Gedhogan atau Gendhongan, Kabupaten Banyuwangi


 Lokasi

GENDHOGAN001Dukuh: Derek – Sokasari Desa:Paspan Kecamatan:Glagah Kabupaten Banyuwangi Menuju ke arah barat kota Banyuwangi, semula menyusuri jalan yang sepi menuju ke kawah Ijen, tetapi segera memasuki jalan desa, berkelok-kelok ke sana kemari untuk menuju ke sebuah rumah seorang wanita desa di padukuhan Derek – Sokasari Kelurahan Paspan Kecamatan Glagah. Di sanalah permainan Gedhogan atau Gendhongan ini kita dapati. 

Peristiwa Permainan

Pukulan kayu terhadap kayu bertalu-talu bersahut-sahutan Diantara dentam dan gelothak bunyi yang terdengar, masih ter­tangkap lembut ada dan tiada denting logam beradu. Lalu suara pe­nyanyi wanita mengalun, sebentar-sebentar ada dialog wanita tua yang segera disambut’tawa ria penonton. Itulah suasana menjelang senja, ketika enam orang wanita, empat diantaranya sudah berke­riput kulit mukanya, sementara mulutnya tak berhenti mengunyah sirih, memainkan apa yang disebut Gedhogan atau Gendhongan. Batang kayu yang telah dibuat ceruk, dalam ukuran panjang dan besarnya yang berbeda-beda, sehari-harinya berfungsi sebagai alat pengalas menghancurkan kulit padi untuk dirubah jadi beras, atau sering juga untuk melumatkan biji jagung ataupun membuat tepung ketela pohon. Itulah Gedhogan atau Gendhongan. Adapun sebagai alat penumbuknya sendiri disebut ” Alu terbuat dari batang kayu sepanjang kira-kira dua meter dan bergaris tengah 7 cm. Tetapi dalam peristiwa permainan ini alat-alat tersebut telah berubah fungsi menjadi penghasil bunyi ritmis yang menimbulkan kenikmatan dengar khas. Pukulan masing-masingnya menghasilkan suatu esamble yang merangsang untuk diisi dengan berbagai perlakuan dan kegem- biraanpun dibangkitkan dalam suasana itu. Nyanyian diperdengar­kan oleh salah satu wanita itu.

Bunyi kluncing dari logam besi hitam mengisi sela-sela ritme, dan se­orang wanita tua bertindak sebagai Pengudang, yaitu mengisi suasana dengan monolognya yang memancing tawaria. Kalau permainan ini sudah mengarah kepada seni pertunjukan hibur­an, maka tidak jarang permainan dilengkapi pula dengan seorang laki-laki sebagai badut dan pelawak. 

Latar Belakang Sosial Budaya.

Semula wanita-wanita itu mempunyai tugas sebagai pekerja- pekerja penumbuk padi ketika dipanggil keluarga untuk memper­siapkan persediaan beras menjelang suatu perhelatan. Pekerjaan itu cukup berat dan karena banyaknya beras yang harus disediakan maka pekerjaanpun dilakukan berhari-hari.

Membosan­kan dan melelahkan. Untuk mengatasi kebosanan dan kelelahan itu­lah diantara phase-phase proses pembuatan beras dari padi itu mere­ ka menyanyikan lagu-lagu. Tak disadari ia memerlukan suatu kejelas­an ritme lagu, maka tanganpun memainkan pukulan-pukulan alu dipermukaan-permukaan gedhogan itu. Ritme itupun disahut secara spontan oleh rekan-rekannya.

Nikmat juga rasanya, dan tanpa lagupun permainan ini cukup menyegarkan kelelahan pikir dan tenaga yang seharian diperas tak henti-hentinya itu. Jadilah kini orang ber­main Gedhogan atau Gendhongan itu. Sebatang logam yang dipukul dengan logam pula, serupa benar dengan pisau yang kasar dan logam kecil penumbuk sirih, menghasilkan denting yang menambah har­monisasi dentam Gedhogan. Naluri Aestetika melembagakan per­mainan ini kearah seni hiburan segar.

