Tari Seblang Olehsari, Kabupaten Banywangi


Tari seblang hidup dan berkembang di desa Olehsari dan Mojopanggung (kecamatan Glagah) yang terletak di kaki gunung Ijen. Tarian ini merupakan kesenian adat, dan sampai sekarang masih tetap hidup di kalangan masyarakat Using, walaupun jarang dipentaskan. Tarian yang oleh masyarakatnya dianggap keramat ini hanya dipentaskan pada upacara adat tertentu saja, terutama pada upacara adat bersih desa ‘membersihkan desa. Menurut keterangan, tarian ini menjadi sumber lahirnya tari gandrung Banyuwangi yang sekarang sudah mulai dikenal secara meluas.

Walaupun tari seblang dikenal di dua desa. ternyata di antara keduanya terdapat sejumlah perbedaan. Perbedaan itu ialah antara lain yang berhubungan dengan:hal-hal berikut.

  1. Waktu pementasan. Tari seblang Olehsari dipentaskan pada bu­lan Syawal atau hari raya Idulfitri, selama satu minggu, sedangkan tari seblang Mojo­panggung dipentaskan pada bu­lan Zulhijah pada hari raya ldulkurban, selama satu hari saja.
  2. Penari seblang Oleh­sari terdiri dari para gadis muda, dan setiap tahun ber­ganti, sedangkan penari seb­lang Mojopanggung adalah wa­nita yang sudah berumur, dan tidak mengalami pergantian.
  3. Tata busana dan tata rias. Tata busana dan tata rias seblang Olehsari lebih asli dibandingkan dengan seblang Mojopanggung. Mahkota yang dikenakan penari seblang Olehsari terbuat dari daun-daunan dan bunga-bungaan setempat, sedangkan mahkota penari sebiang Mojopanggung bentuknya hampir sama dengan mahkota tari gandrung Banyuwangi.
  4. Bawaan. Tangan penari sebiang Olehsari hanya membawa sehelai selendang pelangi, sedangkan penari seblang Mojo-panggung membawa sebilah keris terhunus.
  5. Gamelan pengiring seblang Olehsari hanya terdiri dari dua buah saron, sebuah gong, dan kendang,, sedangkan gamelan pengiring tari seblang Mojopanggung merupakan perangkat gamelan yang lengkap.

Karena dianggap keramat, sudah wajar jika untuk mementaskan tari sebiang ini diperlukan persiapan cukup seksama. Pementa-san itu dipimpin oleh seorang laki-laki setengah baya yang berfungsi sebagai dukun atau pawang yang mendatangkan roh dengan mengucapkan mantra dan membakar dupa. Roh itu akan masuk ke dalam raga penari.

Sebagai pemimpin pementasan, dukun harus sudah mempersiapkan segala sesuatu lama sebelumnya. Menurut keterangan, persiapan itu dikeijakan berdasarkan impian sang dukun yang diterima dari roh yang diharapkan hadir Dalam impian itu roh yang bersangkutan biasanya yang dianggap cakal bekal desa menetapkan susunan panitia, penari, penabuh gamelan, pemaju,  pesinden gending banyuwangen, dan tempat pementasan. Semuanya itu tidak boleh diubah oleh siapa pun, dan sang dukun hanya menyampaikannya kepada masyarakat serta melaporkan kepada lurah.

Penari seblang yang ditunjuk dan ditugaskan, bisanya wanita muda yang belum bersuami atau janda yang masih turunan penari gandrung pertama. Jika hal ini tidak dilakukan, akibatnya akan sangat buruk, berupa pageblug, misalnya saja panen gagal atau sawah dan ladang diserang hama.

Penari seblang, setelah kemasukan roh, tanpa sadar menari-nari melengak-lenggok ke kiri dan ke kanan dengan gelengan kepala ke samping kiri dan kanan sambil mengelilingi gelanggang yang penuh sesak. Matanya terpejam, mulutnya terkatup, sedangkan gerakannya santai dan lemah gemulai mengikuti irama gending banyuwangen yang dibawakan para pesinden Using dengan iringan gamelan khas banyuwangen dengan larasnya yang khusus. Walaupun menari tanpa sadar dan mata terpejam, tetapi penari itu seakan-akan dapat melihat, dengan mudah ia menari di antara orang banyak. Dalam menari itu, ia diikuti/disertai oleh seorang pemaju.

