KH. Imam Zarkasyi, Kabupaten Ponorogo


KH Imam Zarkasyi21 Maret 1910, KH. Imam Zarkasyi lahir di desa Gontor, Jawa Timur, Indonesia. Putera ketujuh dari Kyai Santoso Anom Bashari, generasi ketiga dari pimpinan pondok Gontor Lama dan generasi kelima dari pangeran Hadiraja Adopati Anom, putra Sultan kesepuluh Cirebon, Sedangkan ibunya adalah keturunan Bupati Suriadiningrat yang terkenak pada zaman Mangkubumen dan Panembangan (Mangkunegara)

Sejak kecil Imam Zarkasyi sudah hidup sebagai anak yatim, ayahnya meninggal saat beliau berumur delapan tahun.

Tahun 1920, Imam Zarkasyi mulai belajar agama (mondok) di Pesantren Joresan. Karena pemebelajaran di pesantren di laksanakan pada sore hari, maka di pagi harinya ia belajar di sekolah desa Ngelumpang.

Tahun 1923, Imam Zarkasyi melajutkan pendidikan umumnya di sekolah Ongko Loro Jeris dengan masa belajar dua tahun .

Tahun 1925, Setelah menyelesaikan studi di Sekolah Ongkoloro, beliau melanjutkan studinya di Pondok Pesantren Jamsarem Solo. Pada waktu yang sama beliau juga belajar di Sekolah Mamba’ul Ulum. Kemudian masih di kota yang sama ia melanjutkan pendidikannya di Sekolah Arabiyah Adabiyah yang dipimpin oleh KH. M. O. Al-Hisyami, sampai tahun 1930. Selama belajar di sekolah-sekolah tersebut (terutama Sekolah Arabiyah Adabiyah) beliau sangat tertarik dan kemudian mendalami pelajaran bahasa Arab.

Sewaktu belajar di Solo, guru yang paling banyak mengisi dan mengarahkan Imam Zarkasyi adalah al-Hasyimi, seorang ulama, tokoh politik dan sekaligus sastrawan dari Tunisia yang diasingkan oleh Pemerintah Perancis di wilayah penjajahan Belanda, dan akhirnya menetap di Solo.

Tahun 1935, menyelesaikan pendidikannya di Solo, Imam Zarkasyi meneruskan studinya ke Kweekschool di Padang Panjang, Sumatera Barat.

Tahun 1936, Setelah tamat belajar di Kweekschool, beliau diminta menjadi direktur Perguruan tersebut oleh gurunya, Mahmud Yunus. Tetapi Imam Zarkasyi hanya dapat memenuhi permintaan dan kepercayaan tersebut selama satu tahun dengan pertimbangan tujuan utamanya setelah menuntut ilmu. Imam Zarkasyi melihat bahwa Gontor lebih memerlukan kehadirannya. Di samping itu, kakaknya Ahmad Sahal yang bekerja keras mengembangkan pendidikan di Gontor tidak mengizinkan Imam Zarkasyi berlama-lama berada di luar lingkungan pendidikan Gontor.

Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo KH. Imam Zarkasyi bersama kedua kakaknya KH. Ahmad Sahal dan KH.Zainuddin Fannani merintis sebuah Pesantren. Dalam diri ketiganya mengalir darah keluarga Tegalsari, pesantren yang kesohor di abad ke 18.

Bermula dari kesulitan menemukan utusan ke Timur Tengah yang mahir bahasa Arab dan Inggeris pada kongres umat Islam tahun 1926,  para pendiri Gontor terobsesi untuk mencetak ulama yang pandai bahasa Arab dan Inggeris.

Namun bukan satu-satunya factor. Dunia pesantren selalu dilecehkan orientalis karena kumuh, berfikiran picik, ekslusif dan mundur dalam bidang pengetahuan juga menjadi pemicunya.

Harus ada pesantren yang tidak kumuh, berfikiran luas, terbuka dan berfikiran progressif. Para santrinya tidak hanya dibekali pengetahuan dasar tentang Islam (ulum al-syariyyah), tapi juga diajari ilmu pengetahuan “umum” (ulum naqliyyah atau ulum kauniyyah).

Tahun 1936, kreteria Pesantren seperti itu benar-benar berdiri, masyarakat lalu menyebutnya Pondok Modern. Nama yang melekat dengan nama aslinya Darussalam, yang berada di Desa Gontor. Gontor sebagai lembaga pendidikan dengan gaya baru, Imam Zarkasyi segera memperkenalkan program pendidikan baru yang diberi nama Kulliyatu-l Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI) dan ia sendiri bertindak sebagai direkturnya.

Pada masa pendudukan Jepang, beliau pernah aktif membina dan menjadi dosen di barisan Hizbullah di Cibarusa, Jawa Barat.

Tahun 1943, Imam Zarkasyi diminta untuk menjadi kepala Kantor Agama Karesidenan Madiun.

Tahun 1946, Imam Zarkasyi diangkat menjadi sebagai Kepala Seksi Pendidikan Kementerian Agama dari anggota Komite Penelitian Pendidikan.

Tahun1948-1955, selama 8 tahun Beliau dipercaya sebagai Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Islam Indonesia (PGII) yang sekretarisnya waktu itu dipegang oleh KH. E.Z. Muttaqin. dan selanjutnya beliau menjadi penasehat tetapnya.

Tahun 1951-1953, Di Kementrian Agama, KH Imam Zarkasyi menjadi Kepala Bagian Perencanaan Pendidikan Agama pada Sekolah Dasar Kementerian Agama.