Dan kini ketika beras tidak lagi dihasilkan dari padi lewat proses tra­disi Gedhogan, maka permainan Gedhogan atau Gendhonganpun surut dari kegiatan di desa. Akan tetapi tidak selalu demikian. Semu­la bunyi Gedhogan lengkap dengan intermesso bermainnya, menan­dai adanya suatu perhelatan di sebuah keluarga. Sanak saudara, te­tangga yang mendengar hendaknya segera siap untuk membantu me­nyiapkan segala kepentingan perhelatan, entah itu perkawinan entah pula khitanan.

Yang mau menyumbang materi, mendengar bunyi ge­dhogan ditabuh orang itupun berarti sudah ditunggu empunya kerja. Jadi cepat-cepatlah datang. Ini disebut “buwuh”. Dan kini ketika be­ras sudah dihasilkan oleh teknologi modern mesin penumbuk padi, maka ciri ini agak sulit dihilangkan. Tak kurang akal, wanita-wanita yang biasa bekerja untuk itu, tetap dapat dipanggil dengan tugas po­kok hanya bermain Gedhogan atau Gendhongan. Demikianlah rombongan yang dipimpin oleh Mak Tiah dari desa Derek-Sukosari itu kini sering ditanggap hanya untuk memainkan Gedhogan/Gendhongan itu sehari semalam. Dankini sebagai permin­taan yang sudah menjurus kearah bentuk seni hiburan itu perlu di­tampilkan dengan kelengkapan seni hihuran yang dirasa akan lebih menarik. Penyanyi tunggal dikhususkan untuk itu dan kadang kala ditambah dengan seorang pelawak. 

Peserta Permainan

Enam wanita dianggap cukup lengkap untuk penyajian per­mainan itu. Empat orang sebagai pemukul Gedhogan/Gendhongan, satu diantaranya merangkap sebagai “Pengundang”, yaitu pembangkit suasana kegembiraan lewat monolog-monolognya. Seorang lagi sebagai penyanyi, dan seorang lagi pemukul kluncing. Sekalipun pa­da umumnya permainan ini dilakukan oleh wanita-wanita tua, akan tetapi kekuatan fisiknya haruslah masih kuat juga mengingat berjam- jam mereka harus main, Agak sulit memang menggantikan peranan wanita-wanita tua itu, karena kemampuannya dalam menyanyi, membuat perlaguan yang tak pernah ada notasinya, serta bertindak sebagai “pengundang”, merupakan keahlian yang diperolehnya da­lam waktu yang cukup lama melewati banyak pengalaman. Dalam acara-acara yang lengkap sering ditambahkan seorang laki-laki yang bertindak sebagai pelawak, sehingga dengan demikian suasa­na menjadi benar-benar menuju ke arah suatu seni pertunjukkan. 

Peralatan Permainan

Gedhogan/Gendhongan terbuat dari batang kayu nangka. Ukuran panjangnya bermacam-macam. Satu buah terbesar dan ter­panjang rupanya berfungsi pokok sebagai gong. Panjangnya hampir dua meter, dengan garis tengah hampir 30 cm. Empat yang lain nam­pak lebih kecil. Ada yang sepanjang 1/2 meter, 1 meter, atau lebih pendek lagi. Garis tengahnya rata-rata 25-30 cm. Empat Gedhogan- Gendhongan yang terakhir ini berfungsi sebagai Kendhang, Kempul dan Othek. Jadi dari kelima alat permainan itu masing-masing meng­hasilkan bunyi berbeda satu sama lainnya. Adapun sebagai alat pe­mukulnya dipergunakan Alu yaitu batang kayu sejenis dengan uku­ran panjang sekitar dua meter dan bergaris tengah sekitar 7 cm. Beberapa buah alat pemukul itu ada juga yang berukuran lebih pen­dek dan lebih kecil, karena diperlukan bunyi tersendiri pula. Karena variasi pukulan baik Gedhogan/Gendhongan maupun alunya itu ter­jadilah suatu ensamble musik yang enak.

Peralatan itu masih ditambah lagi dengan sebatang logam sepanjang kurang lebih 20 cm dengan alat pemukul batang logam kecil sepan­jang sepuluh cm. Alat itu disebut Kluncing. Diletakkan pada suatu jagrag dari kayu. Gedhogan itu diletakkan begitu saja di atas tanah, berjajar berde­sakan. Sedang para pemainnya ada yang melakukan permainan de­ngan berdiri ada pula yang jongkok berjengket atau duduk di se­belah kursi pendek (dingklik). 

