Reog Bulkiyo, Kabupaten Blitar


Kesenian Reog Bulkiyo

Masyarakat Kecamatan Nglegok yang mayoritas beragama Islam, sehingga bentuk kesenian hanyalah kesenian-kesenian yang bernafaskan budaya Islam, walaupun juga tidak menutup kemungkinan kesenian-kesenian lainnya, seperti ludruk, ketoprak, wayang dan lain sebagainya dapat hidup dan diterima oleh masyarakat setempat. Adapun kesenian yang bernafaskan budaya Islam, yang ada di Kecamatan Nglegok adalah : Reog Bulkiyo, Jedor, dan Mondreng. Dari jenis kesenian-kesenian tersebut yang hingga saat ini masih bertahan dan dapat dinikmati oleh masyarakat, hanya tinggal Reog Bulkiyo dan Mondreng.

Reog Bulkiyo merupakan salah satu bentuk kesenian trandisional berupa tari-tarian yang bernafaskan budaya Islam. Hal ini terlihat dari temanya yaitu peperangan antara kaum Islam dengan kaum kafir, dan para pemainnya semua laki-laki yang berjumlah 13 orang. Reog Bulkiyo menurut sejarahnya berasal dari mataram, dan sampai di daerah Nglegok tanpa ada per­kembangan atau perubahannya.

Pemain kesenian Reog Bulkiyo dari sejumlah 13 orang tersebut, terbagi menjadi 6 (enam) bagian dan masing-masing bagian tugas sendiri-sendiri, yaitu:

a 5 (lima) orang pembawa terbang )rebana) terdiri dari:

  • 1 buah terbang thrinthing;
  • 1 buah terbang gedug tiga;
  • 1 buah terbang glenyohan;
  • 2 buah terbang gae;

1 orang pembawa 1 pasang kecer/kepyek, yang berfungsi sebagai pengatur irama dari keseluruhan alat musik Reog Bulkiyo.

1 orang peniup Sronen (terompet).

3 orang penabuh kenong dan kempul, terdiri dari :

  •  kempul (jur) dengan nada slendro
  •  kenong dengan 6 slendro
  •  bende dengan nada 1 minir slendro.

1 orang pembawa bendera warna putih. Bendera adalah ungkapan yang memnggambarkan bahwa peperangan antara kebaikan dengan ke­burukan. Bendera tersebut diberi lukisan Dasamuka dan Hanoman. Lukisan Hanoman merupakan gambaran tokoh yang beijiwa kesatria dan berwatak jujur, sedangkan Dasamuka menggambarkan watak angkara murka.

2 orang pembawa pedang yang menggambarkan dua kelompok yang berperang, yaitu kebaikan dan keburukan.

Adapun kesenian Reog Bulkiyo, memiliki beberapa peralatan, terdiri dari:

1)            5 (lima) buah terbang (1 buah terbang thrinthing, 1 buah terbang gedug tiga, 1 buah terbang gleyohan, dan 2 buah terbang gae).

2)            1 (satu) pasang kecer/kepyek.

3)            1 (satu) buah sronen/trompet.

4)            3 (tiga) buah kempul.

Dalam peragaannya, para pemain Reog Bulkiyo tidaklah mengguna­kan rias wajah, sebab tontonan ini merupakan tontonan orang santri, namun dari seluruh pemainnya memakai busana yang berbeda sesuai dengan tugasnya. Busana peraga kesenian Reog Bulkiyo dapat dibedakan menjadi 3 macam, yaitu :

1)            Satu orang pembawa bendera, dengan busana : blangkon, baju putih lengan panjang, beskap waran hitam bertatahkan mote, stagen hijau, epek timang, keris, celana panjang warna hitam, j arit bedog, dan sepatu hitam.

2)            Dua orang pembawa pedang, dengan busana : blangkon, baju putih lengan panjang, beskap hitam, stagen hijau, epek timang, keris, celana sepanjang lutut berwarna merah, dan sepatu hitam.

3)            Enam orang pembawa terbang dan kecer, dengan busana : blangakoan/ udeng giling bawang sebungkul, baju putih lengan panjang, kace hitam, srempang hitam dan merah, stagen hijau, epek timang, keris, boro samir hitam, celana panjang hitam, kain polos warna merah, dan sepatu putih. Busana penabuh kenong, sronen, dan kempul tidak ditentukan.

Bentuk penyajiannya, kesenian Reog Bulkiyo merupakan permainan tari-tarian bersama yang diiringi oleh musik. Adapun peragaannya, para pemain selain memainkan alat musik juga melakukan gerakan-gerakan tari secara bersama-sama. Lagi pula dalam pertunjukkannya tidak disertai dengan vokal, sedang susunan penyajiannya, sebagai berikut:

1)     Paling depan adalah seorang pembawa bendera, dibelakanganya dua orang pembawa pedagang dan diikuti enam praajurit yang berbaris dibelakangnya. Sedang penabuh kempul, kenong, bende, serta peniup sronen duduk ditempat lain.

2)    Kecer dibunyikan diikuti yang lain, dan berjalan menuju ke pentas.

3)   Gerakan-gerakan yanag dilakukan berkisar pada langkah kaki, gerakan tangan, dan kepala. Gerakan yang dilakukan kedua tokoh pembawa pedang diikuti prajurit yang ada dibelakangnya.

4)   Para prajurit mundur dan kedua tokoh pembawa pedang siap berperang.

5)   Teijadilah perang padang dan akhirnya yang kalah lehernya digorok pedang oleh yang menang.

6)   Akhirnya pertunjukkan, iringan musik dengan tempo makin lambat, kemudian pembawa bendera serta kedua pemain pembawa pedang mundur.

Kesenian Reog Bulkiyo merupakan tradisional masyarakat Kecamatan Nglegok, ternyata mempunyai fungsi selain sebagai hiburan juga dimainkan untuk menebus nadar.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: WUJUD, ARTI, DAN FUNGSI PUNCAK-PUNCAK KEBUDAYAAN LAMA DAN ASLI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA; Sumbangan Kebudayaan Daerah Terhadap Kebudayaan Nasional; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI, 1996/1997, hlm. 52-55

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Kesenian, Seni Budaya, Th. 1997 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s