Upacara Dhaupan, Kabupaten Bojonegoro


Upacara adat Dhaupan Warga Samin adalah upacara pernikahan berdasarkan tradisi warga Samin yang bermukim di Kabupaten Bojonegoro. Sejak zaman Belanda perkawinan orang Samin dilaksanakan oleh orang tua pengantin dan disaksikan oleh kepala desa dan sesepuh desa.

Mereka tidak bersedia mencatatkan diri kepada pemerintah Belanda. Hingga zaman sekarang, meskipun Indonesia sudah merdeka dan Belanda telah pergi, mereka tetap tidak mau mencatatkan diri kepada pemerintah atau dikaitkan dengan sistem administrasi pemerintahan.

Proses upacara perkawinan amat sederhana. Sebelum pernikahan, pihak pengantin laki-laki menyerahkan ubarampen “segala keperluan perkawinan” yang terdiri atas perlengkapan busana pengantin dan bahan makanan yang akan dihidangkan kepada para tamu.

Pada hari yang telah ditetapkan oleh kedua belah pihak, keluarga pengantin perempuan mempersiapkan kedatangan pengantin laki-laki dan pengiringnya. Secara tradisional, sesampai di depan rumah pengantin perempuan, orang tua pengantin laki-laki mengucapkan kalimat sebagai berikut:

“San, angsal kula ngriki badhe ngujudake turun kula lanang. Dene rembag kala wingenane sampun kula wujudake, suwita tata tatane wong sikep rabi. Ana ala becike kendha tutur”.

Setelah kedua belah pihak setuju, keluarga pengantin perempuan beserta sanak saudaranya mempersiapkan diri untuk melaksanakan upacara menerima rombongan pengantin laki-laki yang datang ke tempat pengantin perempuan. Di depan pintu rumah pengantin perempuan, pihak orang tua pengantin laki-laki mengucapkan kalimat pasrah, selanjutnya diterima pihak orang tua pengantin perempuan.

Rombongan pengantin laki-laki memasuki rumah upacara. Setelah mereka duduk, pembawa acara mengumumkan bahwa para juru lendang menyajikan makanan. Hidangan disajikan dengan cara beranting, dan disebut sodhokan suguhan. Masing-masing tamu menerima satu kreneng berisi makanan dan kue. Kalimat dhaupan diucapkan oleh orang tua pengantin perempuan, diterima pengantin laki-laki dan dilanjutkan dengan “pengucapan janji”.

Sesudah pengucapan janji pengantin, para tamu menikmati makanan di suatu tempat yang telah disiapkan. Ular-ular “nasihat” diberikan oleh sesepuh desa, ditujukan kepada kedua pengantin. Doa untuk pengantin dipimpin oleh sesepuh desa, dan selalu menggunakan bahasa daerah. Acara terakhir adalah memberi ucapan selamat kepada sepasang pengantin dan keluarga pengantin.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Menggelar Mantra, Menolak Bencana, hlm. 38-39

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bojonegoro, Seni Budaya, Th. 2011 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s