadakan ujian akhir dan sebanyak 40 orang berhasil lulus sebagai Sersan Mayor Calon Perwira dan 80 orang lulus sebagai Kopral Calon Bintara. Salah seorang alumni yang berhasil menjadi Perwira tinggi adalah Letnan Jenderal Marinir Ali Sadikin mantan Gubernur DKI Jakarta

Pada tahun 1950 Belanda akhirnya mengakui kedaulatan Republik Indonesia dan menyerahkan seluruh pangkalan Angkatan Laut serta kapal perangnya kepada ALRI. Seiring dengan berjalannya waktu, maka kekuatan personel ALRI juga semakin bertambah. Setelah perang kemerdekaan selesai pada tahun 1950 maka seluruh komponen bangsa mengadakan pembenahan termasuk ALRI yang sudah mempunyai anggota sekitar 5.000 orang. Mengingat sibuknya pembenahan organisasi dan terbatasnya sumberdaya pelautmaka Mabes ALRI memprioritaskan masalah pendidikan dengan membuka kembali pendidikan Angkatan Laut yang mengutamakan para anggotanya. Kasal memutuskan untuk mendirikan pendidikan Angkatan Laut dengan mengambil tempat di Pasiran yang letaknya dekat dengan pemusatan armada di Surabaya dan fasilitasnya memadai.

Kesatrian Pendidikan Angkatan Laut Pasiran diresmikan pembukaannya oleh Presiden R.I. pada bulan Maret 1950 dan yang menjadi komandan pertama adalah Mayor Pelaut E.H. Thomas. Tujuan penyelenggaraan ini adalah untuk mendidik siswa baru dan melaksanakan upgrading Perwira, Bintara dan Tamtama hasil didikan Belanda dan Jepang. Pendidikan yang ada meliputi semua tingkat yang masing-masing terbagi atas tiga Korps yaitu; Pelaut, Mesin dan Administrasi. KPAL Pasiran hanya berlangsung sampai dengan bulan September 1950 karena selanjutnya dipindah ke Morokrembangan setelah Dinas Penerbangan Belanda menyerahkan seluruh aset Pangkalan Udara Angkatan Laut Belanda yang ada di Morokrembangan kepada ALRI. Pada tanggal 10 Oktober 1951 diresmikan Pendidikan Angkatan Laut setara Akademi dengan nama Institut Angkatan Laut (IAL) yang selanjutnya berdiri sendiri dan berkembang menjadi Akademi Angkatan Laut (AAL).

Kesatrian Pendidikan Angkatan Laut Morokrembangan (KPALM) yang diresmikan pada tanggal 11 Juli 1952 pada awalnya menyelenggarakan pendidikan baik bagi calon Perwira, Bintara maupun Tamtama. Namun kemudian dipisah menjadi dua yaitu Pendidikan Calon Perwira dilaksanakan oleh Institut Angkatan Laut (IAL) sedangkan pendidikan bagi calon Bintara danTamtama tetap dilaksanakan di KPALM. Pada tahun pertama jabatan IAL dan KPALM masih dirangkap oleh seorang komandan. IAL selanjutnya menjadi penyelenggara pendidikan setaraf akademiyang selanjutnya berkembang menjadi AAL Pendidikan yang disediakan untuk anggota yang sudah aktif meliputi:

  1. Kursus Ulangan dan Tambahan untuk Perwira (KUTP).
  2. Kursus Ulangan dan Tambahan untuk Bintara (KUTB).
  3. Sekolah Kader Kopral (SKK).
  4. Pelajar Sersan (PS).
  5. Sekolah Lanjutan atau Vak Opleiding (VO).

Pendidikan yang siswanya direkrut dari masyarakat.

  1. Latihan Kemiliteran Pertama (LKP).’
  2. Pendidikan Vak Pertama (PVP).
  3. Pendidikan Vak Lanjutan (PVL).
  4. Latihan Kader (LK).
    1. Pendidikan Vak Lanjutan II (PVL-II).
    2. Pendidikan Perwira Tenaga Ahli (PTPAL.

Berdasarkan telegram Kasal TW. 180221 Z/Pebruari 1963, KPALM disempurnakan menjadi Pusat Pendidikan Angkatan Laut (PUSDIKAL) namun penyempurnaan ini belum mencakup beberapa pendidikan kejuruan yang diselenggarakan di luar PUSDIKAL yang masih dikendalikan oleh Markas Besar Angkatan Laut. Untuk lebih memadukan program pengajaran maka berdasarkan Surat Keputusan Kasal Nomor 1301.13 tanggal 2 Pebruari 1963. Komandan Pusdikal ditunjuk sebagai Koordinator Lembaga Pendidikan Angkatan Laut (KORDIKAL) Wilayah Timur. Penyempurnaan terus dilakukan, berdasarkan Surat Keputusan M/PANGAL Nomor 5401.11 tanggal 7 Maret 1968, Pusdikal dirubah menjadi Komando Pendidikan dan Latihan Angkatan Laut (KODIKLATAL). Pendidikan yang diselenggarakan juga mengalami peningkatan, yaitu:

