Harun alias Tohir bin Mandar Kopral Anumerta KKO, Bawean Gresik


harun-kkoTidak sedikit  masyarakat Indonesia yang belum mengenal Harun dan Usman. Pahlawan Dwikora dari Korps Komando Operasi (KKO) (kini Korps Marinir TNI-AL), dua nama yang sudah menjadi satu ini tenggelam. Bahkan dalam percaturan sejarah Nasional, nama keduanya jarang bahkan hampir tidak pernah disebutkan sama sekali, padahal jika kita melihat apa yang telah mereka lakukan adalah sebuah kisah heroik yang belum pernah dilakoni oleh pahlawan-pahlawan Nasional lainnya.

4 April 1947, Tohir bin Said, alias Harun Said lahir di Bawean, Kabupaten Gresik, Jawa Timur, anak ketiga dari Pak Mandar dengan ibu Aswiyani.

Setelah menamatkan Sekolah Dasar, Harun melanjutkan Sekolah Menengah Pertama dan Sekolah Menengah Atas di Jakarta. tanpa diketahui keluarganya, untuk biaya hidup dan sekolahnya Harun membiayai sendiri, dengan bekerja sebagai pelayan kapal dagang.

Juni 1964, Ia masuk Angkatan Laut dan memulai kariernya sebagai anggota KKO AL dengan pangkat Prajurit KKO II (Prako II) ditugaskan dalam Tim Brahma I di Basis II Ops A KOTI. di bawah pimpinan Kapten Paulus Subekti yang pada waktu itu menyamar dengan pangkat Letkol KKO – AL dan merangkap menjadi Komandan Basis X yang berpangkalan di Pulau Sambu Riau. Tugas Basis II:

  1. Mempersiapkan kantong gerilya di daerah lawan.
  2. Melatih gerilyawan dari dalam dan mengembalikan lagi ke daerah masing-masing.
  3. Melaksanakan demolision, sabotase pada obyek militer maupun ekonomis.
  4. Mengadakan propaganda, perang urat syarat
  5. Mengumpulkan informasi.
  6. Melakukan kontra inteljen.

Para sukarelawan menggunakan nama samaran, nama disesuaikan dengan nama-nama daerah lawan yang dimasuki. Janatin mengganti namanya dengan Usman dan disambungkan dengan nama orang tuanya Haji Muhammad Ali (Usman bin Haji Muhammad Ali). Sedangkan Tohir menggunakan nama samaran Harun (Harun bin Said).

USMAN HARUN8 Maret 1965 tengah malam buta, Janatin (Usman), Tohir (Harun) dan Gani bin Arup, ketiga Sukarelawan ini memasuki Singapura. Mereka mengamati tempat-tempat penting yang akan dijadikan obyek sasaran hingga larut malam. Setelah memberikan laporan singkat, mereka mengadakan pertemuan di tempat rahasia untuk melaporkan hasil pengamatan masing-masing dan kembali ke induk pasukannya, yaitu Pulau Sambu (Basis II).

8 Maret 1965 malam, berbekal 12,5 kg bahan peledak mereka bertolak dengan perahu karet dari P Sambu. Mereka dapat menentukan sendiri sasaran yang dikehendaki. Maka setelah melakukan serangkaian pengintaian, pada suatu tengah malam terjadi ledakan di sebuah bangunan Mc Donald di Orchard Road.  Tohir yang mirip-mirip Cina itu ternyata sangat menguntungkan dalam penyamarannya. Bahasa Inggeris, Cina dan Belanda yang dikuasai dengan lancar telah membantu pula dalam kebebasannya untuk bergerak dan bergaul di tengah-tengah masyarakat Singapura yang mayoritas orang Cina.

10 Maret 1965 03.07 dini hari, Harun Said, Bersama dengan seorang anggota KKO lainnya bernama Usman, melakukan Pengeboman di wilayah pusat kota Singapura tepat pada  gedung MacDonald House.

11 Maret 1965, Sebelum berpisah mereka bertemu kembali, dan berjanji barang siapa yang lebih dahulu sampai ke induk pasukan, supaya melaporkan hasil tugas telah dilakukan kepada atasan.

12 Maret 1965,  dalam upaya kembali ke pangkalan, Usman bersama Harun pisah dengan Gani.mereka berdua dapat memasuki pelabuhan Singapura dan menaiki kapal dagang Begama yang pada waktu itu akan berlayar menuju Bangkok. Keduanya menyamar sebagai pelayan dapur.

