Marsda Anumerta Iswahyudi, Surabaya


Iswahyudi15 Juli 1918, Marsda Anumerta Iswahyudi lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.  Anak kedua dari sembilan bersaudara, dari pasangan Wirjomihardjo dan Issumirah, Iswahyudi dikenal sebagai perintis TNI AU Indonesia bersama Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, dan Husein Sastranegara. Iswahyudi merupakan kadet pertama Sekolah Penerbang Adisutjipto.

Iswahyudi sempat kuliah calon dokter di Nederlandsch Indische Artsen School (NIAS), Surabaya, ketika menjadi kadet Vrijwillige Vliegers Corps (VVC), Korps Penerbang Sukarela, Kalijati sudah mencapai tingkat IV

Iswahyudi, diungsikan ke Australia saat Jepang menduduki Hindia Belanda, sudah mengantongi brevet penerbang dari Kalijati, lapangan terbang yang dibeli pemerintah Hindia Belanda dari NV Pamanukan en Ciasem lander seharga satu gulden pada tahun 1915. Selama pelarian di Australia, kemampuan terbangnya diasah di pendidikan lanjutan Sekolah Penerbang Australia.

Desember 1945, Iswahyudi bergabung dengan Tentara Keamanan Rakyat (TKR) Jawatan Penerbangan yang dipimpin Adisucipto di Yogyakarta.

23 April 1946 terbang cross country dari Maguwo – Jakarta – Gorda – Teluk Betung – Branti bersama penerbang lainnya. Penerbangan heroik ini dilakukan dengan pesawat Cukiu.

10 Juli 1946, bersama Adisutjipto, Abdulrachman Saleh, Husein Sastranegara, dan Imam Suwongso Wirjosaputro, melakukan terbang formasi lima pesawat Cureng dari Maguwo ke Tasikmalaya.

Tahun 1947, Ketika pertama kali pesawat Dakota VT-CLA mendarat di Maguwo, Iswahyudi dan Adisutjipto merupakan orang pertama yang memperoleh kesempatan menerbangkan pesawat tersebut. Hanya butuh waktu tiga hari, Iswahyudi sudah mampu menerbangkan Dakota VT-CLA dengan baik.

Tahun 1947, Karena dedikasinya yang tinggi, Iswahyudi ditunjuk sebagai Komandan Lanud Maospati, Madiun. Tentu Iswahyudi tidak ragu mengemban jabatan, karena dia dikelilingi orang-orang yang tak kalah hebat pengabdiannya: Wiweko Soepono dan Nurtanio. Pada tahun yang sama, Suryadarma mempercayakan jabatan komandan lanud kepada Iswahyudi. Kali ini lebih jauh, Danlanud Gadut Bukittinggi.

14 Desember 1947, Iswahyudi berangkat dengan RI-003 ke Bangkok dan Singapura. Kembalinya dari Singapura ke Indonesia, cuaca buruk datang di udara Perak, Malaysia. Iswahyudi berusaha mendarat darurat tapi karena cuaca amat buruk dan jarak pandang sangat pendek, pesawat jatuh di perairan Tanjung Hantu, Perak, Malaysia. Sumber lain bahwa pesawatnya jatuh tertembak.

Jenazah Halim Perdanakusuma  yang turut dalam RI-003 ditemukan, Marsekal Madya Iswahyudi Jenazahnya tidak ditemukan hingga saat ini. Namun Secara simbolik sebagai bentuk penghargaan terhadap Marsekal Madya Iswahyudi atas perjuangannya hingga detik-detik terakhir maka ditempatkan makam pahlawan di TMP Kalibata

RI-003 adalah Pesawat jenis Avro Anson. Dana masyarakat Bukittinggi yang mengumpulkan harta benda mereka meksipun saat itu kondisi ekonomi sedang sulit.

10 November 1960, karena jasa-jasanya, bertepatan Hari Pahlawan ke 15, pemerintah Indonesia mengabadikan nama Iswahyudi dengan mengganti nama Lanud Maospati berganti nama menjadi Bandara Iswahyudi, Madiun, Jawa Timur. Iswahyudi tutup usia dengan gelar Marsekal Muda TNI Anumerta R. Iswahyudi dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata.=S1Wh0T0=

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Pahlawan Indonesia, Surabaya, Th. 1960, Tokoh dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s