Asal Mula Topeng Madura


Pada abad ke XIV Madura menjadi kerajaan Vasal dari Majapahit. Tentulah sedikit banyak kultural Majapahit mempengaruhi kehidupan seni budaya dalam istana Madura, khususnya pengaruh dari gaya beberapa jenis kesenian. Namun kita tidak pernah memperoleh petunjuk dari pustaka- pustaka Madura yang menyatakan bahwa pada masa itu dalam istana Madura telah pula dipertunjukkan tari topeng dalam rangka upacara keagamaan sebagaimana yang dilakukan oleh para raja Majapahit. Sebagaimana diketahui para raja Majapahit dalam upacara keagamaan selalu mempertunjukkan tari topeng yang bersifat magis-religius sebagai praktek kultur nenek moyang, pada dewa (disebutkah dalam Negarakertagama tembang ke 91 bait ke 4, disebutkan dalam pararaton). Jadi kita belum lagi memperoleh petunjuk bahwa saat ini Madura biasa mempertunjukkan tari topeng yang bersifat magis-religius. Meskipun dalam salah satu pustaka babad Madura ada disebutkan bahwa pada abad ke XIV semasa Prabu Menaksenaya memerintah kerajaan Jamberingin (Pamekasan), diusahakan pembuatan topeng (topeng dalam bahasa Madura), yang dibuat model adalah wajah tokoh-tokoh wayang, (B. Soelarto).

Setelah kerajaan Majapahit runtuh pada abad XV dan agama Islam mulai berkembang di Madura yaitu pada abad XV – XVI, maka mulailah dikenal secara meluas di Madura kata “topeng dalang”. Yang berbentuk teater topeng.

Pada abad ke XV, topeng dalang yang semula hanyalah jenis pertunjukkan rakyat menjadi salah satu jenis pertunjukkan istana yang sangat dibanggakan oleh raja Madura dan raja Jawa. Dengan adanya hubungan antara raja Madura dengan raja Jawa, kemudian mulailah bentuk topeng diperindah dengan membuat topeng ukiran.

Semasa pemerintahan Susuhunan Pakubuwono III (1741 – 1787) perbendaharaan topeng diperkaya dengan wajah tokoh wayang kulit. Pembaharuan topeng dengan model tokoh wayang kulit kemudian meluas sampai pada masyarakat pedesaan (lihat bentuk topeng Madura pada gambar yang sesuai dengan wajah tokoh wayang kufit).

Sejak dasawarsa ke tiga abad ke XX, pembinaan jenis topeng dalam istana-istana para raja Madura kian lama kian menurun sehingga akhirnya terhenti sama sekali. Begitu pula dengan pembuatan-pembuatan topeng oleh para pengukir terhenti. Akan tetapi justru di kalangan masyarakat pedesaaan kesenian topeng masih terus dihayati, bahkan menjadi salah satu kesenian yang khas. Para pengukir topeng di pedesaan pun terus melakukan pembuatan, walaupun hasil pengukirannya masih dibawah hasil pengukir istana.

Sampai saat ini masih ada dari seniman pengukir Madura yang terus melestarikan pembuatan topeng dengan pola tradisional. Berkat usaha para seniman inilah, maka seniman topeng Madura tetap lestari dan dijiayati masyarakat hingga sekarang.

 

Mputantular: Seri Mengenal koleksi museum Negeri Propinsi Jawa Timur, Surabaya: Bagian Proyek Pembinaan Permuseuman Jawa Timur,1995, hlm. 38-39

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Madura, Sejarah, Th. 1995 dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s