Sawung Jabo, Mochamad Djohansyah, Surabaya


4 Mei 1951, Mochamad Djohansyah lahir di Surabaya, Jawa Timur, Indonesia.

Tahun 1976, Djohansyah arek kampung Ampel, kawasan Surabaya utara ini, kuliah musik klasik di Akademi Musik Indonesia (AMI) di Yogyakarta. Disini Jabo mengasah bakat seninya bersama komunitas seniman Yogyakarta, mendapat panggilan “Sawung Jabo” dari kakak-kakak kelasnya. Sawung Jabo tergabung dalam kelompok yang pernah terkenal di Yogyakarta, yaitu “Kelompok Kampungan” bersama Bram Makahekum.

Tahun 1976, Djohansyah mendirikan kelompoknya, “Sirkus Barock” yang embrionya KAAS (Keluarga Arek-Arek Suroboyo) yang belajar di Yogyakarta dan juga mahasisiwa AMI dan ASRI (Akademi Seni Rupa Indonesia). Pemain tetap “Sirkus Barock” antara lain Innisisri, Nanoe, Totok Tewel, dan Edi Darome, didukung musisi-musisi lain. Pementasan konser “Sirkus Barock” selalu sarat dengan nuansa teatrikal. “Sirkus Barock” mengeluarkan album Anak Setan.

Tahun 1977, Jabo bergabung dengan Bengkel Teater Rendra asuhan seniman senior Indonesia W.S. Rendra di Yogyakarta, dimana dia mempelajari kemampuan penguasaan panggung.

Tahun 1978, Jabo mengenal Suzan Piper yang warga negara Australia.

jaboTahun 1979,  Jabo menikahi Suzan Piper, warga negara Australia yang dikenal setahun yang lalu. Jabo kemudian hijrah ke Australia untuk memperdalam kemampuan musiknya.

Tahun 1986, Jabo Bersama Sirkus Barock menghasilkan album – Anak Setan – Insan Records

Tahun 1988 Jabo Bersama Sirkus Barock merilis album – Balada Pengangguran – Sepuluh Bintang Nusantara, Team Records

Tahun 1989 Jabo Bersama Sirkus Barock menghasilkan album – Bukan Debu Jalanan – Liman Arca Putra Records

Tahun 1989, Bersama “Swami” Jabo menghasilkan album Swami I, dengan hits “Bento” dan “Bongkar”- Airo Records Productions.

Tahun 1980-an akhir, Jabo pulang ke Indonesia, kali ini ke Jakarta dan mendirikan kelompok “Swami” yang di dalamnya terdapat para personel “Sirkus Barock”, ditambah musisi Iwan Fals dan Naniel.

Tahun 1990, sebagian dari anggota kelompok Swami bergabung dengan Setiawan Djodi dan W.S. Rendra dan membentuk proyek musik Kantata.

23 Juni 1990, berpentas di Stadion Utama Gelora Bung Karno dengan tajuk “Kantata Takwa”. Kantata juga berpentas di kota Solo dan Surabaya dengan nama pentas yang sama. Konser Kantata tersebut mencatat rekor jumlah penonton saat diadakan di Jakarta. Lagu-lagu mereka menjadi populer setelah dimainkan dalam konser akbar Kantata Takwa  tersebut.

Tahun 1990, Jabo bersama Kantata menghasilkan album – Kantata Takwa – Airo Records Productions serta – Kantata Revolvere – Airo Records Productions

Agustus 1990,  Awal Pembuatan film dokumenter musikal “Kantata Takwa”  saat Jabo masih tergabung dalam proyek musik Kantata, namun baru bisa dirilis September 2008 karena pencekalan. Jabo tampil bersama W.S. Rendra, Iwan Fals, Jockie Suryoprayogo, dan Setiawan Djodi, anggota proyek Kantata. Film tersebut dibuat berdasarkan konser akbar proyek Kantata Takwa di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, 23 Juni 1990.

Tahun 1991, Pemenang, BASF Award, Best Creative Rock Song – Bento, serta Pemenang, BASF Award, Best Creative Rock Album – Bento.

Tahun 1991, Bersama Swami Jabo menghasilkan – Swami II – Airo Records Productions

Tahun 1991, Kemudian Jockie Suryoprayogo bergabung dengan Swami, dan merilis album Swami II , dengan hits “Hio”, “Kuda Lumping” dan “Nyanyian Jiwa”.

Tahun, 1991, Jabo mengeluarkan Album – Matahari dan Rembulan – album Nicky Astria; lirik, musik, aransemen oleh Sawung Jabo, Citranada Utamamegah

Konsep musik yang dibawakan Sawung Jabo pada era Sirkus Barock, Swami dan Kantata dikenal penuh pendewasaan dan kepolosan, diiringi dengan musik yang dinamis. Jabo juga dikenal dengan teriakan-teriakannya yang garang, liar, dan nyentrik dalam pentas-pentasnya.

Tahun 1992, Jabo mendirikan proyek musik “Dalbo” dan merilis album Dalbo.

Setelah album Dalbo, Jabo kembali ke Australia dan banyak beraktivitas di sana. Kembali ke Indonesia pada akhir tahun 90-an, Jabo mendirikan “Goro-Goro”, bersama sejumlah musisi muda Yogyakarta dan merilis album “Goro-Goro”, album yang terinspirasi oleh gonjang-ganjingnya situasi Indonesia di era reformasi saat itu. Mereka kemudian berkeliling di daerah Tapal Kuda di Jawa Timur.

Tahun 1992, Pemenang, BASF Award, Best Creative Rock Album – Hio, dan Pemenang, BASF Award, Best Creative Rock Song- Hio.

