Kenalkan Koleksi Batik, Kabupaten Lumajang


Kenalkan Koleksi Batik, Pelajar Diharap Ikut Melestarikan

Lumajang, Jatimplus, Batik sudah menjadi ikon Indonesia dan diakui oleh UNESCO. Meski sudah populer di dalam negeri dan inter­nasional, tak menyurutkan upaya Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Provinsi Jatim untuk terus melestarikannya. Salah satu upayanya dengan menggelar pameran batik koleksi UPT Museum Negeri Mpu Tantular Jatim. Selain itu digelar kegiatan membatik massal oleh anak-anak sekolah.

Kegiatan membatik massal oleh anak-anak sekolah berlang­sung di Gedung Guru JI Veteran No 18 Lumajang. Kegiatan ini diha­diri oleh Bupati Lumajang Dr H Sjahrajad Masdar bersama Wakil­nya Drs H Asat M Ag serta Kepala Disbudpar Jatim yang diwakili oleh Kepala UPT Museum Negeri Mpu Tantular Jatim Drs Gunawan Ponco Putro serta jajaran Dinas Pendidi­kan Lumajang.

Kepala Disbudpar Jatim yang diwakili oleh Ka UPT Museum Mpu Tantular Drs Gunawan Ponco Pu­tro menjelaskan kegiatan memba­tik ini diikuti generasi penerus yang masih duduk di bangku SMA/ SM K/MA baik sekolah negeri mau­pun swasta Menurut Gunawan Ponco Putro, generasi sekarang ini baik pelajar maupun mahasiswa terkadang ma­sih enggan untuk mengenal lebih jauh soal batik.

Mereka hanya me­ngenal batik sekilas, tanpa tahu  ba­gaimana proses menghasilkan ba­tik yang penuh makna filosofi men­dalam itu. “Saya sangat mendukung kalau generasi penerus dikenalkan praktik membatik sejak dini. Kalau perlu di sekolah mereka diwajibkan untuk mengetahui cara membatik. Upaya ini dilakukan agar budaya membatik yang menjadi kekayaan dan wari­san bangsa bisa terus langgeng,” katanya. Yang harus dipahami batik bu­kan sekadar kain dengan keinda­ hannya. Tetapi batik Indonesia mempunya filosofi, bermakna dan mempunyai simbol yang berman­faat bagi masya rakat untuk menjadi pedoman kehidupan.

“Batik adalah seni yang indah, apalagi proses pembuatannya juga tidak mudah. Butuh kesabaran, ke­telitian, kreativitas dan hal-hal posi­tif lainnya sehingga harus lebih di­hargai. Dan bangsa Indonesialah yang harus  melestarikannya,” ka­tanya. Karena itu dalam kegiatan kali ini, anak-anak dibekali pengetahuan soal cara dan proses membatik. Mo­tif batik disiapkan panitia, tetapi mulai dari membatik, pencelupan hingga pemberian warna, anak- anak dibebaskan untuk berkreasi. “Harapan saya anak-anak itu bi­sa menularkan ilmu yang didapat­nya kali ini ke teman -temannya, kekeluarganya atau kesaudaranya yang lain. Dengan begitu rasa men­cintai dan menghargai budaya sen­diri akan terus tumbuh,” harapnya.

Untuk belajar membatik ini, kata Ponjo masing-masing sekolah me­ngirimkan wakilnya sebanyak 5 anak. Di samping itu mereka juga diberi door prize untuk hasil mem­batik terbaik. Ada sekitar 12 anak yang mendapatkan hadiah ini, dari sekitar 70 anak yang hadir. Batik Indonesia menapaki pang­gung global setelah UNESCO-orga- nisasi tertinggi dunia di bidang ke­budayaan di bawah naungan PBB- menobatkannya sebagai warisan budaya dunia pada 2 Oktober 2009. Pengakuan internasional terhadap batik Indonesia membuka potensi pengembangan ekonomi nasional berupa pemasaran batik di luar maupun dalam negeri.

Sajak saat itulah batik Indo­nesia mendunia. Sebut saja de­sainer asal Belgia, Dries Van Noten yang memunculkan koleksi batik motif parang pada koleksi musim semi/ panas 2010. Ia berhasil me­madukan batik Parang dengan item lain yang lebih modern. Batik Mega Mendung asal Ci­rebon pun dua kali diangkat oleh dua desainer yang berbeda. Pada 2009, desainer asal Australia, Nicole Miller, meluncurkan koleksi­nya yang kebanyakan berpotongan maxi dress. Selain Miller, desainer Julien Macdonald mengangkat batik Mega Mendung dalam koleksi mu­sim semi/panas 2012. Koleksinya sudah dipamerkan dalam gelaran Lon-don Fashion Week 2011 pada September 2011. Jika para desainer papan atas berlomba-lomba memakai batik sebagai koleksi mereka, selebritas papan atas pun tak lagi malu atau canggung mengenakan batik. Sebut saja aktris Rachel Bilson, Drew Barrymore, Lenka, Reese With-erspoon, Adele, hingga Jessi­ca Alba.(shb)

Jatim Plus, Edisi 317 Minggu II – IV Pebruari 2013

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Lumajang, Th. 2013 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s