Adheg Omah. Kabupaten Blitar


Upacara Adheg Omah (Mendirikan Rumah)

Rumah merupakan tempat tinggal yang dapat menumbuhkan ransangari kejiwaan, dan dapat menggugah rasa serta suasana damai, aman, tentram penuh kerukunan, dalam mengembangkan dan membangun diri maupun keluarganya, untuk mencapai kesejahteraan serta kebahagian hidup lahir maupun batin. Dengan peranan rumah yang demikian, maka akan mempengaruhi seseorang dalam Adheg Omah (mendirikan rumah), yaitu selalu dengan mengadakan upacara atau yang sering disebut upacara mendirikan rumah.

Dalam mendirikan rumah, sebelumnya terlebih dahulu menanyakan tentang hari yang baik untuk mendirikan rumah, pada orang tua yang ada di desanya atau dari luar desanya, yang mampu dan mengetahui penanggalan yang baik untuk seseorang melakukan kegiatan mendirikan rumah. Begitu pula syarat atau sarana apa saja yang harus disediakan. Setelah persyaratan untuk mendirikan rumah selanjutnya dipahami, maka tinggal menunggu saat pelaksanaan pendirian rumah.

Upacara Adheg Omah pada kenyataannya dapat dikategorikan menjadi 3 (tiga) tahap kegiatan, yaitu:

1) kegiatan upacara sewaktu membuat pondasi rumah,

2) kegiatan upacara pada saat menegakkan tiang-tiang rumah (terutama tiang besar atau utama), dan

3) kegiatan upacara pada waktu memasang genteng.

Seluruh tahapan kegiatan upacara mendirikan rumah, sudah ditempatkan pada bangunan yang sedang dibangun. Kenyataan ini dapar disesuaikan dengan jalan fikiran mereka, bahkan yang diharapkan yaitu selamat dan lancar proses pembangunnya. Pada pelaksanaannya, kegiatan upacara Adheg Omah ini diselenggarakan pada pagi hari. Hal ini dapat dilaksanakan, karena pada prinsipnya para peserta utamanya adalah tukang- tukang dan kerabat-kerabat sendiri, ditambah dengan beberapa tetangga dekat yang sebagian besar merupakan tenaga pelaksana pembangunan rumah tersebut.

 

Empunya haj ad, atau pemilik bangunan yang akan dibangun. Adapun para peserta upacara ini terdiri dari para kerabat, tetangga dekat ditambah dengan tenaga-tenaga tukang dan tenaga sukarela tertentu (tenaga sambatan : bahasa jawa). Tetangga dekat tersebut terdiri dari 2 (dua) pihak yaitu :

  • tetangga dekat lama, terdiri dari orang-orang disekitar tempat tinggal si empunya hajad.
  • tetangga dekat baru, terdiri dari orang-orang disekitar lokasi bangunan rumah yang akan ditegakkan.

Pelaksanaan upacara mendirikan rumah biasanya dipimpin oleh tokoh atau tetua desa, yang dianggap mampu memimpin jalannya upacara. Orang menjadi pemimpin jalannya upacara disebut dukun. Seorang dukun dilingkungan masyarakat pedesaan, sangat dipercayai dan mengusai ilmu gaib (ngelmu : bahasa jawa).

Peralatan atau sarana yang dipergunakan untuk upacara mendirikan rumah adalah jenang sengkala, atau sering disebut dengan upacar selamatan jenang sengkala. Kegiatan ini dilakukan pada saat orang mau menggali tanah untuk membangun pondasi rumah. Upacara slametan lainnya yang agak besar dan sarananya lebih banyak atau lengkap, yaitu sewaktu pembangunan rumah sudah menginjak pada kegiatan menegakkan tiang rumah, terutama pendirian saka guru yang berjumlah 4 (empat) buah. Peralatan atau sarana upacara untuk mendirikan rumah adalah sebagai berikut:

  1. Slametan jenang sengkala yang terdiri dari bubur putih, ditempatkan pada takir (atau piring). Ditengah bubur putih tersebut diberi bubur manis/merah, yaitu bubur putih yang diolah dengan air gula merah, sehingga agak merah kecoklatan warnanya. Itulah sebabnya slametan jenag sengkala sering disebut pula sebagai slametan jenang abang/merah.
  2. Slametan berikutnya pendirian saka guru, peralatan upacara yang dipergunakan adalah:

a. Jenis wadah

  • Nyiru (tampah/tempeh : bahasa Jawa)
  • Takir (wadah yang terbuat dari daun pisang)
    • Cowek (bentuk seperti piring yang terbuat dari tembikar/tanah bakar)
    • kemarang (anyaman lidi)
    • Gelas, piring, baki dan lainsebagainya.

b. Jenis makanan yang dihidangkan/dibagaikan pada upacara slametan tersebut :

