Gaun Batik Busana Pengantin Nasional, Surabaya


Ristya ingin membawa gaun batik sebagai busana nasional.

Ristya Stefanie. Usia muda tidak menghalangi keinginan Ristya Stefanie meraih mimpinya didunia kecantikan. Bakat dan kemampuannya merias wajah dan mendesain baju telah menuntunnya hingga memiliki bridal gown. Saat kecil, sebenarnya perempuan kelahiran 15 September 1986 ini sudah mempunyai bakat terpendam, hanya saja banyak orang yang tidak menghiraukan kecuali sang papa. Ristya terlihat suka menjalankan usaha, mendesain dan merias wajah. Ia pun selalu menuliskan cita-citanya yang ingin menjadi wiraswasta. “Saya nggak mau diperintah orang dan mau ciptakan lapangan kerja,” ujarnya.

Diusia 13 tahun, Ristya mulai mengumpulkan uang dari hobinya merias wajah orang. Berawal dari itu, kemampuannya mulai terdengar dari mulut ke mulut. Menginjak SMA, ia mulai merias wajah teman-teman nya. Ristya bukanlah orang yang mudah puas dengan hasil kerjanya, ia selalu menyisihkan penghasilannya untuk membeli buku make-up. Saat itu harga buku make-up mahal-mahal, sekitar 400 ribu, tidak sebanding dengan penghasilan yang saya terima ketika merias karena penghasilan saya merias awalnya hanya lima puluh ribu. Tapi saya tidak menyerah, saya kumpulkan uang sedikit demi sedikit dan saya putar terus uang itu sampai bisa membeli buku dan alat make-up,” cerita Ristya. Buku yang ia beli kemudian dipelajari dan dipraktekkan di rumah.

Memasuki kuliah semester 2, wanita lulusan SI Komunikasi Universitas Kristen Petra ini mengasah kemampuannya merias pengantin. Kali pertama merias pengantin, ia dibayar 1 juta untuk merias orang tua dan penerima tamu. Namun dari pengalaman itu, orang kemudian melihat hasil riasannya bagus. Harga untuk jasa Ristya pun berangsur naik dari waktu ke waktu. Berawal dari satu juta, naik 1,5 juta dan terus naik.Untuk menambah modal usahanya,Ristya pun pernah bekerja di tempat lain. Setiap ada waktu luang, ia belajar makeup yang belum dikuasai nya. Ia juga bekerjasama dengan teman-temannya dibidang fotografi. Ristya biasanya merias model-model fotografer.

Ketika kuliah, Ristya pernah menjadi juara pertama lomba make-up fantasi yang diadakan oleh komunitas fotografi kampus Petra. Prestasi Ristya juga terus bertambah. Ia pernah menjadi juara 2 lomba caring colour Martha Tilaar regional se Surabaya, juara harapan 2 lomba make up se Surabaya yang diadakan oleh Latulip, dan lainnya. Ketika skripsi, Ristya juga pernah mengikuti lomba Martha Tilaar tingkat nasional dan berhasil menjadi finalis. Hal tersebut tidak begitu mengecewakan buatnya karena pengalamn itu membawanya masuk grandfinal tingkat nasional dengan lawan guru-guru profesional Martha Tilaar.

Kini Ristya memiliki jam terbang merias tinggi. Dalam satu bulan, setidaknya Ristya melayani 4 klien. Ristya sendiri yang menangani rias an untuk pasangan pengantinnya. Ia merias tidak hanya di dalam Kota Surabaya, terkadang Ristya juga menjadi make up artis di Jakarta, Ban dung, Surabaya, dll. Tidak berhenti dengan kreasinya dalam merias, Ristya juga belajar membuat kebaya untuk pernikahan dan wisuda. Hanya saja saat itu ma sih gagal karena ia belum mene mukan penjahit yang bagus sehingga kebaya buatannya tidak begitu enak jika dikena kan. Namun bukan Ristya jika kemudian menyerah, ia terus mengembangkan kemampuannya dalam mendesain baju. Kini desain batik pengantin karya Ristya tidak diragukan lagi kualitasnya.

Artis seperti Shireen Sungkar pernah menjadi model untuk gaun pengantin batik rancangan pengagum sosok inspiratif  Martha Tilaar dan desainer Ana Avanti. Untuk mengembangkan usahanya, Ristya berencana membuka cabang salon wedding dan butik di Jakarta. Tidak hanya itu, Ristya juga punya mimpi untuk membawa nama Indonesia go internasional, salah satunya dengan hasil gaun batik rancangannya yang selama ini belum ada yang membuat. Ristya ingin menunjukkan pada setiap orang bahwa batik itu juga cantik untuk gaun atau pakaian pengantin. “mgg Sri Agustin Wulandari/mgg-Dindam Ma’rifatul Ulfa

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Kirana, Edisi, 68, Tahun VI, Mei 2012, hlm. 12

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Surabaya, Th. 2012 dan tag , , , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s