Patrol, Kabupaten Banyuwangi


Lokasi dan Daerah Penyebarannya

PATROLDesa Tumenggungan masih berada di dalam kota Banyuwangi, bekas  karesidenan Besuki,  Jawa Timur. agak di bagian timur terhadap alon-alon kota. Desa ini diambil con­toh dalam penelitian Patrol ini oleh karena beberapa kali kesempatan diadakan semacam kompetisi atau lomba patrol, baik sekota Banyu­wangi maupun sekabupaten Banyuwangi, selalu memperoleh penghargaan terbaik.

Lagi pula banyak penduduk di sana yang mempu­nyai keahlian menonjol khususnya dalam pembuatan alat-alat patrol dan musik angklung Banyuwangi pada umumnya.. Akan tetapi permainan patrol sendiri sangat populer hampir diselu- ruh kabupaten Banyuwangi, baik di kota maupun di desa-desa.

Hampir setiap kelompok masyarakat, kampung, pedukuhan, rukun tetangga, mempunyai’ perangkat patrol oleh karena alat musik ini sangat sederhana baik.cara pembuatannya maupun cara memainkan­nya. Semenjak anak-anak, orang remaja dan dewasa, sampai pun yang tua-tua suka sekali memainkannya. Fungsinya yang sangat penting sehubungan, dengan kegiatan di bulan Ramadhan, sebagai nanti akan dijelaskan kemudian, menyebabkan daerah penyebaran patrol ini mencakup hampir seluruh ujung timur Jawa Timur itu. Bahkan permainan ini dikenal juga di daerah Jember, Bondowoso dan Besuki. 

Suasana Permainan dan Latar Belakang Sosial

Salah satu aspek perwujudan kegotongroyongan masyarakat kita adalah kegiatan menjaga keamanan bersama atas lingkungan hidup kita. Kegiatan itu disebut meronda. Malam-malam sekelompok penduduk yang mendapat giliran meronda akan berjaga-jaga di suatu tempat di kampung dan beberapa kali melakukan pengawasan wila­yahnya dengan menginspeksi ini disebut patrol. Untuk mengusir kantuk, kesepian dan sekaligus menghalau penja­hat-penjahat yang akan mengganggu penduduk, maka dicarilah ber­bagai alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian.

Karena pohon bambu banyak didapatkan di sana maka paling mudah adalah me­motong-motong batang bambu itu dan menjadikan suatu alat perku­si atau alat tiup. Naluri aestetika telah mendorong ke arah permain­an musik yang sederhana yang dapat dinikmati. Demikianlah diciptakan berbagai bentuk potongan buluh bambu dengan berbagai cara memainkannya, sehingga menghasilkan perangkat permainan yang bersama-sama menghasilkan musik ensamble yang khas. Orangpun menyebutnya dengan istilah ‘musik patrol’, karena dimainkan ke­tika orang melakukan patrol.

Pada tengah malam sampai hampir menjelang fajar, kita dapat mendengarkannya di desa-desa atau di- kampung-kampung. Akan tetapi pada bulan Ramadhan kegiatan itu ternyata menjadi bertambah ramai dan meriah. Pada jam-jam men jelang sahur, selama sahur sampai menjelang subuh seluruh kelompok masyarakat memainkannya. Tujuan berpatrol dikembangkan men­jadi tujuan membangunkan orang untuk makan sahur.

Dan karena partisipasi remaja, anak-anak dan para pemuda lebih banyak muncul dalam bulan Ramadhan demikian, maka kemeriahanpun bertambah memuncak. Tidak sekedar memainkannya secara ritmis, tetapi ma­lahan banyak disertai dengan nyanyian-nyanyian tradisi daerah, nyanyian-nyanyian keagamaan dan malah nyanyian-nyanyian popu­ler pada masanya. Tak dapat dielakkan lagi alat-alat musiknyapun di­tambah dengan alat-alat musik yang lain seperti gendang, harmonika, gitar, kluncing (triangle), biola bahkan gong. Satu dan lain hal ter­gantung pada kemampuan masyarakat setempat.

Karena setiap desa, setiap kampung, bahkan setiap ling­kungan yang kecil di dalam masyarakat memainkan musik patrol itu pada bulan puasa, maka tidak jarang terjadi perarakan-perarakan mereka bertemu di perempatan jalan, di pertigaan atau di pusat- pusat kegiatan masyarakat seperti alon-alon, kantor desa, pasar dan sebagainya. Sengaja atau tidak pertemuan satu group dengan orang lain, akan mendorong mereka melakukan semacam kompetisi.

