Upacara Perkawinan, Masyarakat Using


Sebelum upacara perkawinan berlangsung pada umumnya diawali dengan adanya perkenalan antara pemuda dan pemudi. Menurut tradisi orang Using cara perkenalan atau cara mencari jodoh ada dua macam, yaitu perkenalan antara pemuda dan pemudi secara langsung dan perkenalan dengan cara dijodohkan oleh orang tua yang disebut “bakalan”.

Bagi pemuda yang mencari jodohnya, maka apabila telah ada persesuaian antara si pria dan wanita, masing-masing melaporkan kepada orang tua agar perkawinan mereka diresmikan. Kalau kedua belah pihak orang tua sudah setuju lalu orang tua pria datang melamar ke rumah keluarga orang tua si gadis. Setelah lamaran diterima maka kedua belah pihak orang tua si pria dan si gadis mengadakan musyawarah untuk pelaksanaan upacara selanjutnya.

Dalam perjodohan yang dicarikan oleh orang tua biasanya dilakukan sejak anak masih kecil atau berkisar usia 5 tahun. Cara “bakalan” ini dilakukan dalam kerabat yang masih mempunyai hubungan darah. Menurut salah seorang informan hal ini dimak­sudkan untuk mejaga kemurnian darah terutama agar harta keka­yaan tetap diwarisi oleh keluarga.

Kadang-kadang cara perkawin­an “bakalan” yang direncanakan oleh orang tua tidak selamanya beijalan mulus. Setelah si gadis dewasa kemungkinan tidak mau kawin dengan calon suami yang dijodohkan oleh orang tuanya atau sebaliknya si pria tidak mau mengawini gadis yang dicalon­kan kepadanya.

Suatu tradisi yang selalu diperhatikan oleh keluarga Using di Kemiren dalam hal mencari jodoh adalah tanggal lahir di pria dansi gadis. Menurut kepercayaan orang Using, dari tanggal lahir seseorang dapat diketahui apakah kedua calon suami isteri itu serasi dalam berumah tangga. Apabila tanggal lahir tidak sesuai maka pelaksanaan perkawinan menjadi gagal.

Masyarakat Using di Desa Kemiran mengenal beberapa bentuk perkawinan, yaitu perkawinan “nyolong”, perkawinan “ngele- boni”, dan perkawinan angkat-angkatan.

Bentuk perkawinan “nyolong” atau perkawinan lari di Desa Kemiren terjadi karena pihak orang tua si gadis tidak setuju me­ngawinkan anak gadisnya walau kedua anak yang bersangkutan sudah saling menyintai dan sepakat meresmikan upacara perka­winannya.

Agar hubungan antara calon suami dan calon isteri itu tidak terputus, maka si pria memberanikan diri melarikan si gadis ke rumah orang tuanya dengan perantaraan teman si gadis yang disebut “jaruman”. Apabila si gadis sudah

diterima de­ngan baik maka orang tua si pria mengutus seorang “colok” yaitu

seorang kerabat laki-laki yang dipercayai untuk memberitahukan bahwa anak gadisnya sudah berada dan diterima dengan baik oleh pihak keluarga pria. Apabila pihak keluarga setuju dengan perka­winan anak gadisnya dibawa lari maka acara selanjutnya adalah mengadakan musyawarah untuk membicarakan hari pelaksanaan akad nikah dan pernikahannya. Untuk musyawarah ini, pihak pria datang ke rumah pihak gadis atau sebaliknya sesuai dengan kesepakatan bersama.

Hal yang sangat penting dihindari dalam menentukan hari pelaksanaan akad nikah dan upacara perkawinan ini adalah hari naas bagi masing-masing keluarga kedua belah pihak. Menurut keyakinan sebagian besar orang Using bahwa yang dianggap hari naas adalah hari kematian salah seorang kerabat terutama hari kematian orang tua.

Pada hari pernikahan yang telah disepakati bersama maka di­langsungkan upacara perkawinan sesuai dengan teradisi orang Using yang berlaku. Biasanya upacara perkawinan berlangsung di rumah keluarga laki-laki. Orang tua si gadis beserta kerabatnya datang menghadiri upacara tersebut dan membawa “rambanan” yaitu berupa beras, sayur-sayuran, kelapa, pisang, dan gula sebagai bahan bantuan untuk kebutuhan pesta.

