Sumur Lengsanga dan Sendang Brumbung, Kabupaten Lamongan


Sumur Lengsanga dan Sendang Brumbung

Tatkala Sunan Drajat dan R.Nur Rahmat selesai makan wilus, -Sunan Drajat memerintahkan agar lubang bekas umbi wilus tadi diberi tanda. R.Nur Rahmat segera melaksanakan perintah tersebut. Lubang-lubang yang berjumlah sembilan buah tersebut semuanya diberi tanda. Ternyata kemudian dari lubang-lubang tersebut keluar air. Di kemudian hari lubang- lubang tersebut oleh masyarakat setempat digali lebih besar dan lebih dalam lagi. Air sumur itu mencukupi untuk keperluan masyarakat sekitarnya. Sumur itu diberi nama sumur lengsanga yakni sumur berlubang sembilan.

Di sebelah selatan Desa Drajat lebih kurang 2 Km. terdapat perkam­pungan Tepanas, sekarang masuk wilayah Desa Kranji. Di kampung tersebut terdapat sebuah sendang alam berair hangat disebut sendang Brumbung. Mereka mandi cuci di situ, dan airnya juga dipakai untuk masak dan untuk minum. Pada suatu ketika airnya berubah rasa dan warna. Mereka tidak berani mendekati sendang tersebut. Sunan Drajat berkunjung ke kampung itu, untuk menolong mereka yang sakit. Mereka menderita karena tidak bisa makan, minum dan mandi akibat perubahan air tersebut. Menyaksikan penderitaan mereka seperti itu. Sunan Drajat merasa iba. Menurut tradisi setempat beliau menan-capkan tongkatnya ke tanah kapur di sebelah sendang. Dari lubang tongkat itu keluar air bersih dan tawar.

Sunan Drajat menganjurkan untuk menguras sendang tersebut, ,agar airnya kembali bersih dan jernih, tetapi sekalipun sudah berhari-hari orang sekampung dikerahkan untuk menguras sendang tersebut, airnya tetap tidak berkurang. Akhirnya Sunan Drajat menyerahkan dua buah bokor miliknya kepada tetua kampung untuk dipakai menguras sendang. Dalam waktu yang sangat singkat sendang tersebut habis airnya dan lumpurnya menjadi bersih-Setiap tahun sekali tepatnya pada bulan Sura atau Muharram, sendang tersebut dikuras. Uniknya alat untuk menguras selain timba, juga bokor yang dulu dipinjamkan Sunan Drajat. Apabila tidak dikuras dengan menggunakan bokor tersebut, selain lama, lumpur yang ada di dalamnya pindah ke sumur Gendingan yang menurut cerita di buat oleh Mbah Banjar. Sumur itu menjadi keruh tanpa sebab. Karena itu bokor milik Sunan Drajat tersebut sampai sekarang masih disimpan dengan baik oleh seseorang yang bertempat tinggal di Kampung Gendingan (sebelah selatan masjid Gendingan) Banjar Anyar dan dikeluarkan setahun sekali untuk dipinjamkan buat menguras sendang tersebut.

Legenda tersebut memberi petunjuk bahwa Sunan Drajat mempunyai kepedulian yang besar terhadap penderitaan orang lain sekalipun tidak seagama. Dua buah bokor ternyata dapat digunakan untuk menguras sendang, dan dapat digunakan untuk membersihkan air yang kotor dan beracun, bahkan lumpurnya juga bersih. Ini memberi petunjuk bahwa dua kalimah syahadat, iman dan Islam dapat membersihkan manusia dari kotoran perilaku yang jahat dan nista.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Sejarah Sunan Drajat Dalam Jaringan Masuknya Islam di Nusantara, BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH HKABUPATEN LAMONGAN TAHUN 2012, hlm. 92-94

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Lamongan, Legenda, Th. 2012 dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s