Batik Banyubiru, Kabupaten Ngawi


batik banyubiru001Ingat batik khas Kabupaten Ngawi ingat Sidomulyo Desa Banyubiru, Kecamatan Widodaren. Banyubiru dikenal sebagai desa batik khas Ngawi yang berusaha terus bertahan di tengah arus persaingan hebat batik-batik dari daerah lain. Salah satu pemilik usaha batik Sidomulyo, Suwandi, mengatakan, meski ordernya tidak sebesar pengusaha di sentra batik daerah lain tapi kerajinan batik Ngawi terus berkembang. “Ada saja yang memesan batik saya. Kebanyakan dari para pecinta batik di wilayah Ngawi dan sekitarnya,” kata Suwandi.

Menurut dia, awalnya hanya pekerjaan sampingan tapi sekarang membatik mulai menjadi pekerjaan utama bagi kaum ibu di desanya. Selain melestarikan budaya bangsa, membatik juga memberikan penghasilan tambahan yang lumayan guna membantu perekonomian warga. Hal ini pula yang membuatnya tetap mempertahankan usaha batik. Beberapa ibu di desa ini bekerja kepada saya. Mereka saya upah berdasarkan berapa lembar kain batik yang dapat mereka kerjakan dalam seharinya,” tuturnya.

batik banyubiru002Suwandi mengakui modal masih menjadi kendala utama. Idealnya, untuk berkembang lebih baik lagi, usaha yang dia geluti sejak bertahun-tahun ini membutuhkan modal hingga Rp50 juta setiap bulannya. Namun, karena minim dana, dia hanya hampu bertahan seadanya dari omzet penjualan kain batiknya.”Pernah ada bantuan dari Dinas Perindustrian Ngawi beberapa waktu lalu. Yakni bantuan berupa peralatan membatik,” terang Suwandi.

Motif yang biasa dibuat oleh pembatik Desa Banyu­biru adalah Gringsing, Bokor Kencono, dan Sido Mukti. Harga jualnya pun bermacam-macam, mulai dari ratu­san ribu rupiah hingga jutaan rupiah bagi yang berba­han dasar kain sutera. “Motif andalan batik Ngawi adalah Batik Gringsing. Rencananya, sebentar lagi kami ingin membuat motif baru yang diberi nama Batik Wahyu Ngawiat. Motifnya masih dirancang,”
papar Suwandi.

Salah satu pembatik, Rina, mengatakan, untuk membuat batik tulis sangat membutuhkan ketelatenan dan konsentrasi tinggi. Hal ini karena motif yang dibuat sangat bervariasi dan mempunyai karakter berbeda-beda. “Kalau pas motifnya susah ya lama, tapi kalau pas motifnya gampang, pasti cepat selesai. Lumayan, dari membatik saya bisa membantu suami sedikit-sedikit buat tambah uang jajan anak saya,” kata dia.

Dia mengatakan, dalam sehari dirinya bisa membatik hingga 10 lembar kain batik berukuran kecil dengan upah Rpl.500,00 per lembarnya. Sedangkan untuk ukuran batik besar, dia mampu mengerjakan hingga lima lembar dengan upah Rp3.000,00 per lembarnya. Suasana para ibu membatik membuat Banyubiru yang berada di kaki Gunung Lawu semakin sejuk. Untuk menuju desa ini, dari jalan raya Solo-Madiun, pas di pertigaan Gendingan belok ke selatan. Kira-kira 8 km jaraknya. Jalan ke Banyubiru merupakan jalan menuju pabrik karet Tretes.

Saat ini batik Ngawi, khususnya Banyubiru, semakin disuka para remaja. Hal itu karena para perajin berusaha mengakomodir selera remaja. Lihat saja pada acara fashion show batik tingkat pelajar SMP maupun SMA pada Rabu (31/10) lalu, di mana pesertanya membludak. Suasana Pendopo Wedya Graha Kabupaten Ngawi yang jadi lokasi acara dipenuhi remaja mengenakan pakaian batik khas Ngawi yang bernuansa modern dengan sentuhan apik. Para remaja itu tanpa canggung berpose di atas catwalk.

Kepala Dinas Perekonomian dan UMKM Ka- bupaten Ngawi, Sofyan SH.M.Hum, mengatakan, fashion show batik itu diikuti sekitar 49 remaja dari pelajar SMP dan 56 pelajar SMA. “Even terse-but sebagai inovasi untuk lebih memperkenalkan ba- tik ke kalangan remaja sehingga harapan kita potensi pasar ke depannya cukup terbuka lebar dan untuk penganekaragaman dan pengembangan industri batikkhas Ngawi, agar menembus pasar dengan memenuhi selera konsumen,” terangnya. Batik-batik yang dita- mpilkan karya perajin batik yang tersebar di wilayah Ngawi seperti dari Desa Banyubiru, Munggut, Jenggrik, dan Gentong, (gus)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: SUARA DESA
, Edisi 08, Januari-Februari 2013, hlm. 38

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Ngawi, Seni Budaya, Th. 2013 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s