Kapten kapal Begama mengetahui ada dua orang yang bukan anak buahnya berada dalam kapal, lalu mengusir mereka dari kapal. mereka diacam akan dilaporkan kepada Polisi apabila tidak mau pergi dari kapal. Kapten Kapal tidak mau mengambil resiko kapalnya ditahan oleh pemerintah Singapura.

13 Maret 1965 Usman dan Harun meninggalkan kapal Begama dan mendapat rampasan sebuah motorboat, dalam perjalanan boat macet. Mereka tak dapat menghindar dari sergapan patroli. Pukul 09.00 pagi di hari itu, Usman dan Harun tertangkap dan di bawa ke Singapura sebagai tawanan. kurang lebih 8 bulan telah meringkuk di dalam penjara Singapura sebagai tawanan.

1 April 1965 dinaikkan pangkatnya menjadi Kopral KKO I (Kopko I).

4 Oktober 1965 Usman dan Harun di hadapkan ke depan sidang Pengadilan Mahkamah Tinggi (High Court) Singapura dengan J. Chua sebagai Hakim. dengan tuduhan:

  1. Menurut ketentuan International Security Act Usman-Harun telah melanggar Control Area.
  2. Telah melakukan pembunuhan terhadap tiga orang.
  3. Telah menempatkan alat peledak dan menyalakannya.

Dalam proses pengadilan ini, Usman dan Harun tidak dilakukan pemeriksaan pendahuluan, sesuai dengan Emergency Crimina Trials Regulation tahun 1964. Usman dan Harun telah menolak semua tuduhan itu dan memberi pernyataan yang mereka lakukan bukan kehendak sendiri, karena dalam keadaan perang. Oleh karena itu mereka meminta kepada sidang supaya mereka dilakukan sebagai tawanan perang/POW (Prisoner of War). Namun Hakim menolak permintaan mereka dengan alasan sewaktu kedua tertuduh tertangkap tidak memakai pakaian militer.

20 Oktober 1965, dipersidangan yang berjalan kurang lebih dua minggu, Pengadilan Tinggi (Hight Court) yan dipimpin oleh Hakim J. Chua memutuskan bahwa Usman dan Harun telah melakukan sabotase dan mengakibatkan meninggalnya tiga orang sipil. Dengan dalih ini, kedua tertuduh dijatuhi hukuman mati.

6 Juni 1966 Usman dan Harun mengajukan naik banding ke Federal Court of Malaysia dengan Hakim yang mengadilinya: Chong Yiu, Tan Ah Tah dan J.J. Amrose. 

5 Oktober 1966 Federal Court of Malaysia menolak perkara naik banding Usman dan Harun.

17 Februari 1967 perkara tersebut diajukan lagi ke Privy Council di London.

Dalam kasus ini Pemerintah Indonesia menyediakan empat Sarjana Hukum sebagai pembela yaitu Mr. Barga dari Singapura, Noel Benyamin dari Malayasia, Prof. Dr. Mochtar Kusumaatmadja SH dari Indonesia, dan Letkol (L) Gani Djemat SH Atase ALRI di Singapura.

4 Mei 1968, Menlu Adam Malik melalui Menlu Singapura membantu upaya KBRI memperoleh pengampunan atau setidak-tidaknya memperingan hukuman kedua sukarelawan. 

21 Mei 1968,  Usaha Privy Council  itu gagal. tetap ditolak.

1 Juni 1968, Usaha terakhir adalah mengajukan permohonan grasi dari Presiden Singapura Yusuf bin Ishak.

9 Oktober 1968, Menlu Singapura menyatakan bahwa permohonan grasi atas hukuman mati Usman dan Harun ditolak oleh Presiden Singapura.

10 Oktober 1968, Atase AL Letkol Gani Djemat SH kembali ke Singapura membawa surat Presiden Soeharto untuk Presiden dan PM Singapura. Tapi gagal menyerahkan surat-surat itu langsung kepada yang bersangkutan. Presiden Singapura sedang sakit. PM Lee Kwan Yew tak dapat dihubungi karena sibuk.

Rabu, 16.00, 16 Oktober 1968, Brigjen TIN Tjokropranolo sebagai utusan pribadi Presiden Suharto datang ke penjara Changi. Dengan diantar Kuasa Usaha Republik Indonesia di Singapura Kolonel A. Ramli dan didampingi Atase Angkatan Laut Letkol (G) Gani Djemat SH, menemui Usman dan Harun.

