Upacara Adat Pertanian, Masyarakat Using


Di samping upacara daur hidup, masih banyak upacara-upacara adat yang masih selalu dilaksanakan oleh orang Using di Kemiren. Misalnya upacara adat yang berkaitan dengan kegiatan pertanian, upacara bersih desa dan upacara bersih diri. Sebagian besar orang Using bermata pencaharian sebagai petani. Menurut kepercayaan orang Using, bahwa kesuburan tanah dan hasil panen yang berlimpah bersumber pada kesetiaan menghormati roh-roh nenek moyang. Sebaliknya apabila terjadi sesuatu wabah yang menimpa warga desa, sesuatu penyakit ataupun kesusahan lain dalam hidup se­seorang/keluarga. Semua itu dianggap sebagai kemarahan roh-roh nenek moyang terhadap perbuatan atau tingkah laku warga yang kurang sesuai. Oleh sebab itu, masyarakat Using di Kemiren sering, bankan selalu meminta pertolongan dari roh-roh nenek moyang dengan cara mengadakan selamatan.

Dalam hal pertanian, upacara selamatan dilaksanakan sesuai dengan tahap-tahap kegiatan dalam pengolahan lahan pertanian. Sebelum proses menanam padi dimulai para petani Using di Kemiren mengadakan selamatan untuk meminta doa restu dari yang “mbaurekso” (yang menghuni dan menguasai tanah se­tempat) dan dari Dewi Sri (Desi Padi) agar tanaman padi terhindar dari hama dan panen padi dapat berhasil. Selamatan ini dalam istilah orang Using disebut “adeg-adeg”. Pelaksanaan upacara ini diawali dengan pembakaran dupa oleh petani pemilik sawah d- ikuti dengan pembacaan doa/mantera-mantera. Upacara ini biasa­nya dilaksanakan secara berkelompok oleh petani yang sawah­nya berdekatan. Setelah selesai acara pembakaran dupa, diadakan acara makan “sego urap” (nasi dengan sayur urap) secara bersama- sama. Kemudian salah seorang di antara petani itu menancapkan beberapa pohon tanaman padi di sekitar sawah sebagai tanda dimulainya kegiatan menanam padi.

Pada waktu kegiatan menanam padi, diadakan lagi upacara yang disebut upacara “labuh tandur”. Tujuannya sama adalah selamatan supaya tanaman padi tumbuh subur dan panen berhasil. Sesajen yang disediakan dalam selamatan ini adalah sesajen “adek- adek” berupa nasi putih, kelapa parut digongseng dan diberi garam secukupnya. Selain “adek-adek” disediakan juga bahan “ki- nangan” yaitu beberapa lembar daun silih, pinang, daun gambir dan kapur sirih secukupnya. Semua bahan-bahan ini diletakkan di ‘uangan” atau pematang saluran air irigasi di sekitar persawahan sebagai sesajen untuk Dewi Padi (Desi Sri).

Upacara selanjutnya disebut upacara “nyelemati padi”, yaitu upacara pada saat bulir-bulir padi mulai keluar atau saat padi mulai bunting. Untuk keselamatan bulir-bulir padi yang sudah mulai keluar itu, maka petani Using memberi sesajen kepada Dewi Padi.

Maksudnya supaya bulir-bulir padi menjadi dan berhasil untuk dipanen. Sesajen itu berupa “pecel ayam” (ayam panggang diberi bumbu secukupnya). Bagian-bagian tertentu dari daging ayam, seperti kaki ayam sebanyak 3 buah, “telampik” (sayap) 3 buah, “brutu” (bagian ekor ayam) 3 buah, tidak boleh dimakan, akan tetapi diberikan sebagai sesajen untuk Dewi Sri. Bahan- bahan sesajen ini dimasukkan ke dalam satu wadah lalu diletakkan di “uangan”. Bagian lain dari suguhan “pecel ayam” dimakan bersama oleh keluarga dengan mengundang tetangga sawah. Biasanya upacara “nyelamati padi” di Kemiren dilakukan oleh para petani secara serentak.