Dalam upacara perkawinan “nyolong” ini diadakan selamatan “tumpeng serakah”, terdiri atas nasi, sayur-sayuran berupa rebusan bayam, kacang panjang, terong, “ontong” (jantung pisang), sayur dadap, daun katuk dan “manisah” (labu siam), dan lauk “pecel ayam” yaitu ayam pang­gang diberi bumbu pecal dan parutan kelapa goreng.

Sebagai kebalikan bentuk perkawinan “nyolong” adalah per­kawinan “ngeleboni”. Dalam bentuk perkawinan ini pihak keluar­ga laki-laki yang tidak menyetujui perkawinan anaknya dengan gadis pilihannya sendiri. Oleh karena si pria takut hubungannya putus dengan gadis pilihannya itu, maka si pria sendiri yang datang dan meminta kepada orang tua si gadis agar ia diterima sebagai menantu. Sementara perkawinannya belum disetujui dan dires­mikan oleh orang tua masing-masing, si pria juga meminta agar diperbolehkan tinggal di rumah keluarga si gadis.

Apabila permintaan si pria disetujui oleh orang tua dan kera­bat pihak si gadis, maka pelaksanaan selanjutnya sama seperti pada upacara “nyolong”. Orang tua si gadis mengutus salah se­orang “colok” yang dapat dipercaya ke rumah orang tua si pria. Tugas “colok” adalah memberitahukan kepada orang tua si pria

bahwa anak laki-lakinya telah diterima baik oleh keluarga si gadis. Di samping itu merencanakan pertemuan kedua belah pihak ke­luarga untuk membicarakan hari pelaksanaan dan hal-hal yang diperlukan dalam upacara perkawinan tersebut. Biasanya upacara perkawinan “ngeleboni” ini berlangsung secepatnya yakni sekitar 3 sampai 4 hari setelah datangnya “colok” dari pihak si gadis.

Selama perkawinan belum diresmikan kedua calon suami isteri itu tidak diperbolehkan hidup bersama. Pada hari pelaksanaan perkawinan maka diadakan upacara makan bersama. Suguhan yang disediakan dalam upacara ini adalah “tumpeng serakah” dan “pecel ayam”.

Selain bentuk perkawinan “nyolong” dan “ngeleboni”, dalam kebudayaan orang Using ada pula bentuk perkawinan “angkat- ankatan”. Perkawinan “angkat-angkatan” merupakan bentuk perkawinan yang ideal baik masyarakat Using di Kemiren, Pelak­sanaan upacara dilaksanakan secara bertahap diawali dengan be­berapa kegiatan sebelum upacara dimulai. Kemudian dilnjutkan dengan kegaitan pada saat pelaksanaan dan akhirnya kegiatan se­sudah perkawinan.

Apabila orang tua kedua belah pihak keluarga laki-laki dan perempuan sudah setuju untuk mengawinkan anaknya, maka diadakan “rembukan” (musyawarah). Dalam “rembukan” ini dibicarakan penentuan hari akad nikah, hari pelaksanaan per­nikahan, serta persiapan bahan-bahan yang diperlukan.

Sebelum tiba saat berlangsungnya upacara, biasanya baik di rumah laki-laki maupun di rumah perempuan diadakan “ngerso- yok”, yaitu kerja gotong royong berupa bantuan tenaga dari kerabat dan tetangga untuk mempersiapkan tempat upacara. Selain itu juga bantuan materi berupa sumbangan hasil-hasil perta­nian (sayur-sayuran pisang, beras, kelapa), telur ayam dan lain- lain untuk suguhan selamatan. Bagi kedua calon pengantin laki- laki dan perempuan sendiri berlaku larangan untuk tidak bepergi­an. Supaya calon pengantin perempuan kelihatan segar dan cantik waktu pesta, maka diadakan upacara “ngasap” (polong gigi) dan badannya “dilurus” (“luluran”). Pada malam harinya sebelum pesta diadakan “melek-melekan” semalam suntuk oleh keluarga dan warga Desa Kemiren. Tujuannya menurut kepercayaan orang Using adalah untuk menjaga keselamatan dan gangguan dari roh- roh jahat.

