Perlambang Sumur Persegi Empat, Kabupaten Lamongan


Sunan Drajat sebagai perintis penyebar Islam sangat memperhatikan keperluan hidup masyarakat yang utama dengan air bersih dan tawar. Selesai untuk keperluan hidup sehari-hari, pasal yang diajarkan oleh kitab Fiqh ialah masalah taharah atau bersuci. Bersuci dari najis dan dari hadas besar dan kecil, fungsi air yang bersih dan membersihkan sangat penting artinya.

Setelah menetap di Desa Drajat, beliau bersama para santri dan penduduk yang lain berusaha membuat sumur. Usaha itu akhirnya berhasil menemukan sumber air pada kedalaman 18 m. Air yang keluar dari sumur ini jernih sekali, tawar dan tidak habis sekalipun pada musim kemarau panjang. Sumur itu berbentuk persegi empat. Demikian pula sumur-sumur tua di Desa Drajat dan desa terdekat umumnya persegi empat.

Air tidak saja penting untuk keperluan ibadah, tetapi juga untuk keperluan hidup sehari-hari yang utama. Pemahaman dari sisi ini, memberi petunjuk bahwa pembuatan sumur dan upaya mencari sumber air tersebut di atas dapat dijadikan salah satu indikator bahwa Sunan Drajat adalah pemimpin masyarakat.

Sumur-sumur kuna di Drajat dan kompleks makam Sunan Bonang yang bersegi empat agaknya menarik untuk diperhatikan. Di Desa Drajat tidak kurang dari 10 buah sumur persegi empat, semua pemiliknya tidak tahu kapan dibuat. Mereka umumnya hanya bisa mengatakan “dibuat oleh mbah-mbah dulu”. Berbeda dengan sumur buatan baru atau 60 – 70 tahun yang lalu, semuanya sudah berbentuk bulat.

Mengapa bersegi empat, padahal umumnya sumur di mana-mana berbentuk bulat. Dalam hal ini memang tidak diperoleh penjelasan baik dan sumber tertulis maupun sumber lisan. Dari sumber lisan hanya menyatakan bahwa sumur berbentuk segi empat itu mengandung perlambang, tetap’ perlambang apa tidak ada yang bisa menjelaskan. Boleh jadi sumur berbentuk persegi empat itu hanya karena faktor teknis pembuatannya yang relatif lebih mudah dibandingkan dengan bila berbentuk bulat. Boleh jadi juga hanya suatu kebetulan atau hanya sebagai mode bentuk sumur waktu itu. Bentuk, sumur persegi empat itu memang boleh jadi hanya karena mode, tetapi jelas bukan suatu yang bersifat kebetulan atau hanya karena faktor kemudahan  membuatnya. Bila sebagai mode, tentu mempunyai latar belakang mengapa dilakukan orang waktu itu. Sama halnya dengan pembuatan masjid yang  beratap susun dua, susun tiga atau lebih. Masjid yang dibangun atas biaya Yayasan Bakti Muslim Pancasila yang bercirikan segi lima baik “mustaka” dengan tulisan allah maupun semua jendela- jendelanya dan ornamen di dalamnya. Apakah itu juga suatu kebetulan tanpa makna, agaknya tidak demikian.

Umumnya masjid masa lalu sejak masa awal penyebaran Islam di Jawa p tiga. Dari pandangan Hinduisme, mode atap susun tiga dikatakan meniryu atau adaptasi dari bangunan meru, tetapi sebenarnya menurut para wali atap masjid susun tiga tersebut bukan semata-mata hanya kelatahan mengikuti mode bangunan meru, melainkan mempunyai filosofi arsitektur Islam sendiri. Filosofi atap masjid susun tiga itu menggambarkan fase peijalanan hidup manusia menurut falsafah Jawa-Islam, yaitu purwa, madya, dan wasana, yaitu hidup saat masih dalam rahim ibunda (purwa), hidup di dunia (madya), dan hidup sesudah proses kematianlwajaraz). Ada pula yang menyebutkan bahwa filosofi atap masjid tersebut ialah iman, islam, dan ihsan.

Dalam hal sumur berbentuk persegi empat mungkin ingin mengambil pola Ka’bah yang berbentuk persegi empat. Sumur sebagai sumber air untuk wudlu’ dan mandi yang berfungsi sebagai pembuka kesadaran keimanan untuk menyembah Allah, pemilik dan Tuhan-nya Ka’bah.

Sumur persegi empat mungkin juga mempunyai makna yang berkenaan dengan kehidupan manusia atau ajaran tentang manusia yang dalam naskah lama yang ditemukan di Desa Drajat dan sekitarnya. Dengan demikian bentuk sumur persegi empat dapat menjadi perlambang bagi keberadaan manusia. Manusia tidak bisa lepas dari empat unsur nafsu utama yang ada pada manusia, yaitu al-nafsul-ammarah, al-nafsul- lawwamah, al-nafsus-sufiyah, dan al-nafsul-mutmainnah. Masih banyak hal-hal yang terkait dengan manusia dan ajaran para Wali yang berunsurkan empat, antara lain bahwa anasir jasad manusia itu ada empat, yaitu kehendak, hawa, nur (cahaya), dan debu atau tulang darah, daging, dan kulit.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sejarah Sunan Drajat Dalam Jaringan Masuknya Islam di Nusantara, BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH KABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2012, hlm. 100-101

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Legenda, Th. 2012 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s