Dayung dan Ikan Talang, Kabupaten Lamongan


Perahu yang ditumpangi R,Qasim dihempas ombak di laut Jawa dan pecah. Dengan sebilah welah atau dayung beliau berusaha untuk berenang dengan mengambang di atas dayung (Jawa = nglangi) tersebut. Usaha tersebut ternyata tidak mudah. Dengan kekuasaan Allah, tiba-tiba datang ikan cucut dan ikan talang menyangga dan mendorong R.Qasim ke tepi pantai.

Sulit memperoleh bukti yang meyakinkan bahwa dayung yang sampai saat ini masih disimpan dengan baik oleh keturunan Sunan Drajat itu milik beliau, apalagi dayung itu pula yang dipakai Sunan Drajat untuk mengambang di laut. Tetapi cerita tersebut sangat melekat di hati masyarakat terutama semua keturunan Sunan Drajat, sehingga menjadi kepercayaan dan pemali. Kepercayaan tersebut sedemikian kuat sehingga sulit untuk berubah. Masyarakat, terutama para nelayan setempat, menganggap dayung yang menurut tradisi setempat dipakai oleh R. Qasim untuk berenang di laut tersebut sebagai fetisy, relic atau azimat dan menjadi benda yang dikeramatkan, dianggap dapat memberi berkah. Sampai dengan tahun 1950-an para nelayan di Drajat dan sekitarnya setiap menjelang musim “melaut” pada umumnya terlebih dahulu “meminta berkah kepada dayung” tersebut dengan perantaraan menyimpannya sebelum turun ke laut. Dayung yang diyakini memiliki yang n magis tersebut dikerik dan bubuk kerikannya itu dijadikan azimat ke Hivakini dapat mendatangkan berkah dengan memperoleh tangkapan ikan yang banyak.

Lagenda yang cenderung berubah menjadi mite tentang dayung itu benarnya bersumber dari naluri bahwa dayung itu bermanfaat bagi sang se, oli yang dihormati. Benda yang punya manfaat seperti itu dikeramatkan t0 CTaj manifestasi upaya pelestarian atau konservasi dalam gaya dimitoskan.

Dayung tersebut disimpan di “ndalem” tempat tinggal R.Subaktiaji, juru kunci makam Sunan Drajat ( m. 1997 ) dan tidak dikeluarkan secara sembarangan. Sebelum itu dayung itu pernah disimpan oleh R.A.Salbiyah keturunan Sunan Drajat dari isteri Mbah Kinanti. Tetapi sekarang, sejalan dengan perubahan pemahaman agama yang semakin baik dan terus meningkat, begitu juga dengan pengaruh meningkatnya ilmu pengetahuan dan teknologi serta berkembangnya masyarakat industri, mite seperti itu dipandang sebagai sesuatu yang menyebabkan syirik, tidak lagi dipandang sakral dan karenanya kepercayaan terhadap mitos sepeti itu mulai luntur.

Lain halnya dengan kepercayaan masyarakat Desa Drajat, terutama keturunan Sunan Drajat terhadap ikan talang, sampai sekarang masih tetap kuat. Makan ikan talang bagi mereka adalah tabu. Mereka tidak berani, sebab ikan-ikan itu telah berjasa menolong dan menyelamatkan R.Qasim tatkala beliau dalam bahaya terkatung-katung di laut. Siapa saja di antara mereka yang makan ikan talang itu, badannya akan menjadi gatal (bahasa Jawa = biduren) dan sulit diobati. Mereka percaya R.Qasim dulu pernah berujar agar anak turunnya jangan sampai makan ikan talang tersebut. Tetapi mengapa makan ikan cucut tidak.

Legenda tentang ikan talang berpangkal kepada naluri menghormati karena perasaan berhutang budi yang mendalam kepada ikan-ikan itu. Sikap ini adalah baik karena mengandung pelajaran yang baik bagi anak cucu, sekalipunj itu kepada hewan, atau ikan. Implementasi lebih jauh adalah penghormatan dan perlakuan yang penuh khidmat kepada orang yang berjasa lebih-lebih yang Pemah menolong dirinya atau orang tuanya pada saat dalam bahaya atau kesusahan. Boleh jadi memang itu maksud ujaran Sunan Drajat agar anak cucu8nya tidak boleh makan ikan talang tersebut.

Dalam kerangka kebudayaan di Jawa sebenarnya legenda seorang tokoh yang selamat karena pertolongan ikan yaitu Sri Tanjung. Tokoh wanita ini dalam tradisi Jawa adalah istri Sidapaksa cucu Sadewa yang selamat dari mautberkat Pertolongan ikan. Cerita tersebut dilukiskan dalam bentuk relief “Sri Tanjung” di Candi Surawana (1388), Kediri. Dalam tradisi Islam tokoh Nabi Junus juga diselamatkan dari marabahaya di samudra karena pertolongan ikan nun. Dengan demikian dalam hal ini terjadi akulturasi antara budaya Jawa, Hindu, Budha, dan Islam.

Fader mengklasifikasi mite menjadi dua, salah satu di antaranya adalah sesuatu yang terkait dengan legenda kehidupan para pahlawan dan orang- orang suci Menurut jan Vansina, klasifikasi Feder sepeti itu tidak benar, sebab mite tidak hanya berkenaan dengan aetiological myth dan legendary lives of heroes and saints saja, melainkan meliputi hal yang banyak dengan inter­pretasi hubungan antara yang nyata yang gaib dan berkenaan dengan semua bagian kehidupan keagamaan yang berada di atas aturan moral. Legenda tentang dayung dan ikan talang yang sudah menjadi mite tersebut diatas dengan demikian dapat memberi petunjuk bahwa tokoh yang bernama P. Qasim yang bergelar Sunan Drajat itu sebagai tokoh wali (Saint) yang legendaries memang ada. Selain itu legenda atau mite tentang duyung dan ikan talang tersebut agaknya terkait dengan kepercayaan gaib dan tersirat secara jelas aturan moral di dalamnya.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Sejarah Sunan Drajat Dalam Jaringan Masuknya Islam di Nusantara, BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH HKABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2012, hlm. 94-97

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Legenda, Th. 2012 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s