Upacara Ruwahan


Masyarakat dusun Sanan tidak saja mengenal dan melaksanakan upacara Lampet Bendungan, tetapi juga yang lainnya yaitu upacara Ruwahan. Menurut sejarahnya, kegiatan ruwahan ceritanya dilaksanakan semenjak nenek moyang mereka, yang tujuannya untuk menghormati cikal bakal dusun Sanan yaitu mbah Kentosuro-wijoyo. Mbah Kentosuro wijoyo merupakan seorang pengembara (ngumboro : bahasa jawa) dari Mataram yang menuju ke arah Timur, dan suatu saat masuk hutan di daerah Blitar (sekarang), ditempat ini dia membersihkan hutan tersebut. Sewaktu membersihkan hutan mbah Kentosurowijoyo menemukan sumber mata air, dan sejak saat itulah dia membuat gubuk atau rumah kecil untuk tempat tinggalnya (menyanggrah : bahasa jawa).

Upacara Ruwahan dilaksanakan oleh masyarakat dusun Sanan setiap Ruwah (bulan jawa) pada tanggal 15. Pada acara upacara Ruwahan ini, harus diisi hiburan berupa kesenian Jaranan Mentaraman. Mengingat kesenian Jaranan Mentaraman merupakan kesenian yang disenangi oleh mbah Kentosurowijoyo. Kesenian JarananMentaraman adalah kesenian yang berasal dari daerah Mataram, berupa seni tari dan memakai jar an­jar an an terbuat dari kepang dengan ukuran besar, dan para penarinya memakai seragam, yaitu : mengenakan blngkon, baju lengan panjang, selempang, stagen, epek timang, keris, dan celana panjang.

Pelaksanaan upacara Ruwahan di Dusun Sanan, berpusat di sumber mata air Sanan, yamg dianggap masyarakat setempat sebagai punden. Sumber mata air Sanan, sangat penting artinya bagi masyarakat dusun Sanan, karena selain dimanfaatkan untuk mengairi sawah, juga untuk mencuci dan mandi. Namun yang terpenting, dengan adanya sumber mata air di dusun sanan, maka sawah yang berada di Dusun Sanan dan sekitarnya tidak pernah mengalami kesulitan atau kekurangan air untuk pengairannya.

Peserta dari upacara Ruwahan ini, adalah penduduk dusun Sanan yang diprakarsai oleh Bapak Kepala Dusun. Untuk kelangsungan pelaksanaan upacara Ruwahan harus sesuai dengan waktu yang sudah ditentukan seperti terurai diatas. Tetapi untuk memberi penghormatan terhadap Mbah Kentosurowijoyo, harus disediakan sesaji, yaitu berupa cok bakal, buceng, dan panggang ayam.

Adapun jalannya upacara, setelah tiba saatnya hari pelaksanaan upacara Ruwahan, semenjak pagi hari penduduk dusun Sanan berdatangan menuju ke punden (sumber mata air), sambil membawa ambeng berisikan buceng lengkap dengan lauknya, cok bakal, dan panggang ayam. Apabila ambeng dari bapak kepala dusun telah datang dan pemimpin upacara telah datang, maka upacara Ruwahan segera dimulai. Setelah semua warga dusun berkumpul, maka bapak kepala dusun memerintahkan untuk segera membersihkan dan memperbaiki sumber mata air telah selesai, maka dilanjutkan dengan persembahan yang dipimpin oleh pemimpin upacara, yaitu mengujubkan sesaji yang ditujukan pada pedanyangan yang berada di punden (sumber mata air). Dengan selesainya pengujuban sesaji dilakukan oleh pemimpin upacara, maka dilanjutkan kenduri bersama dan hiburan kesenian, maka dipergelarkan Jaranan Mataraman.

Masyarakat dusun Sanan mengadakan upacara Ruwahan di tempat Punden (suber mata air), karena upacara tersebut mempunyai fungsi untuk keselamatan bagi penduduk desa Sanan pada umumnya, dan para petani pada khususnya jangan samapi kekurangan air. Selain itu tempat punden (sumebr mata air) tersebut mempunyai fungsi penting bagi masyarakat dusun Sanan dan di luar dusun Sanan yang mempercayainya, sebab apabila akan mempunyai hajad biasanya mereka mengadakan sesaji di punden khususnya pada hari jum’at. maksud melakukan hal demikian, adalah agar dalam pelaksanaan hajad nanti dapat lancar tanpa ada gangguan apapun.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: WUJUD, ARTI, DAN FUNGSI PUNCAK-PUNCAK KEBUDAYAAN LAMA DAN ASLI BAGI MASYARAKAT PENDUKUNGNYA; Sumbangan Kebudayaan Daerah Terhadap Kebudayaan Nasional; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN RI, 1996/1997, hlm. 38-39

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Blitar, Seni Budaya, Th. 1997 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s