Anas Urbaningrum, Kabupaten Blitar


8921-8548-anas_family - Copy15 Juli 1969, Anas Urbaningrum lahir di Desa Ngaglik, Srengat, Blitar, Jawa Timur, Indonesia.

Anas menempuh Madrasah Tsanawiyah Negeri Kunir, Blitar; hingga SMP di Blitar.

Tahun 1987, lulus SMA Negeri Srengat, Kabupaten Blitar.

Tahun 1992, ia lulus Jurusan Politik, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik. Universitas Airlangga, Surabaya.

Tahun 1997, menerbitkan buku Menuju Masyarakat Madani: Pilar dan Agenda Pembaruan, (Jakarta: Yarsif Watampone).

Tahun 1997, Awal Anas berkiprah di dunia politik pada organisasi gerakan mahasiswa. bergabung dengan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) hingga menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI Periode 1997-1999 pada kongres yang diadakan di Yogyakarta.

Tahun 1998, Anas menjadi anggota tim revisi undang-undang politik atau yang dikemal dengan nama Tim Tujuh. Tim ini dipimpin oleh Ryaas Rasyid dengan anggota lainnya adalah Affan Gaffar (alm.), Andi Mallarangeng, Djohermansyah Djohan, Luthfi Mutty, dan Ramlan Surbakti.

Tim ini mengasilkan rancangan paket undang-undang pemilu yang akhirnya disahkan oleh DPR RI menjadi UU No. 2/1999 tentang Partai Politik, UU No. 3/1999 tentang Pemilhan Umum, dan UU No. 4/1999 tentang Susunan dan Kedudukan MPR, DPR dan DPRD.

Tahun 1999, menerbitkan buku Ranjau-Ranjau Reformasi: Potret Konflik Politik Pasca Kejatuhan Soeharto, (Jakarta: Raja Grafindo Persada) dan Jangan Mati Reformasi, (Jakarta: Yayasan Cita Mandiri Indonesia).

Tahun 1999, pada pemilihan umum demokratis pertama, Anas menjadi anggota Tim Seleksi Partai Politik, atau Tim Sebelas, yang bertugas memverifikasi kelayakan partai politik untuk ikut dalam pemilu.

3 Februari 1999, Anas menjadi Anggota Tim Seleksi Parpol Peserta pemilu 1999 (Tim Sebelas), yang dipimpin oleh Nurcholish Madjid (alm.). Anggota lainnya adalah Adi Andojo Sutjipto, Adnan Buyung Nasution, Affan Gaffar (alm.), Andi Mallarangeng, Eep Saefulloh Fatah, Kastorius Sinaga, Miriam Budiardjo (alm.), Mulyana W. Kusumah, dan Rama Pratama. Tugas tim ini adalah memverifikasi pemenuhan syarat administratif partai dalam untuk mengkuti pemilu. Dalam mempersiapkan pemilu demokratis pertama pada tahun 1999, Setelah melalui proses verifikasi, Tim ini mengumumkan 48 partai yang berhak mengikuti pemilu 1999.

8921-8548-anas_family10 Oktober 1999, di Yogyakarta Anas menikah dengan Athiyyah Laila Attabik (Tia). Putri K.H. Attabik Ali, (Pondok Pesantren Krapyak).  Dikaruniai empat anak: Akmal Naseery (lahir 2000), Aqeela Nawal Fathina (lahir 2001), Aqeel Najih Enayat (lahir 2003), dan Aisara Najma Waleefa (lahir 2005).

1999, Bintang Jasa Utama dari Presiden RI,

Tahun 2000, Anas melanjutkan pendidikannya di Program Pascasarjana Universitas Indonesia dan meraih gelar master bidang ilmu politik. Tesis pascasarjananya telah dibukukan dengan judul “Islamo-Demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid” (Republika, 2004). Kini ia tengah merampungkan studi doktor ilmu politik pada Sekolah Pascasarjana Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

24 April 2001, Anas menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) pada periode 2000-2007. Anas menjadi anggota KPU bersama dengan Chusnul Mar’iyah, Daan Dimara, Hamid Awaludin, Imam Prasodjo, Mudji Sutrisno, Mulyana W Kusuma, Nazaruddin Syamsuddin, Ramlan Surbakti, Rusadi Kantaprawira, dan Valina Singka Subekti. Para anggota KPU tersebut kemudian memilih Nazaruddin Syamsuddin sebagai ketua. Tugas besar KPU periode ini adalah melaksanakan pemilihan presiden secara langsung.