Tahun 1953, Imam Zarkasyi menjabat sebagai Kepala Dewan Pengawas Pendidikan Agama.

Tahun 1957, Imam Zarkasyi menjabat sebagai Ketua Majelis Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama (MP3A) Departemen Agama, Anggota Badan Perencana Peraturan Pokok Pendidikan Swasta Kementerian Pendidikan.

Tahun 1959, Imam Zarkasyi diangkat oleh Presiden Soekarno menjadi anggota Dewan Perancang Nasional (Deppernas).

Tahun 1962, dalam percaturan internasional, Imam Zarkasyi pernah menjadi anggota delegasi Indonesia dalam peninjauan ke negara-negara Uni Soviet.

Tahun 1972, Imam Zarkasyi mewakili Indonesia dalam Mu’tamar Majma’ Al-Bunuth al-Islamiyah (Mu’tamar Akademisi Islam se-Dunia), ke-7 yang berlangsung di Kairo. Di samping itu, ia juga menjadi Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat.

Sebagai aktivis dibidang pendidikan, sosial dan politik kenegaraan, Imam Zarkasyi juga ulama yang produktif dalam tulis-menulis. Beliau banyak meninggalkan karya ilmiah hingga saat ini masih dapat dinikmati. Sesuai dengan niatan beliau saat dibukanya KMI tahun 1936, beliau berkata: “Seandainya saya tidak berhasil mengajar dengan cara ini, saya akan mengajar dengan pena.”

Di antara karya tulis yang di hasilkan Imam Zarkasyi adalah Senjata Penganjur dan Pemimpin Islam, Pedoman Pendidikan Modern, Kursus Agama Islam. Ketiga buku tersebut ditulis bersama KH Zainuddin Fannanie. Selanjutnya ia menulis Ushuluddin (pelajaran Aqo’id atau Keimanan), Pelajaran Fiqih I dan II, Pelajaran Tajwid, Bimbingan Keimanan, Qowaidul imla’, Pelajaran Bahasa Arab I dan II berikut kamusnya, Tamrinat I, II dan III, beserta kamusnya dan buku-buku pelajaran lainnya. Selain itu Imam Zarkasyi juga menulis beberapa petunjuk teknik bagi para santri dan guru di Pondok Darussalam Gontor dalam berbagai masalah yang berkaitan dengan pendidikan di pesantren tersebut, termasuk metode mengajar beberapa mata pelajaran. Buku-buku karangan beliau hingga kini masih dipakai di KMI Pondok Modern Darussalam Gontor dan pondok-pondok pesantren alumni Gontor serta beberapa sekolah agama.

30 April 1985 pukul 21.00 WIB beliau meninggal dunia di Rumah Sakit Umum Madiun. pada umur 84 tahun beliau meninggalkan seorang istri dan 11 orang putra-putri.

Yaitu : KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, M.A. (Alumni al-Azhar University Cairo dan salah seorang Pimpinan Pondok Modern Darussalam Gontor), 2). Hj. Siti Khuriyyah Subakir (Alumni Mu’alimmat Muhammadiyah Yogyakarta), 3). Hj. Dra. Siti Rosyidah (Alumni IKIP Negeri  Yogyakarta), guru SMA-SPG Negeri Ponorogo, Dosen ISID Gontor), 4) Drs. Amal Fathullah Zarkasyi, M.A (Alumni Darul Ulum Cairo, Pudek I Fak. Ushuluddin ISID Gontor), 5). Dra. Hj. Annisah Fatimah Tijani (Alumni IAIN Sunan Kalijogo, Direktris Mu’alimmat Al Amin Madura), 6). Siti Farid Ismail (Alumni PKU Muhammadiyah Yogyakarta, Bidan SRSU Ponrorogo). 7) Dra. Maimunah Alamsyah (Alumni IAIN Sunan Ampel. Dosen STIE Banjarmasin. 8). H. DR Ahmad Hidayatullah Zarkasyi, MA (Alumni College University of the Punjab Pakistan , Pengasuh Pondok Putri Mantingan, Dosen ISID Gontor). 9) H. Hamid Fahmi Zarkasyi, MA Ed (Alumni Institut of Educatioan an Research University of the Punjab University Lahore), 10). Drs. Nasrullah Zainul Muttaqin (Alumni SASDAYA UGM Yogyakarta, Dosen ISID Gontor). 11) Ir. Muhammada Ridho, MM (Alumni FTP Yogyakarta).

Karya tulis yang dihasilkan:

1.   Senjata Penganjur

2.   Pedoman Pendidikan Modern

3.   Kursus bahasa Islam (No 1,2,3 tersebut ditulis bersama KH Zainuddin Fanani)

Adapun buku-buku yang beliau tulis sendiri adalah :

4.   Ushuluddin (Pelajaran ‘Aqaid/Keimanan)

5.   Pelajaran Fiqh I dan II

6.   Pelajaran Tajwid

7.   Bimbingan Keimanan

8.   Qowa’idul Imla’

9.   Pelajaran Huruf Al Qur’an I dan II

Dan dibantu oleh Ustadz Imam Subani, beliau menyusun buku:

10. Pelajaran Bahasa Arab I dan II (beserta Kamusnya)

11. .At-tamrinat jilid I, II, III (beserta kamusnya)

12. I’rabu Amtsilati-Al Jumal,  jilid I &  II.=S1Wh0T0=

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sosok, Th. 1985 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s