R. Himawan Soetanto, Kabupaten Magetan


Himawan Sutanto14 September 1929, R. Himawan Soetanto lahir di Magetan, Jawa Timur, Indonesia. Ayahnya Mohamad Mangoendiprodjo, jaman Jepang Daidancho Sidoarjo, Kepala Komandemen Jawa Timur, Kepala Staf Kementerian Pertahanan dan menjadi Penasehat Panglima Besar Sudirman.

Himawan Soetanto (HS), saat remaja masuk Pandu KBI (Kepanduan Bangsa Indonesia). tidak suka dihina, diperlakukan diskriminatif si penjajah.

10 November 1945, HS menjadi anggota Pasukan Pelajar Sawunggaling, ikut pertempuran palagan Surabaya.

Tahun 1946-1948, 1954, 1956, 1966, Berkarir di TNI mulai dari bawah dengan pangkat Letnan Muda mengikuti pelatihan dan pendidikan didalam negeri.

Juli – oktober 1946,  HS sebagai Taruna Militer Akademi (MA) Jogya, mengikuti penugasan operasi menghadapi Belanda di front Subang atau Bandung Utara.

Penugasan lainnya sebagai perajurit TNI, HS pernah menjadi Perwira Operasi Resimen Infanteri 6/Sriwijaya, Danki Taruna Akmil, Perwiran ALO/Air Liason Officer (Operasi 17 Agustus),

Tahun 1948, Letda Himawan adalah siswa Angkatan I Akademi Militer, Yogyakarta, dan sempat mengikuti Infantry Officer Advanced Course di Fort Benning, AS.

September 1948, HS masuk Divisi Siliwangi bermula saat ikut menumpas PKI/Moeso, bergabung dengan Kompi Tentara Pelajar pimpinan Solihin GP, membantu gerakan batalyon Nasuhi, saat itu HS masih Taruna Militer Akademi (MA) Jogya.

19 Desember 1948, HS sudah lulus Militer Akademi (MA) Jogya dengan pangkat Letda seharusnya bertugas di batalyon arteleri di kediri Jawa Timur, tetapi tidak jadi karena ketika akan naik kereta api jurusan Kediri batal berangkat, sebab kota Jogya sudah diduduki Belanda,  menandai mulainya Perang kemerdekaan II. Sehingga HS harus mengubah tujuan, yang semula akan kearah timur menjadi kearah barat yang lebih aman, dan mencari kesatuan terdekat untuk bergabung sementara.

Akhirnya ia berjalan menjauhi kota Jogya kearah barat dan bertemu dengan Letkol Bratamenggala, Wakil Kepala Staf Teritorial Markas Besar Komando Djawa (MBKD)di Godean, jadilah ia bergabung dengan Staf MBKD yang membawanya ke Jawa Barat, tempat dimana ia nantinya menghabiskan hampir setengah dari perjalanan karirnya sebagai perajurit TNI.

Tahun 1949, ikut long march Siliwangi dari Jogya ke Jawa Barat, menghadapi Belanda dan DI/TII (1949).

Tahun 1951, 1952, 1953, 1961, 1962, Selesai perang kemerdekaan, menghadapi DI/TII.

Tahun 1955-1957, HS dengan Ayah sama-sama bertugas ditempat yang sama, ketika HS menjadi Perwira Operasi Resimen Infanteri 6/Sriwijaya berkedudukan di Lampung dan ayahnya menjabat Residen Lampung.

Lettu HS menikah dengan Nonon Ratnapuri di Tasikmalaya, yang dikenalnya ketika bertugas di Priangan Timur. Resepsi pernikahannya berlangsung di Lampung, (anak Residen). dikarunia empat orang anak, yaitu Purwanto Indrawan, Dwi Prihanti Indriani, Tri Susanti Indrayani dan Cahyono Indrakusuma.

26 Juli 1956, HS dan ayah sama-sama menjadi anggota MPR-RI.

Tahun 1958, mengikuti Operasi 17 Agustus.

Tahun 1960-1961, menjadi Perwira Staf Pasukan Garuda II, Markas Operasi Perserikatan Bangsa-Bangsa (Misi Perdamaian PBB)

Danyon (1961-1964), Perserikatan Bangsa -Bangsa di Leopoldiville, Congo.

Tahun 1963, bertugas di Timur Tengah sebagai Komandan Brigade Selatan, United Nations Emergency Forces.

6 April 1964, operasi “gempur,” dimana Gelombang operasi gempur dimulai dini hari dari Pinrang tepat dimana sehari sebelumnya secara licik berusaha membunuh Kolonel M. Yusuf Pangdam XIV/Hasanudin.

10 April 1964, HS berhasil merebut kembali Polewali, pusat dari pasukan pembangkang pimpinan Letkol Andi Selle. saat menjadi Danyon 330/Kujang I Siliwangi memimpin operasi “balas”

2 Mei 1964, HS telah berpangkat Letkol, ditarik kembali ke Kodam VI Siliwangi, menjadi Kepala Staf Brigif 15/Tirtayasa (sekarang menjadi Brigif 15/Kujang II Kodam III/Siliwangi).

Tahun 1965, operasi Dwikora.

Tahun 1971-1974, Himawan menjadi Pangdam IV/Sriwijaya.

Tahun 1974-1975, Himawan menjadi Pangkostrad.

Tahun 1975-1978, Himawan menjadi Pangdam VI/Siliwangi.

Tahun 1978, Himawan dikenal sebagai salah satu jenderal yang berseberangan dengan Soeharto setelah peristiwa penyerbuan TNI ke kampus ITB Bandung.

HS memegang teguh tradisi TNI sebagai “Tentara Rakyat.” Ia menempuh “Strategi of indirect approach” dalam menghadapi gejolak sosial di Jawa Barat, menolak penyerbuan militer terhadap kampus ITB, 1978. Saat itu ia merasa terjepit antara tradisi dan nilai TNI dengan perintah petinggi militer di Jakarta, HS merasa sebagai perajurit tetap loyal tetapi ia melakukannya dengan cara Jawa Barat saat menangani gerakan mahasiswa, yaitu “meunang laukna herang caina” (dapat mengambil ikannya tanpa membuat keruh airnya, pen), artinya memecahkan masalah tanpa membuat gejolak.

Tahun 1981-1983, se4bagai Pangkowilhan III/Sulawesi-Kalimantan.

Tahun 1983, HS dengan iparnya Susilo Sudarman, sama-sama berpangkat Letnan Jenderal.

Tahun 1984-1988, HS menjadi Duta Besar RI untuk Malaysia, kali ini HS banyak menulis di majalah Teknologi Strategi Militer, koran Suara Pembaruan, dan majalah Simpay Siliwangi. Ia juga menulis buku Perintah Presiden Soekarno, Rebut Kembali Madiun.

Guru Militer Akmil, Perwira Operasi UNOC-PBB di Konggo, KasBrigif, Adisten Operasi Kodam VI/Siliwangi, Wagub Akabri, Komandan Brigade UNEF 2-PBB di Mesir, Kasops Dephankam dan Kasum ABRI.

Rabu , 20 Oktober  2010,  pukul 09.51 WIB,  Letjen TNI (Purn) R Himawan Soetanto, meninggal dunia  di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat Gatot Soebroto Jakarta. Menurut rencana, almarhum akan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Cikutra, Bandung, hari ini.=S1Wh

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Magetan, Pejabat Negara, Sosok, Th. 2010 dan tag , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s