Hadrah Kuntul, Kabupaten Banyuwangi


Hadrah kuntul, atau lebih dikenal dengan nama hadrah kun- tulan atau kuntulan saja, adalah salah satu di antara kesenian khas daerah Banyuwangi yang masih tetap hidup dengan subur dan berkembang dengan baik di beberapa daerah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi. Hadrah adalah nama jenis kesenian atau organisasi kesenian yang banyak terdapat di seluruh Jawa Timur, dengan jenis peralatan yang khas berupa alat musik bersifat ritmis, yang disebut terbang.

Karena alatnya itu, kesenian ini juga biasa disebut terbangan, yaitu jenis kesenian yang bernafaskan ajaran agama Islam dalam bentuk nyanyian atau pujian salawat bagi Nabi Besar Muhammad SAW. dalam rangka syi’ar Islam di daerah. Kuntulan, berasal dari kata kuntul, yaitu nama sejenis burung yang berbulu putih. De­ngan demikian, hadrah kuntulan adalah kesenian yang telah me­ngalami perkembangan dan perubahan karena kemajuan atau pengaruh situasi kelilingnya; antara lain dalam penampilannya para pemain mengenakan pakaian atau seragam yang menyerupai bentuk atau warna burung kuntul, yaitu celana, hem lengan pan­jang, dan berkaos tangan yang semuanya berwarna putih. Di sam­ping itu pemain masih mengenakan semacam peci warna kuning atau biru dengan motif burung kuntul. Lagu dan nyanyian yang ditampilkan, dalam perkembangan, di samping yang bernafaskan agama, juga lagu perjuangan, lagu Melayu, lagu daerah Blambang- an, dan lain-lain. Untuk lebih menarik dan sesuai, biasanya peralat­an atau instrumennya lebih dilengkapi dengan semacam gende­rang besar yang disebut jedor, seruling, tenor, dan sebagainya. Ada juga yang dilengkapi dengan akordion, gitar, dan masih ba­nyak yang lain.

Ditilik dari segi penampilan peralatannya, kesenian ini sulit dikatakan asli dari daerah Banyuwangi, walaupun hanya terdapat di daerah itu. Secara umum dapat disimpulkan bahwa kesenian ini termasuk kesenian yang berbau keagamaan, berasal dari bentuk

samanan, yaitu kesenian dengan memakai peralatan terbang dan bertujuan untuk syi’ar agama Islam.

Hadrah kuntulan termasuk jenis kesenian hiburan, mengan­dung nilai keagamaan, walaupun bukan berarti penampilannya khusus untuk kegiatan upacara agama. Sebagai kesenian hiburan, sekarang lebih banyak menjurus kepada hiburan masyarakat sehingga sering dipentaskan untuk keluarga yang mempunyai hajat perkawinan atau khitanan. Ciri khas penampilannya banyak dipengaruhi pencak silat, namun lepas dari sifat bela diri.

Organisasi hadrah kuntulan yang lebih maju dan lebih kaya, biasanya mempunyai peralatan lebih banyak, dilengkapi peralat­an musik modern untuk orkes Melayu, berupa akordion, bas- gitar, dan lain-lain. Bahkan ada pula organisasi kesenian hadrah kuntulan yang sengaja memenuhi selera masyarakatnya, terutama para penggemarnya, dengan menampilkan para vokalis lagu melayu. Walaupun demikian, sifat tradisionalnya yang dominan tetap tidak ditinggalkan, dan biasanya penampilan lagu melayu itu hanya mereka tampilkan pada saat acara selingan.

Pada acara hiburannnya, hadrah kuntulan menampilkan tarian dan nyanyian yang unik sekali dan khas Banyuwangi, yaitu mengarah kepada bentuk silat. Salah satu gerakannya, mi­salnya, kedua belah tangan terbuka dan bergetar kiri dan kanan berganti-ganti ke atas dan ke bawah dengan sikap menengadah dan melihat ke bawah berganti-ganti pula mengikuti irama je- dor dan terbang bervariasi. Seluruh pemain, berjumlah tidak lebih dari 20 orang laki-laki, 12 orang di antaranya sebagai pemukul instrumen, dan 8 orang berfungsi sebagai rodat ‘penari’. Dalam penampilannya, seorang rodat yang disebut pantus berfungsi se­bagai dalang atau pembawa acara. Pantus pada kesenian ini hampir sama dengan satu pada angklung Banyuwangi, karena itu harus lebih mahir. Rodat yang lain selalu menurut perintah pantus, dan biasa timbul gerakan ber­beda apabila ada rodat yang kurang memperhatikan kehendak pantus. Kuntulan yang baik, gerakannya akan seragam, sesuai dengan perintah pantus. Kadang-kadang seorang rodat menari dan menyanyi dengan bentuk tari yang sesuai dengan lagu yang dibawakannya, sedangkan rodat yang lain menari dengan gerak­an seragam bersama-sama sambil mengimbangi rodat yang satu itu (tari rodat kombinasi), diiringi bunyi gamelan,. Setelah se­lesai, diganti rodat lain yang melakukan cara yang sama, dengan tarian yang berbeda selama satu atau dua lagu, terus-menerus bergantian.