Tahun 2001-2005, ia menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum yang mengawal pelaksanaan pemilu 2004.

Tahun 2004, menerbitkan buku Melamar Demokrasi: Dinamika Pemilu Indonesia, (Jakarta: Republika);  menerbitkan buku Islamo-demokrasi: Pemikiran Nurcholish Madjid, (Jakarta: Republika) dan Pemilu Orang Biasa: Publik Bertanya Anas Menjawab, (Jakarta: Republika).

8 Juni 2005, Anas mengundurkan diri dari KPU, bergabung dengan Partai Demokrat sebagai Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah.

Tahun 2005-sekarang, Ketua DPP Partai Demokrat,

Tahun 2006-sekarang, Ketua Yayasan Wakaf Paramadina,

Tahun 2008, menerbitkan buku Menjemput Pemilu 2009, (Jakarta: Yayasan Politika).

Tahun 2009, Pimpinan Kolektif Nasional KAHMI,

Tahun 2009, menerbitkan buku Bukan Sekadar Presiden, (Jakarta: Hikmah).  Takdir Demokrasi: Politik untuk Kesejahteraan Rakyat, (Jakarta: Teraju).

Tahun 2009, Anas terpilih menjadi anggota DPR RI dari daerah pemilihan Jawa Timur VII yang meliputi Kota Blitar, Kabupaten Blitar, Kota Kediri, Kabupaten Kediri dan Kabupaten Tulungagung dengan meraih suara terbanyak, yaitu 178.381 suara, melebihi angka Bilangan Pembagi Pemilih (BPP) sebesar 177.374 suara.

1 Oktober 2009, Anas menjadi Ketua Fraksi Partai Demokrat di DPR RI. Tugas berat yang berhasil dijalankannya dengan baik adalah menjaga kesolidan seluruh anggota Fraksi Partai Demokrat dalam voting Kasus Bank Century.

Anas Terpilih sebagai Ketua Umum DPP Partai Demokrat pada usia 40 tahun,  menjadikannya salah seorang ketua partai termuda di Indonesia. Sebelumnya ia menjalankan tugas sebagai Ketua Bidang Politik dan Otonomi Daerah DPP Partai Demokrat dan Ketua Fraksi Demokrat di Dewan Perwakilan Rakyat.

15 April 2010, Anas mendeklarasikan pencalonan dirinya di Jakarta. Dalam pidatonya, Anas menegaskan bahwa kesiapan dirinya bukanlah untuk bersaing, apalagi bertanding. Pencalonanya bukan untuk memburu jabatan. Kongres adalah sebuah kompetisi yang penuh persahabatan antar saudara. Semua kandidat adalah kader-kader terbaik partai dan sahabat seperjuangan

16 Mei 2010, Pemikiran politik Anas selanjutnya dituangkan dalam pidato kebudayaan “Membangun Budaya Demokrasi” diselenggarakan di Jakarta.

20-23 Mei 2010, sebagai partai pemenang pemilu 2009, kongres ke-2 Partai Demokrat di Bandung menjadi peristiwa penting dalam politik Indonesia.

Dalam rangkaian persiapan kongres, Anas meluncurkan buku “Revolusi Sunyi” di Aula Harian Pikiran Rakyat, Bandung. Buku ini mengungkap kiat-kiat sukses Partai Demokrat dan SBY memenangkan pemilu 2009.

Kompetisi berlangsung ketat dengan tiga kandidat: Anas, Andi Mallarangeng, dan Marzuki Alie  yang mendeklarasikan pencalonannya sehari sebelum kongres dimulai.

Putaran pertama, Anas unggul (236 suara), Marzuki Alie (209 suara) dan Andi Mallarangeng (82 suara). Pada putaran kedua, Anas unggul dengan perolehan 280 suara. Marzuki Alie memperoleh 248 suara, sementara dua suara dinyatakan tidak sah. Pemilihan ini  menjadikan Anas salah seorang ketua umum partai politik termuda di Indonesia.

23 Juli 2010,  sebagai Ketua Umum Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrat periode 2010-2015, Anas mengundurkan diri dari DPR.

17 Oktober 2010, Anas melantik pengurus pleno DPP Partai Demokrat yang berjumlah 2.000 orang pada saat peringatan ulang tahun partai tersebut di Jakarta.

Tahun 2010, Anas Urbaningrum mendapat gelar Man of The Year 2010 Kategori The Guard of Integrity.

Tahun 2012-2015, Anggota Presidium Korps Alumni HMI.=S1Wh0T0=

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Pejabat Negara, Sosok, Th. 2012 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s