Pertemuan yang mengharukan tetapi membanggakan. Usman dan Harun segera mengambil sikap sempurna dan memberikan hormat serta memberikan laporan lengkap, ketika Letkol Gani Djemat SH memperkenalkan Brigjen Tjokropranolo sebagai utusan Presiden Suharto. Sikap yang demikian membuat Brigjen Tjokropranolo hampir tak dapat menguasai diri dan terasa berat untuk menyampaikan pesan. Pertemuan ini membawa suasana haru, sebagai pertemuan Bapak dan Anak yang mengantarkan perpisahan yang tak akan bertemu lagi untuk selamanya.

Pesan yang disampaikan adalah bahwa Presiden Suharto telah menyatakan mereka sebagai Pahlawan dan akan dihormati oleh seluruh rakyat Indonesia, kemudian menyampaikan salut atas jasa mereka berdua terhadap Negara.

Kolonel A. Rambli dalam kesempatan itu pula menyampaikan, bahwa Presiden Suharto mengabulkan permintaan mereka untuk dimakamkan berdampingan di Indonesia.

Sebelum berpisah Usman dan Harun dengan sikap sempurna menyampaikan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Presiden RI Jenderal Suharto atas usahanya, kepada Jenderal Panggabean, kepada mahasiswa dan pelajar, Sarjana Hukum serta seluruh Rakyat Indonesia yang telah melakukan upaya untuk membebaskan mereka dari hukuman mati. Saat pertemuan berakhir, Sersan KKO Usman memberikan aba-aba, dan keduanya memberi hormat  kepada para utusan. 

17 Oktober 1968 Pukul 05.00 subuh kedua tawanan itu dibangunkan oleh petugas penjara, kemudian disuruh sembahyang menurut agamanya masing-masing. Setelah melakukan sembahyang Usman dan Harun dengan tangan diborgol dibawa oleh petugas ke kamar kesehatan untuk dibius. Dalam keadaan terbius dan tidak sadar masing-masing urat nadinya dipotong oleh dokter tersebut, sehingga mereka berdua lumpuh sama sekali. Lalu Usman dan Harun dibawa menuju ke tiang gantungan. 

Kamis 17 Oktober 1968 (Radjab 1388) pukul 06.00 pagi waktu Singapura. Harun meninggal di Singapura, pada umur 21 tahun. ia dihukum gantung oleh pemerintah Singapura.

Presiden Suharto langsung mengeluarkan pernyataan bahwa Usman dan Harun dari KKO-AL diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

17 Oktober 1968 Pukul 10.30 kedua jenzah baru diizinkan dibawa ke Kedutaan Besar RI

 17 Oktober 1968 pukul 14.00 jenazah diberangkatkan ke lapangan terbang dimana telah menunggu pesawat TNI—AU. yang akan membawa kedua jenazah tersebut ke Tanah Air.

 Setibanya di Indonesia,  jenazah kedua Pahlawan itu diterima oleh Panglima Angkatan Laut Laksamana TNI R. Muljadi dan disemayamkan di Aula Hankam Jalan Merdeka Barat sebelum dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.

17 Oktober 1968 Pukul 14.35 pesawat TNI—AU yang khusus dikirim dari Jakarta meninggalkan lapangan terbang Changi membawa kedua jenazah yang telah diselimuti oleh dua buah bendera Merah Putih

18 Oktober 1968 pukul 13.00 siang, sesudah sembahyang Jum’at, kedua jenazah diberangkatkan dari Aula Hankam menuju ke tempat peristirahatan yang terakhir  di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.

Bertindak sebagai Inspektur Upacara adalah Letjen Sarbini. Atas nama Pemerintah Letjen Sarbini menyerahkan kedua jasad Pahlawan ini kepada Ibu Pertiwi dan dengan diiringi doa semoga arwahnya dapat diberikan tempat yang layak sesuai dengan amal bhaktinya. Dengan didahului tembakan salvo oleh pasukan khusus dari keempat angkatan, peti jenazah diturunkan dengan perlahan-lahan ke liang lahat.

