Ratno Timoer, Surabaya


ratna_timoer8 Maret 1942, Ahmad Suratno lahir di Surabaya, Jawa Timur, yang akhirnya dikenal luas dengan nama Ratno Timoer . Aktor merintis karier mulai dari bawah, selain sebagai aktor, ia juga berperan sebagai penulis skenario, sutradara, dan produser film.

Tahun 1960, sebagai figuran “Si Pendek dan Sri Panggung“.

Tahun 1963, menjadi pembantu unit dalam film Daerah Tak Bertuan.

Tahun 1964, mendapat peran pembantu dalam film “Diambang Fadjar” arahan sutradara Pietrajaya Burnama.

 dan “Ekspedisi Terakhir“.

Tahun 1965, membintangi, “Karma“; “Madju Tak Gentar“; “Matjan Kemajoran” arahan sutradara Wim Umboh dan “Tjinta Diudjung Tahun“.  

Tahun 1966, membintangi “Fadjar Di Tengah Kabut

Tahun 1967, membintangi, “2X24 Djam“; “Sembilan” dan “Sendja Di Djakarta“.

Tahun 1968, barulah  mendapat peran utama pada film “Djakarta-Hongkong-Macao” yang disutradarai Turino Djunaidy.

Tahun 1969, membintangi “Laki-Laki Tak Bernama“; “Orang-Orang Liar”  dan “TantanganBernafas dalam Lumpur

Tahun 1970,  menikah dengan Tien Samatha, dikaruniai lima anak dan sepuluh cucu,  yang setia mendampinginya sampai akhir hayat. mendirikan PT. Daya Isteri Film, dimana ia jadi direktur dan isterinya Tien Samatha jadi produser. Melalui PT. Daya Isteri Film ia bersama isterinya telah memproduksi sebanyak 45 film, baik itu film cerita, dokumenter, semi dokumenter dan iklan. 

Tahun 1970, membintangi “Dan Bunga-Bunga Berguguran“; “Djalang“; “Honey, Money And Djakarta Fair” dan “Si Buta Dari Gua Hantu“.   

Tahun 1971, membintangi “Impas“; “Malam Jahanam“; “Mistri di Borobudur“; “Pendekar Bambu Kuning”  serta Perawan Buta“.

Tahun 1972, membintangi “Dendam Si Anak Haram“; “Lima Jahanam“; “Pahalawan Goa Selarong“;   “Si Bongkok” dan pada film “Jangan Kau Tangisi”  Sebagai sutradara pertama kali melalui perusahaannya sendiri.

Tahun 1973, membintangi “Manusia Terakhir” serta “Sebatang Kara“.   Lewat film Pendekar Bambu Kuning, di Seoul, Korea Selatan. Sebagai Aktor Terpopuler di Asia dalam Festival Film Asia Pasifik

Tahun 1974, membintangi “Melawan Badai“;  “Bobby“; “Ratapan dan Rintihan”  untuk film”Anak Bintang” dan Kuntilanak“- sebagai aktor dan sutradara

Tahun 1975, membintangi “Cinta“;  “Surat Undangan”  dan di film “Pelacur”  sebagai aktor dan sutradara

Tahun 1976, Aktor Terbaik dalam Festival Film Indonesia (FFI) di Bandung lewat film Cinta, arahan sutradara Wim Umboh.

Tahun 1976, membintangi, “Pengakuan Seorang Perempuan”  serta empat film lagi – sebagai aktor dan sutradara antara lain: “Antara Surga dan Neraka“; “Ciuman Beracun“;  “Gadis Panggilan” dan  “Perempuan Histris“.  

Tahun 1977, membintangi “Istriku Sayang Istriku Malang” dan  “Raja Pungli“.  Serta empat film lagi – sebagai aktor dan sutradara antara lain: “Assoy“;  “Reo Manusia Srigala“;  “Si Buta Dari Gua Hantu: Sorga Yang Hilang“; “Si Buta dari Gua Hantu: Duel di Kawah Bromo”  

Tahun 1978, sebagai aktor dan sutradara pada film “Goyang Sampai Tua”   dan “Sirkuit Cinta“.

Tahun 1979, membintangi “Anna Maria” dan  “Sepasang Merpati”  sedangkan pada film “Benci Tapi Rindu” dan  “Kau dan Aku Sayang”  sebagai aktor dan sutradara.

Tahun 1980, membintangi dan sebagai sutradara “Janjiku Pada Dia“;  “Karena Lirikan” dan “Salome

Tahun 1981, membintangi “Gundala Putera Petir”  dan “Setetes Kasih Di Padang Gersang pada film “Dendam Manusia Harimau dan”Gondoruwo”   – sebagai aktor dan sutradara

Tahun 1982, membintangi  “Lebak Membara“; “Nyi Blorong“; “Sankuriang”  serta pada film “Jin Galunggung”  – sebagai aktor dan sutradara

Tahun 1983-1986, 1986-1989, 1989-1992 dan 1992-1996. mejabat sebagai Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Artis Film Indonesia (Parfi). di masa Orde Baru sangat terhormat dan strategis—karena berarti langsung jadi anggota MPR.

Tahun 1983, membintangi “Nyi Ageng Ratu Pemikat“, pada tiga film berikutnya sebagai sutradara “Golok Setan“;  “Pelayan Gedongan”  dan  “Terjebak Dalam Dosa“.   

Tahun 1984, membintangi “Usia Dalam Gejolak” pada film “Gadis Berwajah Seribu”  sebagai sutradara sedangkan pada film “Gadis Berdarah Dingin”  sebagai aktor dan sutradara

Tahun 1985, membintangi “Melintas Badai“; “Preman” serta “Sunan Kalijaga dan Syech Siti Jenar“, sedangkan pada film “Si Buta dari Gua Hantu”  sebagai aktor dan sutradara

Tahun 1986, membintangi film “Biarkan Bulan Itu“.

Tahun 1987, membintangi film “Luka Di Atas Luka”  dan pada film “Neraka Perut Bumi”  sebagai aktor dan sutradara

Tahun 1988, sebagai sutradara di  film “Rimba Panas“.

Tahun 1989-1995, menjadi anggota Dewan Film Nasional, Penasihat Teknis Panitia Tetap (PANTAP) FFI, dan Aktor yang aktif di Departemen Seni Budaya Golkar

Tahun 1989 “Pembalasan Setan Karang Bolong sebagai sutradara dan “Syeh Siti Kobar Membangkang”  sebagai aktor dan sutradara.

Tahun 1992-1997 dan 1997-1999, menjadi anggota MPR-RI dari utusan Golongan,

 22 Desember 2002 pada usia 60 tahun meninggal, karena serangan jantung dan stroke, setelah 9 hari dirawat di rumah sakit Pelni Petamburan, Jakarta Barat.

=S1Wh0T0=

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Sosok, Surabaya, Th. 2012 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s