Pelaksanaan upacara perkawinan biasanya selalu berlangsung pada sore hari setelah warga Kemiren selesai bekerja di sawah sekitar pukul 18.00. Upacara ini dimulai dengan upacara “surup” yaitu upacara mempertemukan kedua mempelai duduk di pe­laminan. Tempat upacara mempertemukan kedua mempelai duduk di pelaminan. Tempat upacara surup adalah di rumah orang tua mempelai perempuan. Sekitar dua jam atau pukul 16.00 sebelum berlangsung upacara surup, kedua mempelai dihias lebih dahulu di salah satu rumah yang telah ditunjuk sebelumnya yang jaraknya dengan tempat upacara surup biasanya jauh, sekitar 1 jam perjalanan kaki. Hal ini bertujuan supaya perjalanan arak- arakan pengantin dan warga desa banyak yang menyaksikannya di sepanjang jalan, sesuai dengan adat mengarak pengantin bagi orang Using………………..

Setelah pengantin selesai dihias lalu diarak ke rumah orang tua mempelai perempuan untuk pelaksanaan upacara “surup”. Barisan depan arak-arakan pengantin adalah kesenian “barong”, disusul dengan kelompok kerabat pembawa “lamaran” (kasur, bantal, tikar, perabotan) pengantin, pembawa kue-kue untuk suguhan pesta dan air kembang telon. Di belakang barong dan penghantar lamaran adalah barisan pengantin. Pengantin perempu­an didudukkan di atas tandu terbuat dari kursi rotan dan diberi sandaran tangan pada kiri kanan kursi dan ditandu oleh beberapa orang kerabat dari pihak mempelai laki-laki. Sedangkan pengantin laki-laki menunggang kuda yang dituntun oleh salah seorang kerabat mempelai perempuan. Kemudian disusul dengan kesenian “kuntulan” dan barulah para pengiring sanak keluarga dan warga Desa Kemiren. Arak-arakan pengantin ini diiringi dengan kesenian tradisional “barong” dan “kuntulan” yang membuat suasana meriah di sepanjang jalan sampai ke tempat “surup”.

Setelah arak-arakan sampai di depan rumah, maka pengantin putri diturunkan dari atas tandu dan pengantin putera disuruh turun dari atas kuda. Kemudian kedua pengantin disambut dan dituntun oleh “modin” ke tempat upacara lalu diadakan upacara “surup”. Caranya, kedua pengantin berdiri berhadap-hadapan lalu ‘modin” mempertemukan ibu jari tangan kanan kedua mem­pelai. Setelah itu, kedua mempelai didudukkan di kursi hias (pelaminan). Acara selanjutnya adalah beberapa orang sesepuh yang sudah berumur duduk di depan pengantin membaca lontar Yusup semalam suntuk yang isinya menceritakan hubungan pefcintaan antara Yusup dan Dewi Saleha. Setelah selesai barulah pengantin boleh meninggalkan pelaminan.

Setelah pelaksanaan upacara perkawinan selesai maka dimusya­warahkan tempat menetap kedua pengantin. Menurut adat yang berlaku bahwa setelah menikah, maka suami isteri harus tinggal dan menetap di tempat kediaman laki-laki. Akan tetapi boleh juga kedua mempelai tinggal menetap di lingkungan keluarga si isteri tergantung kesepakatan dan musyawarah bersama. Hal ini terjadi terutama kalau mempelai perempuan merupakan anak tunggal satu-satunya atau keluarga hanya mempunyai beberapa anak perempuan tetapi tidak mempunyai anak laki-laki.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: POLA KEHIDUPAN SOSIAL BUDAYA MASYARAKAT USING DI KABUPATEN BANYUWANGI PROPINSI JAWA TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT JENDERAL KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK PENELITIAN PENGKAJIAN DAN PEMBINAAN NILAI-NILAI BUDAYA 1993, hlm. 56-61   

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Seni Budaya, Th. 1993 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s