Harmoko, Kabupaten Nganjuk


harmoko7 Februari 1939, Harmoko lahir di Patianrowo-Kertosono, Nganjuk, Jawa Timur, Indonesia.

Ia menempuh studi dari Sekolah Rakyat, Sekolah Menengah Pertama, dan Sekolah Menengah Atas.

Semasa muda, pernah terlibat aktif dalam Himpunan Budaya Surakarta dan mengikuti pendidikan jurnalistik serta sempat menjajal Kursus Reguler Angkatan VII pada Lembaga Ketahanan Nasional.

Tahun 1960-an, setelah lulus dari Sekolah Menengah Atas, Harmoko bekerja sebagai wartawan dan juga kartunis di Harian Merdeka sebagai jurnalis dan kartunis dan Majalah Merdeka.

1 September 1964, Harmoko menjadi wartawan Badan Pendukung Soekarno (BPS), yang dibentuk sebagai wadah perlawanan terhadap pers komunis, Harmoko dikeluarkan dari Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) pasca BPS bubar.

Tahun 1965, sebagai pemimpin redaksi majalah berbahasa Jawa, Merdiko (1965). Harmoko bekerja juga sebagai wartawan di suratkabar Angkatan Bersendjata dan harian API,  

Tahun 1966-1968, Harmoko kembali ke Merdeka sebagai penanggung jawab redaksi sekaligus memimpin redaksi Merdiko, harian berbahasa jawa. Juga sebagai pemimpin dan penanggung jawab Harian Mimbar Kita.

15 Februari 1970, bersama Yachya Suryawinata dan kawan-kawan, Harmoko mendirikan Yayasan Antarkota yang bertujuan untuk mengembangkan usaha penerbitan yang dapat diterima rakyat. Hasilnya, lahirlah suratkabar Pos Kota.

16 April 1970, Harmoko sebagai pemimpin redaksi suratkabar Pos Kota. Adalah ujung tombak pengembangan sumber daya manusia di Pos Kota. Ia pernah mengikuti sebuah konferensi di Filipina bertajuk “One Asia Assembly”. Dalam laporannya yang berjudul Oleh-oleh dari Manila, Harmoko membandingkan peran pers di Filipina dengan di Indonesia. Ia memberi penekanan pada posisi pers dengan pemerintah, apakah akan menjadi “beo” ataukah mampu berperan atas dasar kebebasan pers.

Harmoko 1Tahun 1970-1972, terpilih sebagai Ketua PWI Jaya. Yang sebelumnya sebagai sekretaris.

Tahun 1972- 1983, terpilih sebagai ketua PWI Pusat, selama dua selama periode.

Tahun 1973, Harmoko menerbitkan Pos Sore serta Pos Film dan Pos Mudi. Pada perkembangannya, Pos Sore kemudian berganti nama menjadi Terbit,

13 April 1974, terbentuk  Serikat Grafika Pers (SGP), Harmoko sebagai pengurusnya.

Tahun 1976, Harmoko juga dipercaya sebagai pembantu ahli di majalah Ketahanan Rakyat.

Tahun 1978. Serikat Grafika Pers (SGP) dikukuhkan sebagai satu-satunya organisasi percetakan pers di Indonesia. Harmoko tercatat pula dalam kepengurusan Badan Sensor Film, Konsultan Proyek Pembinaan dan Pengembangan Pers Departemen Penerangan, pengurus Dewan Pers,

Tahun1979, Pos Mudi berubah menjadi Warnasari.

Tahun 1983,  Tiras Pos Kota mencapai angka 200.000 eksemplar. Pada kurun itu, Pos Kota adalah koran yang sangat populer di kalangan menengah ke bawah.

19 Maret 1983, Harmoko manjabat Menteri Penerangan Indonesia ke-22 Masa jabatan 1983-16 Maret 1997. Sebagai menteri Penerangan, Harmoko mencetuskan gerakan Kelompencapir (Kelompok pendengar, pembaca dan pemirsa) yang dimaksudkan sebagai alat untuk menyebarkan informasi dari pemerintah. Harmoko pun dinilai berhasil memengaruhi hasil pemilihan umum (Pemilu) melalui apa yang disebut sebagai “Safari Ramadhan”. . Setelah rezim Orde Baru bubar, Departemen Penerangan dihapus.

Awal Januari 1984, Harmoko memimpin perhelatan besar, Indonesia menjadi tuan rumah Konperensi Menteri Penerangan Nonblok, atau Cominac, yang berlangsung di Balai Sidang Senayan, Jakarta. Menurut Menpen RI, arus informasi dan komunikasi sudah sepenuhnya dikuasai negara-negara maju. Bahkan, pers Barat seringkali mengusik negara-negara Dunia Ketiga dengan pemberitaan yang cenderung negatif sehingga membentuk citra buruk terhadap negara-negara berkembang, termasuk Indonesia beserta sistem persnya. Maka, diselenggarakanlah konperensi yang diikuti 101 negara berkembang itu. Tujuan utamanya adalah, “Untuk mengurangi ketergantungan negara-negara nonblok kepada negara maju akan informasi dan komunikasi,” kata Harmoko.

Tahun 1984-1987, sebagai Wakil Presiden Konfederasi Wartawan ASEAN, serta terpilih sebagai Ketua Inter Goverment Council (IGC) periode.

Tahun 1993-1998, terakhir, Harmoko sebagai Ketua Dewan Perwakilan Rakyat ke-11 Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat ke-9 Masa jabatan 1997 – 1999. Lazimnya tradisi pemerintahan Orde Baru, juga sebagai Ketua Umum Golkar. Mengangkat Soeharto selaku presiden untuk masa jabatannya yang ke-6. Namun dua bulan kemudian Harmoko pula memintanya turun ketika gerakan rakyat dan mahasiswa yang menuntut reformasi tampaknya tidak lagi dapat dikendalikan.

Tahun 1994, terjadilah kebijakan pembredelan suratkabar pada masa Menteri Penerangan Harmoko, salah satunya ketika surat ijin terbit beberapa media, termasuk DeTIK, Tempo, dan Editor, dicabut. Menanggapi opini publik atas peristiwa itu, Harmoko berkilah atas nama undang-undang, “Darah daging saya wartawan, tapi jabatan saya tidak bisa saya lepaskan karena melaksanakan peraturan dan perundang-undangan yang berlaku.” Menurutnya, wartawan harus tahu kode etik jurnalistik agar tak terjerat oleh sanksi dan peraturan. Kepatuhan Harmoko menjadikannya sebagai anak kesayangan Soeharto. Bukan hal yang aneh jika nyaris dalam setiap pernyataannya Harmoko selalu mengawali dengan kalimat: “Menurut petunjuk bapak Presiden.”

Masa pemerintahan Presiden BJ Habibie, Harmoko hanya sempat terlihat sekejap, selanjutnya menghilang tanpa jejak. Namun, perannya di belantika pers nasional patut dihargai. Kiprah Harmoko selama itu bukan hanya sekadar hari-hari omong kosong. Sepak-terjangnya sebagai jurnalis, terutama melalui Pos Kota dan Menteri Penerangan di era Orde Baru, cukup berpengaruh dalam perjalanan sejarah pers Indonesia.=S1Wh0t0=

Sumber:  Tanah, Air, Bahasa: Seratus Jejak Pers Indonesia (IBOEKOE, 2007).

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Nganjuk, Pejabat Negara, Sosok, Th. 1994 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s