  • Sego gurih atau sego wara (nasi putih yang gurih rasanya, karena dalam proses pengolahannya nasai tersebut terlebih dahulu direbus dengan santan kelapa yang kental (santan kanil: bahasa jawa). Atau juga sego golong yaitu nasi putih yang dibulatkan, kemudian dibungkus menjadi beberapa bungkusan yang sama besarnya.
  • Ingkung adalah masakan seekor ayam utuh. Artinya masakan tersebut masih berujud seekor ayam, karena hanya diambil isi perut (jerohan: bahasa jawa) nya saja.
  • Pala kependem yaitu ubi-ubian yang terpendam didalam tanah, seperti : suweg, bothe, uwi, ketela, ganyong, garut, dan lain sebagainya.
  • Pisang raja yaitu jenis pisang yang sangat dominan sebagai alat upacara, sedang jenis pisang lainnya kurang berperanan dalam sistem upacara.
  • Ø Bunga-bungaan yaitu terutama jenis bunga melati, mawar dan kenanga, yang ketiga-tiganya sering disebut kembang setaman.
  • Tebu jenis tumbuhan ini mudah tumbuhnya serta batangnya mengandung air yang rasanya manis.
  • Cok bakal adalah gabungan beberapa benda atau alat upacara, misalnya: sejumput beras, gula, tembakau, bumbu empon-empon, garam, daging kelapa, kembang boreh, dan daun sirih.
  • Brabon adalah sepotong kain merah yang diletakkan diatas ke­empat saka guru sebagai simbol penolak bahaya. Di bawahnya ada kain putih berpinggir warna biru.
  • Selendang atau kain panjang (jarik atau sewek : bahasa jawa).
  • Cangkir kuning gading, padi, daun beringin, daun kelapa muda (janur: bahasa jawa), daun puring, dan mata uang logam.

Tempat untuk melaksanakan jalannya upacara Adheg Omah adalah tempat yang nantinya akan dibangun rumah, dan khususnya yang akan menjadi ruang tengah atau ruang depan. Beberapa helai tikar digelar/dibeber dan di atasnya diletakkan semua peralatan atau sarana upacara (termasuk hidangan upacaranya). Kemudian para peserta diundang untuk hadir, terutama tenaga tukang dan tenaga sukarela yang akan melaksanakan pembangunan rumah tersebut. Ruangan upacara tersebut diatur sedemikian rupa, agar para peserta dapat duduk bersama dalam posisi mengelilingi peralatan atau sarana upacara.

Jalannya kegiatan upacara Adheg Omah, diawali dengan upacara jenang sengkala. Setelah itu dilanjutkan dengan penggalian tanah untuk pondasi. Lubang galian untuk pondasi tersebut tidaklah harus seluruhnya selesai lebih dahulu, tetapi sebagian saja yang akan dilaksanakan upacara, Apabila sebagian galian tersebut sudah siap, maka dukun upacara menanam­kan sebagian dari jenang sengkala (dalam takir) digalianyang telah disiapkan.

Kegiatan selanjutnya adalah membangun pondasi. Apabila pembuatan pondasi rumah secara keseluruhan telah selesai, maka pada hari berikutnya si empunya hajad (rumah) mengadakan slametan untuk mengantarkan doa bagi kegiatan pembangunan berikutnya, yaitu menegakkan tiang-tiang rumah terutama saka guru yang beijumlah 4 (empat) buah. Semua peralatan atau sarana termasuk hidangan upacaranya telah dipersiapkan diatas lantai (tanah) yang nantinya merupakan ruang tengah atau ruang depan dari rumah yang dibangun.

Setelah peralatan atau sarana yang diperlukan siap semuanya, maka para peserta upacara beserta dukun (pemimpin upacara) duduk bersama mengelilingi peralatan atau sarana upacara tersebut. Sebelum dukun mem­bacakan doa (manteranya) atau yang sering disebut dengan ngujubake, maka diutarakan terlebih dahulu maksud didalam upacara slametan tersebut, kepada para peserta. Selesai mengucap demikian, barulah dukun meng­ucapkan doa atau manteranya untuk memberi selamat kepada kegiatan yang sebentar lagi dimulai, yaitu menegakkan saka guru dan tiang-tiang rumah.

Sesudah seluruhnya diucapkan, maka semua hidangan dibagikan secara adil oleh salah seorang, atau yang sering disebut berkat dan dapat dibawa pulang. Dengan selesainya upacara selamatan tersebut, kegiatan dilanjutkan mendirikan saka guru. Masing-masing saka guru diberi kain bangun tulak yang berupa brabon. Setelah keempat saka guru dapat ditegakkan, maka disusul dengan kegiatan membuat, menyusun rangka rumah bagian atas (nyetel balungan omah sing dhuwur : bahasa jawa).

Dengan semua kegiatan dilakukan secara sabar, tekun dan khidmat, maka barulah berdiri kerangka rumah tersebut. Kegiatan besar ini tidak diupacari terlebih dahulu, sebab kegiatannya sudah termasuk dalam menegakkan tiang-tiang rumah atau saka guru. Apabila kedua kegiatan tersebut telah berakhir, maka jadilah rumah baru.

Dalam mendirikan rumah masyarakat Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar selalu mengadakan upacara slametan, sebelum melaksanakan pembangunannya. Mereka melakukan demikian, karena upacara slametan tersebut mempunyai fungsi untuk menolak atau menghindari bahaya, mencari selamat dan berharap agar seluruh kegiatan pembangunan rumah dapat beijalan lancar.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: WUJUD, ARTI, DAN FUNGSI PUNCAK-PUNCAK KEBUDAYAAN LAMA DAN ASLI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA; Sumbangan Kebudayaan Daerah Terhadap Kebudayaan Nasional; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI, 1996/1997, hlm. 42-46

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Seni Budaya, Th. 1997 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s