Pementasan tari seblang tahun 1978 dilaksanakan dari hari ketiga sampai hari ketujuh Idulfitri, bertempat di salah satu dukuh (dusun) desa Olehsari. Setiap 14.00-17.00 WIB, atau kadang-kadang sampai menjelang magrib, sedangkan persiapannya dimulai kira-kira pukul 13.00 WIB. Menurut keterangan orang tua-tua, pementasan itu ditentukan oleh suara gaib melalui salah seorang penduduk yang tiba-tiba kemasukan roh dan memerintahkan agar segera diselenggarakan pementasan tari seblang, dan jika tidak diindahkan, segenap penduduk desa akan mengalami musibah besar yang mengerikan.

Pada tahun 1978 itu, Surati, seorang janda Olehsari yang baru berusia 25 tahun dan berdarah gandrung di desanya, me­nurut keterangan pak Enan (60 tahun) yang bertindak sebagai dukun, ditunjuk dan ditetapkan sebagai penari seblang berdasar­kan petunjuk Buyut Trasiun, cakal bakal desa. Petugas lain yang ditunjuk pada waktu itu ialah antara lain seorang laki-laki yang rata-rata berusia 40 tahun, sebagai penabuh gamelan pengiring. Sebagai juru rias ditunjuk seorang wanita bernama Suni, dan ditunjuk pula tujuh orang wanita sebagai pesinden gending banyuwangen tradisional seblang, semuanya berusia sekitar 40 tahun.

Gending-gending yang dibawakan oleh penari seblang tahun itu, seluruhnya tidak kurang dari 26 macam, dan sebagian besar juga dikenal pada kesenian gandrung, seperti gending Podho Nonton, Layar Kamendung, Kembang Menur, Kembang Waru, Sekar Jenang, Candra Dewi, Celeng Mogok, dan Erang-erang. Menurut keterangan, mula-mula tari sebiang biasanya dibawakan oleh seorang laki-laki yang tampan di desanya, dan penari seblang wanita yang pertama bernama Semi, penduduk desa Cungking, kecamatan Giri, yang berbatasan dengan kecamatan Glagah. Embah Semi akhirnya menjadi lebih terkenal sebagai penari seblang wanita, dan dalam perkembangan selanjutnya berfungsi sebagai gandrung Banyuwangi. Dengan demikian disimpulkan bahwa semua penari gandrung Banyuwangi yang sekarang masih mempunyai hubungan darah dengan embah Semi.

Persiapan sajen, pembuatan mahkota dari daun dan bunga, pengaturan gamelan, dan lain-lain, dimulai sekitar pukul 13.00 WIB di tempat yang telah ditetapkan. Tidak begitu jauh dari tempat itu, juru rias Suni melaksanakan tugasnya merias Surati sebagai penari seblang. Kira-kira pukul 13.45 WIB, penari seblang yang masih dalam keadaan sadar diikuti juru rias, pemaju, dan para pesinden dengan segala perlengkapannya masing-masing, menuju tempat pementasan, yaitu lapangan terbuka berukuran kira-kira 20 x 20 meter. Tepat di tengah lapangan, dipancangkan sebatang tonggak kayu atau bambu setinggi 4 meter, dari puncak­ nya direntangkan tali-temali ke segenap penjuru sehingga mirip sebuah payung besar. Menurut dukun, penari sebiang digambar­kan menari dan bergembira di bawah keteduhan payung agung.