Kesenian ini terus-menerus menghibur penonton sepanjang malam. Apabila perlu istirahat karena lelah, dengan kata-kata manis sang pantus menyampaikan maksudnya kepada anggota rodat maupun kepada penonton, dan sebagai acara selingan segera tampil para vokalis yang juga termasuk anggota kelompoknya dengan iringan peralatan orkes Melayu.

Pemukul instrumen terdiri dari 12 orang, 9 orang sebagai pemukul terbang dengan fungsi sebagai pengiring lagu, 2 orang sebagai pemukul jedor kecil dengan fungsi sebagai pemberi aba- aba irama dan ritmenya, dan seorang sebagai pemukul jedor be­sar yang berfungsi sebagai gong. Iramanya disesuaikan dengan

irama lagu dan gerak tari. Kadang-kadang cepat seperti irama pencak silat, kadang-kadang berubah lembut jika mengiringi lagu yang syahdu. Dalam peralihan itu, pantus memegang paranan yang menentukan, sedangkan keindahan warna pukulan pada instrumen tergantung kepada kecakapan dan kemahiran anggota pemukulnya memainkan instrumen yang khas itu.

Kesenian hadrah kuntulan memerlukan pentas atau pang­gung berukuran kira-kira 7 x 7 m, dalam bentuk arena terbuka atau di bawah tarob, yaitu sejenis bangunan sementara dari tenda atau welit sebagai atap tanpa latar belakang. Pagelarannya biasanya dilakukan pada waktu malam, dan lamanya tergantung kepada pengundang atau penyewanya, sesuai dengan hajat pengun­dang itu sendiri, untuk perkawinan, khitanan, atau sekedar ulang tahun.

Penampilannya lebih meriah lagi jika dengan sengaja pengun­dangnya mendatangkan dua kelompok kesenian kuntulan sehing­ga terjadi hadrah kuntulan caruk ‘hadrah kuntulan berlomba’. Kedua kelompok kuntulan yang akan bermain bergantian mengadu kecakapan dan saling menunjukkan kekayaan variasi pukulan atau aransemen mereka masing-masing, siap di pang­gung.

Pertunjukan semacam itu tidak ada panitiannya, dan tidak per­lu pula dibentuk tim penilai atau dewan juri. Penonton sekaligus bertindak sebagai juri: siapa yang mendapat banyak sambutan penonton dengan positif, tepukan meriah, atau pendapat simpati dan sanjungan penonton, itulah yang dinyatakan menang.

Teknis penampilan hadrah kuntulan adalah sebagai beri­kut.

Pertama-tama muncul satu persatu ke atas pentas 12 penabuh instrumen, membawa peralatannya masing-masing; mula-mula 9 orang pemukul terbang yang membawa terbang ditangan- nya, diikuti dua orang pemukul jedor kecil, dan akhirnya pemukul jedor besar. Mereka membentuk formasi dengan melihat situasi dan kondisi pentas; biasanya penabuh ter­bang berderet lurus dari arah depan ke belakang atau se­rong sebelah kiri atau kanan pentas. Di kedua ujung, ber- tempat jedor besar dan jedor kecil. Biasanya mereka ber­pakaian seragam kesenian daerah Blambangan.

b)         Setelah regu pemukul menempati formasi, mereka mulai membunyikan instrumennya sebagai tanda perkenalan kepa­da para penonton sambil menunjukkan kemahiran cara me­mukul, sebelum rodat muncul. Ini hanya satu teknik saja, ada teknik lain yang menampilkan pemukul instrumen dan rodat bersama-sama sejak awal.

