Seblangan, Kabupaten Banyuwangi


Seblangan di Kelurahan Bakungan.

Yang dimaksud dengan Seblangan adalah suatu kegiatan pementasan kesenian yang disebut Sebiang, yaitu suatu bentuk kesenian yang bersifat sakral ritual, yang diselenggarakan pementasannya dalam rangka upacara atau selamatan desa yang disebut “Bersih Desa” Bakungan sendiri pada perkembangan sekarang ini te­lah berubah statusnya menjadi kelurahan, yaitu penye­butan untuk wilayah terkecil setingkat Desa menurut strukturnya pemerintahan yang berada di dalam wila­yah kecamatan perkotaan.

Sekilas mengenai Kesenian Sebiang.

Kehidupan masyarakat Bakungan mulai ter­bentuk diperkirakan bersamaan waktunya dengan masa kejayaan Kerajaan Blambangan akhir, yang pada saat itu Blambangan diperintah oleh sang Raja bernama Prabu Tawang Alun, beribu kota di Macan Putih, lokasinya terletak di Kecamatan Kabat sekarang.

Salah satu bukti sejarah bahwa di Cungking, yaitu suatu dusun yang berdekatan langsung dengan Kelurahan Bakungan terdapat makam Buyut Wongsokaryo atau terkenal dengan Buyut Cungking, yang berdasarkan berbagai catatan dan kepercayaan masyarakat adalah seorang Guru Sakti dari raja Tawang Alun.

Benda-benda milik Buyut Wongsokaryo berikut berbagai bentuk upacara pemeliharaannya masih hidup secara lestari dilingkungan masyarakat Bakungan dan Cungking yang merasa sebagai pewaris dari Buyut Cungking. Benda-benda kuno peninggalan Buyut Cungking tersebut antara lain berupa berbagai bentuk pusaka, barang- barang keramik dan perkakas yang lain serta perkakas rumah tangga yang bersifat lama dan masih terawat dengan baik sampai sekarang.

Adapun berbagai kegiatan upacara yang masih berlangsung sampai sekarang antara lain berbentuk Seblangan Resik Kagungan dan Selamatan di Balai Tajuk.

Khususnya mengenai kegiatan upacara Sablangan, di Kabupaten Daerah Tingkat II Banyuwangi hanya terdapat di Kelurahan Bakungan dan di Desa Oleh dari, kedua-duanya berada di wilayah Kecamatan Glagah, masing-masing terletak 2 Km dan 6 Km dari kota Banyuwangi, tetapi pada sekitar tahun 1940 -an di Desa Mangir, Kecamatan Rogojampi terdapat bentuk kesenian yang disebut “Sayang”, yang mempunyai prinsip dan motif yang hampir sama dengan kesenian Sebiang.

Penari Sayang ini terdiri dari seorang pria. Pada saat sekarang kesenian “Sayang” tersebut sudah tidak ada lagi. Keberadaan bentuk kesenian Sanyang ini dituturkan oleh seorang tokoh kesenian Gandrung di desa Mangir bernama Perangkat Pementasan Seblang.

Penari.

Penari Seblang biasanya selalu diambil dari keluarga yang ada hubungan darah dengan penari sebelumnya. Podo’ pada masa hidupnya.

Pawang.

Pawang ini berfungsi sebagai sesepuh dalam pementasan Sebiang. Pawang dengan segala menteranya dapat membuat penari Sebiang kesurupan, disamping itu bertanggung jawab pula atas berbagai kelengkapan upacara pementasannya.

Pengrawit.

Terdiri dari orang-orang pria yang bertugas sebagai penabuh gamelan, membunyikan gending- gending yang diperlukan dalam pementasan.

Pesinden.

Bertugas sebagai vokalis dalam mengiringi gending-gending yang dipentaskan.

Pengundang.

Terdiri dari dua orang, seorang pria dan seorang lagi wanita, yang bertugas sebagai pelawak yang mampu menyegarkan suasana pementasan dan sebagai penghubung bagi penari Sebiang dengan para pelaku-pelaku pementasan yang lain.