Di tempat itu telah tersedia seperangkat kecil gamelan tradisional dan para pemukulnya. Di sisi barat tempat itu, di­siapkan semacam pondok kecil berukuran kira-kira 2×3 meter, menghadap ke timur, dilengkapi tikar pandan untuk para pesin­den duduk bersimpuh, dan sebuah kursi biasa sebagai singgasana penari sebiang, di bagian atas pondok kecil itu, di bawah atap, bergantungan berbagai hasil desa, berupa seuntai padi, jagung, ubi kayu, ubi jalar, berbagai buah-buahan, sayur-sayur, dan se- bagainya, menggambarkan hasil bumi daerahnya dengan mak­sud agar panen tahun itu melebihi harapan. Kedatangan rombongan penari seblang yang masih sadar itu di­sambut oleh para penonton yang sudah lama berjejal-jejal, ber­kerumun, dan berdesak-desakan menanti. Kerabat desa, dibantu hansip setempat, sibuk mengatur dan menjaga ketertiban dan keamanan acara.

Sementara sudah nampak siap dan tertib, pak Enan dengan tenang mulai membakar kemenyan. Ia dibantu seorang wanita setengah baya yang menutup rapat kedua mata dan telinga penari sebiang dari belakang dengan kedua tangannya sambil berdiri. Dukun duduk berjongkok berhadapan dengan penari sebiang, membakar kemenyan dan membaca mantra. Kedua belah tangan penari sebiang memegang sebuah niru kecil dengan sikap seakan- akan meletakkan punggung niru ke arah datangnya asap dari perapian dukun.

Jika tanpa sengaja niru terjatuh dari tangan penari sebiang, itu menandakan bahwa roh telah masuk ke dalam tubuhnya, dan pada saat itu tanpa sadar ia mulai menari berkeliling, seorang diri di antara orang banyak sambil mengikuti irama gamelan yang dikumandangkan dengan gending banyuwangen dan suara para pesinden dari arah pondok kecil, diikuti pemaju Sondok. Tarian itu merupakan tari pembukaan.

Setiap kali sebuah gending se-lesai ditarikan bersama pe-maju, dan apabila merasa puas, segera penari sebiang menuju ke pondok dan beristirahat, duduk di kursi. Beberapa saat kemudian, bergema gending la-in, dan apabila penari sebiang menyetujui, dia segera bangkit dari kursinya dan menari lagi mengikuti irama gending itu sepuas hati. Apabila gending itu kurang berkenan di hati, dia tetap duduk tenang. Se-tiap gending yang berbeda, menyebabkan tarian penari sebiang itu berbeda pula jenisnya. Demikian acara itu berlangsung terus-menerus sampai seluruh 26 gending berakhir; menari tanpa bersuara, mata tertutup, tetapi tidak sampai terantuk benda atau penonton yang memenuhi gelanggang.

Puncak acara yang cukup mengesankan adalah pada acara hari terakhir sebagai acara penutup. Penari sebiang tidak hanya menari di dalam gelanggang itu saja, tetapi mengelilingi desa Olehsari, melalui jalan sempit berkelok-kelok, menyusuri lorong kecil di antara rumah penduduk. Pada kesempatan itu, penabuh dengan gamelannya, para pesinden, dan dukun (pak Enan) diikuti semua penonton turut berkeliling mengikuti langkah dan tarian penari sebiang, seakan-akan pawai mengelilingi desa.

Menurut keterangan, mengelilingi desa itu dimaksudkan untuk menghilangkan segala macam bentuk yang mungkin merusak desa, dan mempunyai hikmah saling mengenal antar penduduk. Acara itu ditafsirkan membawa tanda penyebaran doa selamat sejahtera kepada segenap penduduk desa, termasuk keamanan kampung, peningkatan hasil sawah ladang, peningkatan hasil ternak, dan sebagainya, serta memberikan tanda tolak bala, agar dijauhkan dari segala macam bentuk malapetaka. Setelah kembali ke gelanggang, dukun mulai berperan lagi untuk yang terakhir kalinya, dan dengan kekuatan mantranya, menyadarkan penari sebiang kembali sebagai Surati.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:Sudibyo, Aris: Mengenal Kesenian Tradisional Daerah Blambangan di Banyuwangi, Proyek Penulisan Dan Penerbitan Buku/Majalah Pengetahuan Umum Dan Profesi, Departemen Pendidikan Dan Kebudayaan, 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Kesenian dan tag , , , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s