Pemerintah telah menaikkan pangkat mereka satu tingkat lebih tinggi yaitu Usman alias Janatin bin Haji Muhammad Ali menjadi Sersan Anumerta KKO dan Harun alias Tohir bin Mandar menjadi Kopral Anumerta KKO. Sebagai penghargaan Pemerintah menganugerahkan tanda kehormatan Bintang Sakti dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional.

Sumber :

http://www.polarhome.com/pipermail/marinir/2005-November/000960.html
http://toparmour.blogspot.com/2011/03/usman-dan-harun-pahlawan-dwikora-yang.html
http://id.shvoong.com/law-and-politics/international-relations/2138748-sersan-usman-1943-1968-dan/

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Gresik dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

10 Balasan ke Harun alias Tohir bin Mandar Kopral Anumerta KKO, Bawean Gresik

  1. bobikeren berkata:

    MENGAPA PEMERINTAH RI TIDAK BERUSAHA MEMBEBASKAN MEREKA…???? APAPUN CARANYA….. PERANG-PERANG SEKALIAN…. ARRRGGGGHHH

    • hermawan mt berkata:

      Lebih baik pulang nama dari pada gagal dalam bertugas,demi tanah air,jangan pernah kau bertanya apa yg negara berikan untukmu tapi laksanakanlah apa yg bisa kau persembahkan untuk negaramu/anak cucumu

  2. donal zebua berkata:

    secara pribadi. bangga kepada ke 2 pahlawan kita ini.
    jd singapura tdk berhak melarang bangsa kita. memberi nama kapal perang kita. USMAN HARUN.
    negara harus menghormati ke dua pahlawan kita ini. dgn memberi nama jalan. atau nama pelabuhan.
    krn jasa2 mereka terhada negara ini.
    semoga arwah ke 2 pahlawan kita ini.
    mendptkn tmpt di sisi tuhan yg maha esa..
    Aminn..

  3. setiawan berkata:

    bravo usman dan harun, kobarkan semangat usman dan harun di bumi pertiwi indonesia ini

  4. Inoe Eswe berkata:

    Selamat jalan ke Surga Pahlawanku……seluruh rakyat Indonesia menangis, terharu dan bangga melihat perjuanganmu…….

  5. lddi berkata:

    gimana ya…gue bingung, ngebom Md donal negara lain kok disebut pahlawan ?, trus yg ngebom di Indonesia apa juga pantes disebut pahlawan..??? seperti orang malaysia Dr Azhari Hussin dan Noordin M Top yg tertembak mati densus 88 karena melakukan pengeboman di Indonesia.

    • mahdi langit ramadhan berkata:

      situasi nya yg berbeda mungkin bung iddi

      • udoyono bahari berkata:

        saat itu masih dalam kondisi perang,buktinya mereka mengajukan sebagai tahanan perang mekipun ditolak karena saat ditangkap tidak mengenakan pakaian dinas.

  6. Agus Suyono berkata:

    saluuut… TNI memang berani mati membela negara….meski nyawa taruhannya.bravo TNI

  7. boingjoker berkata:
    Gani bin Arup
    Sayang sekali dalam tulisan artikel diatas tidak ada lagi ulasan nama Gani bin Arup. Bukankah operasi ini dilakukan oleh tiga orang? Tentu saja mereka masing2 mempunyai andil yang sama besar dalam melaksanakan tugas operasi ini.
    Gani bin Arup tidak tertangkap, semestinya dia berhasil kembali kepangkalan operasi dan melaporkan hasil tugas operasinya kepada pimpinannya. Namun dimanakah keberadaan Gani bin Arup? Tak ada kabar berita yang menuliskan tentang dirinya. Kalau toh seandainya dia berhasil kembali kepangkalan operasi, sudah tentu dia juga mempunyai jasa yang sama besar dengan Usman dan Harun dan sudah selayaknya mendapatkan kehormatan sebagai pahlawan. Tapi Gani bin Arun bagai hilang ditelan bumi. Saya pribadi, baru mengetahui ada nama Gani bin Arun disamping Usman dan Harun. Kalau benar Gani telah bergabung kedalam kesatuannya setelah melaksanakan tugas operasi tersebut saya rasa negara kurang adil dalam memberikan penghormatan atas jasa2 beliau sekaligus media juga kurang adil dalam pemberitaan mengenai sepak terjangnya yang heroik.
    Atau telah terjadi sesuatu atas dirinya?
    Bagi yang mempunyai info silahkah melengkapi.
    Terima kasih….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s