Gamelan.

Sebagai gamelan pengiring untuk pementasan kesenian Sebiang disediakan seperangkat gamelan yang jumlah dan bunyi instrumennya mirip dengan perangkat gamelan Jawa, bernada slendro, yaitu ter diri dari : kendang, gong, bonang, demung, saron, biola dan kencer.

Sesaji.

Sebagai kelengkapan pokok yang tidak boleh ditinggalkan adalah berupa sesaji yang terdiri dari :

10 Kg beras 2 kg beras ketan 6 ekor ayam 5 buah tumpeng Jenang sengkolo 5 butir kelapa kecil 4 butir kelapa kecil 2 kerak gula merah gula dan kopi damar kembang, kemenyan dan Suntingan (sujenan kembang telon).

Semua rangkaian sesaji ini ditempatkan diatas sebuah lincak berukuran 2 x 2 m dihiasi dengan daun beringin, daun kelapa muda, tebu lengkap dengan daun-nya, diatur sedemikian rupa sehingga merupakan suatu bentuk mirip bangunan yang disebut dengan istilah “Sanggar”.

Penempatan “Sanggar” diatur dalam posisi berhadap-hadapan dengan letak gamelan membentuk arena yang digunakan sebagai temapat menari bagi Sebiang berikut pengundangnya.

Dari rangkaian sesaji tersebut yang paling me-nonjol adalah bentuk “Suntingan bunga telon”, yang nanti setelah saatnya kembang telon dibagikan kepada pe-nonton dan undangan. Menurut keper­cayaan masyarakat setempat kembang telon tersebut dapat difungsikan sebagai sarana pertemuan jodoh muda-mudi, penolak balak atau wabah penyakit, sarana kesuburan tanaman dan lain sebagainya.

Waktu pelaksanaan.

Acara Seblangan di Bakungan dilaksanakan pada malam menjelang hari Jum’at dalam minggu ketiga bulan Haji (besar) dimulai ± pukul 20.00 WEB.

Setelah selesai sholat Isak, berlangsung selama ± 4 jam tanpa berhenti, selesai sekitar pukul 24.00 WIB.

Busana.

Perangkat busana yang dipergunakan oleh pena-ri Sebiang dalam pementasan antara lain berupa :

Omprok (mahkota tutup kepala) terbuat dari kain putih dengan hiasan bunga-bungaan yang dicat warna kuning emas dengan kain rumbai berwarna putih.

Kain sarung Stagen

Pending (ikat pinggang terbuat dari logam).

Gongseng

Gelang tangan

Sampur dan

2 bilah keris

Pelaksanaan kegiatan.

Selamatan atau Kenduri Massal.

Pada lebih kurang pukul 18.00 WIB setelah selesai melakukan sholat Maghrib seluruh keluarga kelurahan utamanya dusun Bakungan telah barsiap diri untuk mendukung secara Seblangan. Mereka mengeluarkan tikar di halaman rumah masing-ma- sing digunakan sebagi tempat menyajikan tumpeng untuk kenduri massal yang dimulai ± pukul 19.00 yaitu setelah selesai menyelenggarakan acara Ider Bumi.

Ider Bumi.

Pada + 20.00 WIB yaitu setelah selesai sholat Isak sesepuh desa yang biasanya juga berperan sebagai sesepuh/iman sholat tersebut diikuti oleh

makmumnya beserta beberapa orang dari anggota masyarakat Bakungan melaksanakan acara “Ider Bu­mi”, yaitu mengelilingi seluruh perbatasan Dusun Bakungan, sambil membawa obor atau lampu ke­lompok masyarakat yang mengelilingi kampung ter­sebut membaca sholawat dan takbir.