. PUSDIKDASMIL meliputi:

  1. Pusat Pendidikan Khusus Perwira Angkatan Laut.
  2. Pusat Pendidikan Khusus Tamtama dan Bintara Angkatan Laut.
  3. Pusat Pendidikan Khusus Korps Wanita Angkatan Laut.
  4. Sekolah Teritorial Maritim Angkatan Laut.
  5. Sekolah Elektronika Angkatan Laut

Pusat Pendidikan Kejuruan (PUSDIKJUR) meliputi:

  1. Sekolah Artileri Angkatan Laut (SARTAL).
  2. Sekolah Navigasi dan Informasi Tempur Angkatan Laut (SNITAL).
  3. Sekolah Torpedo dan Anti Kapal Selam Angkatan Laut (STAKSAL).
  4. Sekolah Teknik Menengah Khusus Angkatan Laut (STMC-AL).

Pusat Latihan Tempur (PUSLATPUR) meliputi:

  1. Latihan Tempur Ranjau.
  2. Latihan Tempur Atas Air.

Selanjutnya keputusan demi untuk memenuhi tuntutan perkembangan ALRI, berdasarkan SK KASAL Nomor 5401.51 tanggal 25 Oktober 1970 diresmikanlah KOBANGDIKAL sebagai penyempurnaan dari KODIKLATAL. Dalam wadah baru ini bermacam-macam sekolah yang ada dikelompokkan ke dalam 9 pusat pendidikan yaitu:

  1. Pusat Pendidikan Korps Pelaut.
  2. Pusat Pendidikan Korps Teknik.
  3. Pusat Pendidikan Korps Elektronika
  4. Pusat Pendidikan Korps Komando
  5. Pusat Pendidikan Korps Adminitrasi
  6. Pusat Pendidikan Korps Kesehatan.
  7. Pusat Pendidikan Korps Wanita Angkatan Laut
  8. Pusat Pendidikan Korps Spesifik.
  9.  Pusat Pendidikan Korps Lanjutan dan Ilmiah

Akhirnya dengan disempurnakannya Organisasi TNI AL sesuai Keputusan Menhankam Pangab Nomor Kep/11/1 V/1976 tanggal 5 April 1976 sebagai tindak lanjutnya KOBANGDIKAL turut disempurnakan menjadi Komando Pendidikan Angkatan Laut (KODIKAL) berdasarkan Surat Keputusan Kasal Nomor 1713/VI11/1976 tanggal 17 Agustus 1976. Dalam organisasi baru ini jumlah Pusdik ditambah satu yaitu PUSDIKLAPA 2 yang sebelumnya bernaung dibawah PUSDIKLA. Ketika TNI AL akan membeli kapal korvet pada tahun 1976 maka Kodikal menyelenggarakan pendidikan korvet untuk menyiapkan instruktur calon awak kapal, personel pemeliharaan dan perbaikan dan penyiapan awak kapal sebelum mereka dikirim untuk mengambil kapal yang sudah dibeli. Demikian juga ketika akhir 1977 diselenggarakan pendidikan untuk persiapan peneriman kapal jenis Patrol Ship.

Pada peringatan Hari Pendidikan TNI Angkatan Laut Ke-61 tanggal 12 Mei 2007, organisasi Kodikal berubah menjadi Kobangdikal berdasarkan Peraturan Kasal Nomor Perkasal/5/V/2007 tanggal 9 Mei 2007. Bersamaan dengan peresmian struktur organisasi Kobangdikal tersebut ditetapkan pula peresmian pembentukan Komando Pendidikan (Kodik) yang masing-masing membawahi beberapa Pusat Pendidikan (Pusdik), sesuai dengan kejuruan ataupun kecabangan masing-masing. Kobangdikal saat ini telah mem iliki berbagai sarana dan prasarana yang lengkap guna mendukung kegiatan pendidikan, sehingga mampu secara optimal mencetak prajurit matra laut yang memiliki karakter sebagai prajurit bahari, yaitu prajurit yang bermoral, profesional dan berani serta siap mengawaki Sistem Senjata Armada Terpadu (SSAT) berupa KRI, Pesawat Udara, Marinir dan Pangkalan Angkatan Laut.Killer (PSK) dan Kapal Selam yang baru.


Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Peran Strategis Kobangdikal Dalam Membangun Kekuatan MaRITIM Nasion: 65 Tahun Refleksi Perjalanan Sejarah Kobangdikal. Surabaya: Kobangdikal, 2011. Hlm.  16-13

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya, Th. 2011 dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Sejarah Pendidikan TNI Angkatan Laut

  1. Ping balik: Tessy Mantan Anggota Marinir | Berita Indonesia

  2. Ping balik: Jual Ikat Pinggang Tni - Cari Aksesoris Wanita

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s