c)         .   Setelah berdemonstrasi dengan pukulannya, tiba-tiba mereka mengurangi suara pukulannya dengan irama pelan, dan pada saat itu muncul para rodat dengan pakaiannya yang khas dan membentuk formasi, biasanya bersebelahan dengan penabuh instrumen dan menghadap penonton atau para undangan.

d)         Dengan aba-aba pantus, rodat maulai menarikan tari ucap­an selamat datang kepada para penonton, dimulai dengan ragam pembukaan. Ada yang disebut ragam duduk, menari dengan sikap duduk, ragam berdiri, menari dengan sikap ber­diri, ragam baris, ragam hormat, dan sebagainya.

e)         Pantus mulai memegang peranan pada permainan inti. Kadang-kadang seorang rodat menari dengan lincah di ha­dapan rodat lainnya yang bertindak sebagai latar, diselingi gerak ragamnya. Rodat itu bergantian maju menari sampai jauh malam, dan bahkan sampai terbit fajar.

Biasanya setiap organisasi kesenian kuntulan mempunyai jenis lagu atau nyanyian untuk lagu penutupnya, di samping itu ada pula bentuk tari yang disebut ragam penutup.

Untuk mengisi waktu istirahat setelah beberapa jam tam­pil di atas pentas, mereka mempersiapkan acara khusus, biasanya dalam bentuk lagu oleh para vokalisnya dengan iringan semacam orkes melayu. Kesenian ini tidak begitu menonjolkan tata rias para pemainnya, mereka mengatur dan merias dirinya sendiri, dan tidak menyulitkan karena semuanya laki-laki. Pakaian rodat terdiri dari:

a)          Tutup kepala berwarna putih, berbentuk peci. Sepanjang tepi bagian atas arah memanjang, ada tambahan hiasan garis dan umbai-umbai warna kuning atau hiasan yang lain menurut selera, mengingatkan kita kepada bentuk kepala seekor bu­rung.

b)          Kemeja putih lengan panjang, berbentuk setengah jas dengan hiasan garis warna kuning, berumbai sepanjang lengan kiri dan kanan, bagian dadanya dihias umbai warna kuning, merupakan dua garis bertemu membentuk sudut menghadap ke atas. Kemeja itu dipakai di luar celana.

c)          Celana putih dengan garis warna kuning kiri dan kanan, seperti yang terdapat pada pakaian latihan olah raga. Ba­hannya tergantung kemampuan, biasanya kain sejenis tek- teks atau sebangsanya.

d)          Sepasang kaus kaki warna putih, tanpa sepatu atau yang lain.

e)          Kaos tangan putih.

Tata busana itu tidak merupakan keharusan, baik bentuk maupun warnanya, tergantung selera dan kemampuan organi­sasi masing masing yang penting bentuk ukuk adalah motif bu­rung semacam kuntul

Busana pemukul instrumen, pada umumnya tidak ditentukan, me­nurut kemampuan yang ada saja, hanya harus seragam, biasanya dengan kain batik melilit pada perut, dan bersongkok hitam. Para pemukul instrumen umunya lebih tua daripada rodat, se­kitar 40-50 tahun, sedangkan rodat umumnya tergolong pemuda atau bahkan remaja. Sampai sekarang belum ada anggota wani­ta.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: TopengSudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, hlm. 36-41

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Kesenian dan tag , , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Hadrah Kuntul, Kabupaten Banyuwangi

  1. syaiful ikhsan berkata:

    Pak H.Mukhsin merupakan Pengrajin Hadroh-rebana Jepara yang sudah menggeluti bidangnya mulai tahun 1980. Dikalangan pecinta alat music timur tengah – Hadroh – Banjari pak H.Mukhsin cukup dikenal dengan produk-produknya.
    Pemilihan bahan Kayu – Kulit serta pengerjaan yang sangat hati-hati membuat produk H.Mukhsin mempunyai nilai tersendiri dengankualitas yang terbaik.

    Kami Toserba Pesantren menjual berbagai macam alat musik Banjari Produk H.Mukhsin. Mulai dari rebana – Hadroh – Bass Tangan – Bass Stel (Menggunakan Stik) – Dumbuk Calty – Gendong – Ketipung – Marawis/Keplak dan Terbang persegi 6-8.

  2. Ping balik: Celana Warok Ponorogo - Tips Baju Pria & Cowo

  3. Ping balik: Celana Pantai Quiksilver - Tips Baju Pria & Cowo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s