Tahun 1992, merilis album solo Badut – Satria Kurnia Irama.

Tahun 1993 Jabo Bersama Sirkus Barock merilis album – Kanvas Putih – Metrotama Records

Tahun 1993, merilis album Anak Wayang dimana dia berduet dengan Iwan Fals, serta merilis album solonya, “Badut”.

Tahun 1993, Pemenang, HDX Award, Creative Pop Song – Dalbo, serta Calon pemenang, HDX Award, Best Selling Pop Song – Dalbo.

Tahun, 1993, Jabo menghasilkan Album – Dalbo – Airo Records Productions

Tahun 1994, mengeluarkan tujuh album Fatamorgana.

Tahun 1994 Jabo Bersama Sirkus Barock menghasilkan album – Fatamorgana – Boulevard International

Tahun 1994, Jabo mengeluarkan Album – Anak Wayang – Sawung Jabo & Iwan Fals, Metrotama Records

Tahun ,1995 Jabo menghasilkan Album – Sengkata – Nicky Ukur; lirik, musik, aransemen oleh Sawung Jabo, Supranada Abadi Records

Tahun 1995 & 1996, Tur ke Sydney & Melbourne.

Tahun 1996,  merilis album “Fatamorgana” kembali bersama Sirkus Barock, pentas di GKJ dalam pentas berjudul “Bayang-Bayang”.

Tahun 1996 , Bersama Kantata Jabo menghasilkan album – Kantata Samsara – Hitam Putih – Sawung Jabo & Friends; Airo Records Production

Tahun 1997, album “Musik dari Seberang Laut” yang dimasukan dalam album kompilasi “Worldmusic” di Australia dengan judul “World Without Borders”.

Tahun ,1997 Jabo mengeluarkan Album – Musik dari Seberang Laut – dalam “World Without Borders”, Sawung Jabo & Friends, Larrikin Records; Dunia Cinta – Rachel, lirik, musik, aransemen oleh Sawung Jabo, Airo Records Productions.

Tahun 1998, Jabo menghasilkan Album – Goro-Goro – Goro-Goro

Tahun 1998, Jabo bergabung kembali dengan proyek Kantata pada pementasan “Kantata Samsara”.

Tahun 1999, Jabo mengeluarkan Album – Jagad – Jagad, Log Zhelebour

Tahun 2000, lagu-lagu Jabo lebih bernuansa religius, menggali makna hidup, cinta, dan perenungan.

Tahun 2000, Jabo menghasilkan Album – GengGong – Not Just Music – Wot Cross-cultural Synergy & Rumah Nusantara.

Tahun 2001 Jabo Bersama Sirkus Barock merilis album – Jula Juli Anak Negeri – Album Antologi Sirkus Barock, GPS

Kembali ke Australia, dia membentuk “Geng Gong” bersama Ron Reeves, Kim Sanders, dan Reza Achman, melakukan tur di tahun 2000 dan 2003. Pada tahun yang sama dia dinominasikan dalam AMI Award untuk kategori World Music. Dia juga menggagas kelompok Teater Gerak Oyot Suket (akar rumput) yang pentas keliling Jawa, antara lain di kota Yogyakarta, Jakarta, dan Bandung.

Tahun 2004 awal, Jabo kembali berpentas di Sidoarjo bersama kelompok Sirkus Barock yang kali ini diisi oleh Innisisri, Totok Tewel, Edi Darome, ditambah Boss, dan Ipul (“Jangan Asem”, “Sby”). Mereka berkolaborasi bersama Kelompok Swaraparawatu di Sidoarjo dan perkusi Magic Skin of Drums di Bandung. Di tahun ini Jabo Bersama BalladNa merilis – Tentang Hidup Tentang Cinta – rekaman live, Rumah Nusantara

Selama di Australia Jabo mempersiapkan pementasan teater Sawung Galing bersama sutradara Australia Don Mamoune yang berpentas di Indonesia pada bulan September di lima kota, antara lain Jakarta, Bandung, Yogyakarta, Solo, dan Surabaya.

Dari pergaulannya di kalangan seniman Bandung, Jabo kemudian membentuk sebuah grup tak resmi bernama BalladNa yang membawakan lagu-lagu bertema cinta dan perenungan , kelompok ini terdiri antara lain dari Hari Pochang (Gitar, Harmonika), Mukti Mukti (Gitar, Vokal), Efiq Zulfiqar (Perkusi, Suling, Flute, Kecapi) dari Bandung, dan Firman Sitompul (Cello) dari Yogyakarta.

Tahun 2005, Jabo mengeluarkan Album – Gong Dolly Gong – musik, lirik, aransemen, dan featured artist.

Tahun 2006, Jabo menghasilkan Album – Antologi, Jabo and friends – CD dan DVD, rekaman live, Wot Cross-cultural Synergy & Rumah Nusantara; Blue On Stone, aransemen Sawung Jabo, Naga Swara.

Tahun 2008, Sawung Jabo tampil dalam film dokumenter musikal “Kantata Takwa” arahan sutradara Eros Djarot dan Gotot Prakosa. Film ini sempat dicekal dalam era Orde Baru karena kritisasinya yang keras pada kondisi dan sistem pemerintahan Indonesia.

Tahun 2008, Jabo mengeluarkan Album – Memasuki Lorong Sunyi

Tahun 2009, Jabo menghasilkan Album – Petarung Hidup

Jabo saat ini menetap di Sydney, Australia bersama istrinya yang warga negara Australia dan kedua orang anaknya. Namun Jabo juga dikenal dengan rasa cintanya yang besar kepada tanah kelahirannya. =S1Wh0T0=

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seniman, Sosok, Surabaya, Th. 2009 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s