Buto-Butoan, Kabupaten Jem­ber


Buto-Butoandi Desa Jelbuk

Buto-butoan003Desa Jelbuk Kecamatan Jelbuk Kabupaten Jem­ber memiliki tradisi unik menyambut da­tangnya bulan suci Ramadhan. Warga desa setempat menggelar seni tradisi Buto-Butoan.

Kegiatan ini di luar kebiasaan seni tradisi masyarakat umum­nya. Warga setempat menama­kan tradisi tersebut dengan nama “Buto-butoan”.

Tradisi buto-butoan adalah kesenian khas Jember. Di tanah Jawa seni hasil kreasi rakyat ini sering digelar saat acara perkawinan maupun sunatan dan kegiatan lain. Namun paling meri­ah saat menyambut bulan puasa. Hal ini menunjuk­kan hubungan seni tradisi dengan nilai-nilai keislaman masyarakat santri. Dan bukti tak ada masalah antara agama dan budaya sebab seni-budaya sudah sejak zaman Walisongo menjadi media dak­wah agama Islam.

Buto-butoan002“Kita bangga memiliki tradisi dan budaya sendiri, karena itu bu­daya buto-butoan akan terus kita lestarikan,” ujar Jaswadi salah satu warga Desa Jelbuk.

Seni buto-butoan sendiri merupa­kan modifikasi antara seni jaranan dan kesenian ondel-ondel. Itu pun hanya ada di Jember utara yang mayoritas masyarakatnya buruh perkebunan dan beretnis Madura migran. Secara kultural masyarakat Jember utara merupakan pendu­kung utama tatanan masyarakat santri. Terlepas dari bagaimana    terjadi­nya   kreasi   tradisi buto-butoan itu dulu, sampai sekarang ke-senian   ini   masih berkembang subur, walau kesenian itu sendiri hampir tak pernah disapa oleh para elite di Kabu­paten Jember.

Buto-butoanPergelaran buto-butoan ini merupakan tradisi tahunan yang tetap eksis sampai sekarang. Warga tak peduli, apakah pemen­tasan itu mendapat apresiasi dari Pemkab atau tidak, mereka cuek saja. Mereka terus menari, sambil berdendang dan menabuh tetabuan dengan riang menyambut suka cita datangnya bulan suci Ramadhan. ” Ya ini tradisi kami. Tradisi yang menggambarkan suka cita warga,” ujarnya.

warga berharap Pemkab Jember peduli pada nasib kesenian ini. “Pemkab harus memberdayakan potensi seni tradisi sebagai media perekat rakyat menghadapi ke­pongahan arus besar modernisasi.(ali)

SUARA DESA, Edisi 05, 15 Juni-15 Juli 2012, hlm. 18

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Jember, Seni Budaya, Th. 2012 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s