Biasanya akhir rute kegiatan Ider Bumi selalu berakhir didepan masjid dimana mereka memulainya, kemudian bersama-sama menuju ke Balai Dusun untuk berkenduri bersama-sama. Bebe­rapa anggota keluarga yang tidak ikut hadir dalam kenduri di Balai dusun menyelenggarakan sendiri kegiatan kenduri di depan rumah masing-masing, yang sebagai pertanda dimulainya acara kenduri tersebut biasanya Kepala Kelurahan memukul kentongan.

Pelaksanaan Pementasan. Persiapan.

Setelah selesai acara Ider Bumi dan selamat­an (kenduri), gamelan mulai ditabuh dengan mem­bunyikan gending-gending pengisi waktu menjelang pementasan, sementara itu penari Sebiang mulai berhias dibantu periasnya, pawang mulai bertugas melengkapi berbagai materi kelengkapan sesaji dan kelengkapan-kelengkapan yang lain. Kegiatan ini dilaksanakan di rumah penari Sebiang.

Setelah penari Sebiang siap melaksanakan tu­gasnya, pawang mulai membacakan mantera sambil membakar kemenyan. Pada akhir membaca mantera- nya biasanya pawang menepuk tanah tiga kali, tak lama kemudian penari Sebiang kesurupan. Pada saat-saat seperti itu biasanya gamelan diperintahkan untuk membunyikan gending Kebo Giro, kemudian dengan dipapah oleh kedua orang pengundangnya, sambil memegang kedua bilah keris Penari Sebiang

berjalan menuju ke tempat pementasan, langsung didudukkan di “Sanggar” yang telah tersedia. Dalam keadaan seperti biasanya merupakan pertanda pe­mentasan kesenian Sebiang siap untuk dimulai.

Pementasan.

Suasana siap melakukan tugas bagi para perangkat penyelenggaraan pementasan akhirnya di­isi dengan penampilan gending pertama yang disebut Sebiang Lakento. Gamelan ditabuh, penari mulai menari dengan gerak-gerik yang sederhana yang bersifat khas dari bentuk tarian Sebiang, kemudian Pengundang memulai juga mendampingi penari Seb­iang sambil -menirukan berbagai gerak tarian Penari Sebiang biasanya ditambah juga dengan gerak-gerik gecul untuk memeriahkan suasana.

Dalam rangkaian penampilan lagu-lagunya ada yang di sebut Gending Mendem Gadung. Pada saat ini biasanya petugas yang lain menjajahkan kembang telon yang disebut degan istilah “Ider Kembang”, untuk satu sunting biasanya diganti dengan uang sebesar antara Rp. 25,00 sampai tak terbatas sesuai dengan keikhlasannya. Pada saat ini biasanya sangat disenangi oleh para remaja, dengan kepercayaan bahwa suntingan kembang telon ter­sebut dapat dipergunakan sebagai sarana sukses dalam pergaulan dan pertemuan jodoh.

Pada saat berbunyi gending Nyaring Iwak biasanya di jaringlah dua orang anak untuk diajak terlibat dalam penampilan gending berikutnya yang disebut dengan gending Paman Tani. Kedua orang anak tersebut diperintahkan untuk merangkap mirip sepasang sapi untuk meragakan gerak membajak di sawah.

Penutup.

Sebagai akhir pelaksanaan pementasan, bi­asanya dibunyikan gending erang-erang. Pada saat ini penari Sebiang menari dengan memainkan keris, bahkwan kadang-kadang mengejar penonton kalau ada diantar a mereka yang menggoda. Gerak tarinya menggambarkan gerak perang-perangan dan pada akhir tarian dipeganglah bendera merah putih seba­gai lambang kemenangan, pada saat ini biasanya waktu menunjukkan jam 24.00 WIB.

Catatan :

Penyelenggaraan upacara Seblangan di Olehsari memiliki berbagai perbedaan baik mengenai usia penari, perangkat gamelan, maupun waktu penye­lenggaraan pementasannya. Namun pada prinsipnya memiliki berbagai persamaan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Buku Petunjuk Obyek Wisata di Sepuluh Daerah Tingkat II di Jawa Timur, hlm. 54-59

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Kesenian dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s