Sebagai puncak upacara dalam kegiatan pertanian di Desa Kemiren adalah upacara memanen padi. Masyarakat Using menye­but upacara “ngampung”. Para petani yang mampu, biasanya nanggap kesenian “angklung sawahan”. Jenis kesenian ini merupa­kan, tabuhan tradisional yang peralatannya terdiri atas 2 perang­kat angklung dan 2 buah gendang yang dimainkan oleh 4 orang penabuh. Kesenian “angklung sawahan” ini dipertunjukkan di lokasi sawah yang sedang panen sehingga menambah suasana gembira dan semangat kerja bagi pemanen. Untuk tempat para penabuh dan peralatannya didirikan suatu “paglak” yaitu sejenis pondok kecil di atas 4 buah tiang bambu setinggi 10-15 meter dari tanah. Dengan demikian para petani yang sedang menuai padi di sekitar “paglak” dapat melihat penabuh dan mendengar bunyi tabuhan lebih nyaring. Pada upacara ini, para penabuh diberi makanan kue-kue, nasi dan “uyak asem” (ayam dimasak dengan campuran kacang panjang dan bumbu secukupnya). Bagi para pemanen mendapat sebagian hasil panen padi sebagai imbalan kerja.

Sebagai ucapan syukur bahwa pekerjaan di sawah telah selesai dan penen padi berhasil maka petani Using di Kemiren melaksa­nakan upacara yang dalam istilah daerah disebut upacara “ngirim duo” (mengirim doa). Upacara ini bertujuan untuk mendoakan roh-roh kerabat yang sudah meninggal agar diterima di sisi Tuhan. Ngirim duo juga bertujuan supaya keluarga yang ditinggal penda­hulunya itu, diberi rezeki dan terkabul segala keinginannya. Berbagai jenis makanan disuguhkan dalam upacara ngirim duo .

Upacara lain yang masih sering dilakukan oleh orang Using di Kemiren adalah upacara “ngaturi dahar”. Upacara ini bertujuan untuk membersihkan diri supaya seluruh anggota keluarga yang mengadakan selamatan dalam keadaan sehat-sehat. Pada umum­nya, upacara “ngaturi dahar” dilakukan oleh setiap keluarga se­tahun sekali pada malam Jum’at atau malam Senin.

Dalam upacara ini, keluarga mengundang kerabat dekat dan tetangga dekat di Desa Kemiren. Makanan yang disediakan dalam upacara ini bermacam-macam, terdiri atas 7 piring “jenang abang” (6 piring bubur merah dan 1 piring bubur putih), “jenang seng- kolo” (bubur 5 warna : bubur merah, bubur putih, bubur ketan hitam, bubur jagung, bubur kacang hijau), pisang mas beberapa “lirang” (sisir) atau sebanyak jumlah anggota keluarga yang mengadakan hajad), 7 bungkus nasi “golong” (nasi putih dengan lauk telur dan ayam pecel), “nasi goreh” (nasi putih dengan lauk ayam, timbal jagung, kerupuk, sawur/kelapa goreng), timun, 5 buah cabe merah, dan “jangan lembarang” (ayam masak santan). Selain makanan, sesajen dilengkapi pula dengan berbagai macam bunga-bungaan, yaitu bunga “sundel” (berwarna putih), bunga mawar (merah), bunga “wongso” (berwarna kuning) dimasukkan dalam botol berisi air, 44 tangkai kembang “wongso” (berwarna kuning) dimasukkan ke dalam “bokor kuning”, dan 1 botol kecil minyak “klitik” (minyak goreng).

Semua jenis makanan tersebut disusun dalam satu tampah besar. Setelah pembacaan doa oleh modin, maka para undangan diberi makan. Pisang dan bunga-bungaan dibagi-bagikan kepada tamu untuk dibawa pulang ke rumah masing-masing. Semua ma­kanan harus dihabiskan, kecuali keluarga yang punya hajad tidak boleh memakannya. Karena mereka dalam kondisi membersih­kan diri. Kalau masih ada sisa makanan maka ibu-ibu yang telah membantu dan ibu-ibu tetangga diundang untuk menghabiskan makanan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POLA KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT USING DI KABUPATEN BANYUWANGI PROPINSI JAWA TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENELITIAN PENGKAJIAN DAN PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA 1993, hlm.  61 – 64

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Seni Budaya, Th. 1993 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s