Yang satu akan memamerkan keunggulan dalam kekompakannya, yang lain kelengkapan alat-alatnya, yang lain lagi kemampuan menguasai ritme yang sangat sulit dan berbagai kemungkinan yang dianggap akan melebihi group lainnya. Kompetisi itu tidak saja terjadi antara dua group, karena amat sering terjadi lima group sekaligus bertemu di suatu tempat. Dapatlah dibayangkan betapa gaduh dan.ramainya suasana malam itu. Penduduk sekitarnya datang menyaksikan. Juga para suporter dari masing-masing group akan menambah pertemuan mereka menjadi lebih meriah lagi.

Tidak jarang ejek-cemoh, teriak­an dan tepuk tangan ikut memanaskan suasana. Orang menyebutnya dengan istilah ‘patrol caruk’, yang -artinya ‘perang’, kompetisi atau percampuran yang tidak menentu lagi antara pemain pemain patrol itu. Kegaduhan itu baru akan berakhir apabila adzan subuh telah ter­dengar dari masjid dan langgar-langgar, seakan menyerukan per­damaian, persahabatan dan memanggil mereka untuk menutup ma­lam Ramadhan itu dengan bersujud kehadapan Allah yang Maha Besar. Esok hari menahan haus dan lapar kembali, dan esok malam permainan dapat dimulai lagi. Demikianlah sepanjang bulan Rahmadan seluruh Ujung Timur Jawa Timur itu setiap malam dimeriahkan oleh permainan patrol. 

Latar Belakang Perkembangannya.

Sejak kapan permainan patrol ini ada sulitlah diketahui dengan pasti, tetapi mengingat bahwa peralatan yang dipergunakan adalah sangat sederhana, dan kebiasaan meronda sudah cukup dikenal di kalangan masyarakat, pastilah permainan ini juga sudah lama ada. Setidak-tidaknya karena kegiatan semacam ini mulai digalakkan se­jak jaman menjelang kemerdekaan, maka mungkin sekali juga per­mainan ini mulai dikenal.

Mengingat-istilah ‘patrol’ itu sendiri jelas berasal dari bahasa Belanda, maka dapatlah diduga bahwa kegiatan yang semula sudah dikenal dengan nama meronda itu atau ‘ronda’ mendapatkan istilah baru dengan nama ‘patrol’ itu. Tetapi musik bambu bukanlah barang baru di Indonesia. Sejak jaman Indonesia Hindu orang mengenal musik bambu sebagai yang dipergunakan dalam patrol itu dengan nama-nama ‘kenthongan’, angklung, calung, ‘khotekan’, pukul, ataupun tabuh. Pastilah jauh sebelum alat musik itu sudah dikenal sebab po­hon bambu sudah lama tumbuh subur dipelbagai daerah di Indonesia.

Selanjutnya karena kegiatan meronda itu sering tidak melibat­kan banyak orang, maka permainan patrol pada malam-malam di- luar bulan Ramadhanpun tidak selalu dilakukan orang. Kalau toh dilakukan, maka pasti tidak selengkap dan semeriah pada bulan Ramadhan. Sekedar memenuhi fungsinya menghalau kesepian dan mengusir penjahat yang membahayakan keamanan desa. Dan pada bulan Ramadhan, patrol dimainkan orang dengan lebih lengkap, meriah, penuh dengan nyanyian kegembiraan ataupun nyanyian keagamaan, memenuhi fungsinya sebagai pertanda waktu sahur. 

Pemain-pemainnya.

Tak ada batas usia bagi siapa saja yang memainkannya. Semua adalah laki-laki sejumlah delapan atau sampai sekitar dua pu­luh orang. Terbaur antara anak-anak, remaja, dewasa bahkan orang tua. Yang jelas wanita pasti tidak ikut serta di dalamnya karena per­mainan dilakukan tengah malam sampai menjelang pagi. Pakaian me­reka sekenanya saja, pakaian sehari-hari yang mereka kenakan, dan tentu saja karena harus melawan udara dingin diwaktu malam, pa­kaian hangat tak akan mereka lupakan.

