Petik Laut di Muncar, Kabupaten Banyuwangi


Upacara petik laut di Muncar, Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi.

Petik Laut merupakan salah satu tradisi warga Banyuwangi. Tradisi ini dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rezeki berlimpah yang selama ini menopang kehidupan mereka. Dengan rasa syukur ini diharapkan selama menjalani pekerjaan, mereka dijauhkan dari bahaya serta mendapatkan tangkapan ikan melimpah.

Acara ini dilakukan di Pantai Pancer, Desa Sumberagung, Kecamatan Pesanggaran, Kabupaten Banyuwangi. Pelaksanaan ritual tersebut berlokasi di salah satu tempat pelelangan ikan terbesar di Indonesia setelah Bagan Siapi-api. Acara tersebut diadakan setiap tahun, tepatnya pada tanggal 15 bulan Suro atau Muharram.

Masyarakat Muncar menggelar ritual Petik Laut sejak tahun 1901. Mereka percaya bahwa, jika Petik Laut tidak digelar, musibah akan datang. Upacara Petik Laut bernilai sakral. Acara puncaknya adalah berisi sesaji yang terdiri atas macam kue, buah-buahan, Pancing emas, candu, dua ekor ayam jantan, dan nasi enam warna. Sebelum dilarung, pada malam harinya, dilakukan tirakatan, pengajian atau semaan di surau-surau dan prosesi mengarak perahu sesaji tersebut di perkampungan, yang disebut idher bumi. Dipimpin seorang pawang Petik Laut sesaji kemudian diangkut ke dalam perahu dan dibawa menuju lepas pantai. Sampai di lepas pantai, pawang memberikan aba-aba sebagai tanda bahwa sesaji sudah saatnya untuk dilarung.

Para nelayan terjun merebutkan sesaji yang dianggap bisa memberikan berkah. Selain dihadiri oleh masyarakat sekitar Pantai Pancer, ritual tersebut juga dihadiri oleh aparat dari pemerintahan, mulai tingkat kelurahan sampai Bupati Banyuwangi pun ikut melarung sesaji di lepas pantai.

Pesta tahunan tersebut diadakan secara besar-besaran. Mereka berani mengeluarkan biaya sampai puluhan jutaan rupiah untuk menghias kapal guna mengikuti prosesi pelarungan sesaji di lepas pantai. Berbagai rentetan acara digelar untuk memeriahkan ritual tersebut, seperti pementasan wayang kulit, Jangeran (sejenis ludruk khas Banyuwangi), pasar malam yang diramaikan
dengan pementasan musik dangdut tiga hari berturut-turut sertaacara lain yang memeriahkan pesta Petik Laut.

Tempat pelelangan ikan (TPI), yang sebelumnya menyuguhkan bau amis khas ikan laut, disulap layaknya taman ria yang penuh dengan hiburan. Muda-mudi dan kalangan tua berdatangan dari berbagai desa di sekitar Pancer hadir untuk memeriahkan pesta Kemeriahan Petik Laut di Pancer sebanding dengan hasil ikannya yang melimpah. Bagi masyarakat Laut Pancer laksana ibu yang menyusui mereka, menyediakan kasih sayang dan makanan melimpah. Inilah makna mendalam dari rasa syukur perhelatan Petik Laut.

Pesona Jawa Timur , hlm. 27-29

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Seni Budaya dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s