Jalannya Permainan.

Tiba di sebuah rumah yang sedang mempersiapkan perhelatan maka alat-alat itupun segera diatur tempatnya. Para pemain meng­ambil tempat dan alat pemukul. Biasanya pimpinan yang mengambil prakarsa untuk memainkan suatu lagu, tak perlu ia mengatakan lagu apa yang akan dimainkan itu. Cukuplah ia sebagai pantus memulai dengan suatu pola ritme pukulan tertentu. Segera yang lain-lain mengisi pola itu dan membuat suatu kerja sama permainan ritme ter­tentu. Penyanyipun segera menyuarakan lagu-lagunya. Banyak dian- taranya lagu-lagu tradisi yang sangat mereka gemari seperti : Erang- erang, Waru Doyong, Podo Nonton, Kosir-kosir, Sekarjenang, dan se- bagainya. Ternyata lagu-lagu ini juga dikenal lewat permainan atau­pun seni pertunjukkan lain seperti di dalam Sebiang, Gandrung dan Angklung.

Apabila suatu lagu sudah cukup lama dimainkan, maka “pantus” akan memberikan tanda-tanda tertentu untuk menggantikannya. Beberapa saat kemudian,, “pantus” membuat suatu pola ritme pu­kulan yang lain lagi dan rekan-rekannyapun berbuat sama, mengi­sinya dan meresponsnya sehingga terdengar suatu lagu yang lain lagi. Demikian terus menerus berjam-jam hal itu dilakukan. Semen­tara itu “Pengundang” tidak henti-hentinya melakukan monolog, diantaranya memperbincangkan kemerduan suara sinden, mengar­tikan syair-syair sang pesinden, atau juga kalimat-kalimat sindiran dan sanjungan bagi para pendengarnya.

Pengundang yang baik akan mampu membangkitkan simpati dan riuh tawa pendengarnya, kegembiraanpun dirasakan di sekitar. Sehingga dengan cara demikian akan banyaklah tamu-tamu yang datang di perhelatan baik mereka yang akan membantu persiapan perhelatan maupun yang datang untuk ‘buwuh’ (menyumbang materi). Orang menyebutnya peristiwa mengunjungi perhelatan itu dengan istilah “Kondhangan”. Sehingga rombongan Gedhogan/ Gendhongan yang di panggil untuk peristiwa itu sering dikatakan “ditanggap kango Kondhangan”, artinya diminta bermain untuk me­meriahkan perhelatan.

Peranannya Masa Kini

Rupanya dengan hadirnya tape rekorder di desa-desa yang mampu memberikan ‘tanda’ akan adanya suatu perhelatan, merupa­ kan salah satu sebab mengapa permainan ini sudah agak jarang di­lakukan orang. Lagi pula orang sudah tidak memerlukan lagi me­nyiapkan beras dengan menumbuk padi dalam Gedhogan. Beras giling masih lebih mudah diperoleh dan lebih murah di ong­kosnya dari pada harus mengupah wanita-wanita untuk menumbuk padi sehari-hari. Generasi kini juga kurang menghargai profesi pe­main Gedhogan , karena menganggap bahwa pekerjaan itu berasal dari buruh wanita yang kasar.

Dengan demikian dapat dikhawatir­kan bahwa permainan ini akan semakin langka didapatkan. Memang ada usaha-usaha masyarakat untuk meletakkan permainan itu sebagai suatu bentuk seni musik rakyat. Bersama pemerintah daerah setempat, sering juga diadakan semacam festival permainan Gedhogan/Gendhongan untuk memancing kegairahan masyarakat agar tetap dapat menghidupkan permainan itu sebagai suatu ben­tuk seni pertunjukan musik. Usaha itu tidaklah terlalu sia-sia kare­na ternyata bahwa di desa-desa lain orang juga sudah mulai beru­saha untuk tetap memiliki kelompok-kelompok pemain Gedhogan atau Gendhongan. Dan dengan pemain-pemain di kalangan anak-anak muda, permainan itu sudah sering muncul sebagai sebuah seni per­tunjukan.

179 -184

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Seni Budaya, Th. 1984 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s