 

Peralatan permainan

Peralatan yang pokok dapat dibagi dalam tiga macam bentuk :

a.Bentuk angklung, yaitu potongan-potongan bambu dalam ukuran berurutan, kecil sampai yang besar, menghasilkan nada berurutan kecil sampai besar, menghasilkan nada berurutan dalam laras slendro (mirip slendro). Kadang-kadang hanya lima belah saja tetapi kadang-kadang sampai tujuh atau sembilan, tetapi tidak jarang hanya tiga buah dengan nada-nadanya yang berbeda. Bilah-bilah itu dirangkai dengan tali dan diatur sedemikian rupa hingga nantinya dapat dibaca dengan mudah sambil memainkan­nya.

b.Bentuk kenthongan, yaitu potongan bambu dengan belahan kecil memanjang batangnya sebagai resonator. Ada yang berbelah satu ada yang berbelah dua. Ukurannya pun bermacam-macam, ada yang kecil ada yang begitu besar.

c. Bentuk bumbung, yaitu potongan bambu ukuran besar sekali, panjang sekitar tiga ruas. Ada yang dihentakkan di atas tanah saja sudah menghasilkan suara bas, ada pula yang dengan meniupnya lewat 6uluh bambu yang lebih kecil, menghasilkan suara seperti gong.

 

Itulah sebenarnya alat yang pokok, akan tetapi sekarang ini banyak juga tambahan alat-alat musik yang lain baik dibuat dari bam­bu juga seperti seruling, dhung-dhung,othok-othok, maupun alat mu­sik lain seperti harmonika, gitar, gendhang, gong kempul, keluncing (triangle), biola dsb. 

Jalannya Permainan.

Permainan dapat dilakukan dengan berjalan maupun dengan duduk-duduk di suatu tempat. Tidak ada ketentuan alat musik yang mana akan mendahului dan memimpin permainan, sebab semuanya dilakukan dengan spontanitas bagitu saja. Bila dipakai untuk mengi­ringi lagu, itupun tergantung pada macam lagunya.

Kadang-kadang orang memulai dengan angklungnya baru yang lain mengisinya/ka­dang-kadang orang memulai dari kenthongannya, dan dapat juga dari bumbungnya. Tetapi untuk menjaga kekompakan biasanya salah se­orang yang berpengaruh ditunjuk memegang salah satu alat yang me­nonjol bunyinya dan selanjutnya menjadi pemimpin permainan. Alat demikian disebut “pantus”. Pantus memberi tanda dimulainya permainan dan juga tanda kapan harus dihentikan. Kalau disertai gendhang juga berfungsi sebagai pantus. 

Tanggapan Masyarakat

Sampai sekarang orang masih sangat menggemari permainan ini. Kecuali untuk memenuhi fungsi sebagai pengingat waktu sahur di bulan Ramadhan, tradisi meronda itu sendiri sekarang masih dijalan­kan di segala tempat. Malahan ada usaha-usaha sementara seniman untuk menjadi­kan alat permainan itu menjadi instrument musik yang khas bagi Ba­nyuwangi.

Dan nyatanya memang dapat dipergunakan untuk mengiringi lagu-lagu Banyuwangi sendiri baik yang tradisional maupun yang garapan baru. Perkembangannya yang paling jauh adalah lahir­nya musik angklung yang khas Banyuwangi, di mana potongan-po­tongan bambunya membentuk angklung tersusun semacam calung dan dapat dipergunakan untuk laras pelog dan slendro.

Sehingga disebut pula angklung dwilaras. Perangkat angklung dwi- laras ini dilengkapi dengan gong, ining-ining (kluncing), gendhang, biola, kethuk-kenong. Angklung dwilaras disebut juga dengan ang­klung Blambangan.

Usaha masyarakat untuk melestarikan permainan itu diwujud­kan pula dengan penyelenggaraan kompetisi secara lebih terorganisir dan terarah, sehingga ekses-ekses ‘patrol caruk’ dapat dihindarkan. Usaha ini banyak dibantu dan diprakarsai oleh pemerintah setempat.

PERMAINAN RAKYAT DAERAH JAWA-TIMUR; DEPARTEMEN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN DIREKTORAT SEJARAH DAN NILAI TRADISIONAL PROYEK INVENTARISASI DAN DOKUMENTASI KEBUDAYAAN DAERAH 1983 – 1984, hlm. 173- 179

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Seni Budaya, Th. 1984 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s