Riwayat Tionghoa di Surabaya, Jawa Timur


Riwayatnya Famili Tjoa di Surabaya, Awal Kejayaan Berkah Kura– Kura 

Surabaya menyimpan sejarah penting kejayaan sebuah marga Tionghoa terkemuka, Keluarga Tjoa. Mulai edisi ini LIBERTY menuliskannya secara bersambung, berdasar artikel khusus tulisan The Boon Liang yang pernah dimuat Majalah “Matahari” 1 Agustus 1934 koleksi Perpustakaan Medayu Agung.

Surabaya, suatu hari pada 1753. Sebuah jung (kapal) nampak merapat di pelabuhan. Setelah buang sauh, seorang Tionghoa totok berperawakan tegap terlihat menuruni tangga. Dari perawakan dan mukanya, bisa ditebak tidak lebih I7 tahun umurnya. Ternyata, orang yang kemudian diketahui bernama Tjoa Kwie Soe itu, adalah nahkoda sekali- gus pemilik jung. Dalam usia yang masih sangat muda, dengan penuh keberanian dia telah meninggalkan tanah tumpah darahnya, Tiongkok, untuk berdagang beras yang dia cari.

Waktu itu, Surabaya memang menjadi pusat perdagangan beras di Nusantara. Tanah sekitar pun banyak ditanami padi. Kampoeng Boroe, Benteng Miring, Penggirikan, memutar sampai Bibis adalah areal persawahan. Demikian juga daerah Koepang dan Kedoengdoro. Pasar yang menjadi pusat perdagangan beras harus dekat dengan kan- tor bupati, agar bisa diawasi. Kontrol ketat harus dilakukan, karena bupati mempunyai kewa- jiban untuk membayar upeti kepada kompeni sebanyak 700 koyang (I koyang = 40 pikul) setiap bulan. Ketika Tjoa Kwie Soe mendarat, Surabaya mem­punyai dua orang bupati.

RA.Tjondro Negoro atau bupati sepuh (kasepuhan) berkantor di dekat Pasar Besar (kantor gubernur sekarang), dan RT. Djojodirono atau bupati  anom (kanoman) yang berkantor di sekitar kantor pos besar sekarang. Kedua bupati ini adalah putra Kyai Toemenggoeng Ongkodjojo, bupati Pasuruan, atau cucu Kyai Pangeran Lanang Dangiran yang dikenal dengan sebutan Kyai Brondong, bupati Surabaya pertama. Dalam usaha dagangnya, Tjoa Kwie Soe membuka toko di Djalanan Kampoeng Tionghoa atau Petjinan Koelon. Karena satu jurusan, jalan ini juga dinamai Chinese Voorstraat. Sedang rumahnya berada di ujung tikungan jalan antara Chinese Voorstaat dan Tepekongstraat.

Tjoa Kwei Soe adalah orang yang supel, gampang bergaul. Dengan kedua bupatipun, dia mempunyai hubungan yang baik. Karena persahabatannya ini, ditambah kerja keras- nya, usaha dagang yang dirintis Tjoa Kwie Soe berkembang sangat pesat. Tjoa Kwie Soe juga berhubungan dengan kelu- arga bupati, salah satunya dengan Nyi Roro Kindjeng, adik perempuan kedua bupati tersebut. Namun situasi kon- dusif tidak berlangsung lama. Karena ada dua kepemimpinan, Surabaya menjadi genting. Pertikaian pun meletus. Pertempuran tejadi hampir setiap hari. Keadaan seperti ini memaksa Nyi Roro Kindjeng melarikan diri. Datanglah dia ke rumah Tjoa Kwie Soe untuk berlindung.Tak bertepuk sebelah tangan, Tjoa Kwie Soe pun mener imanya. Namun agar lebih aman, Tjoa Kwie Soe menyembunyikan Nyi Roro Kindjeng di jung-nya.

 

Perkawinan Istimewa.

Sikap gagah dan sopan yang dimiliki sang pelindung ternyata menumbuhkan perasaan cinta pada Nyi Roro Kindjeng. Demikian pula dengan Tjoa Kwie Soe. Sebagai pendatang sebatang kara, dia ingin membangun sebuah keluarga dengan istri yang pantas, sesuai kedudukan dan asal-usulnya.

Ketika dua hati saling menyatu, perkawinan antar bangsa ini pun digelar. Perkawinan dua bangsa ini menjadi sangat istimewa karena kental dengan nuansa mistis yang berhubungan dengan ‘kura-kura’.

Nyi Roro Kindjeng ternyata masih keturunan Menak Loempat Blambangan yang menjadi Soesoehoenan Reboet Pajoeng. Menak Loempat memiliki kraton yang san­gat termasyur, Kraton Macan Poetih. Pondasi kraton ini berbentuk kura-kura.

Sebenarnya tidak ada yang istimewa dengan bentuk pondasi ini. Menjadi luar-biasa ketika salah satu ketu­runan Menak Loempat, Nyi Roro Kindjeng menikah dengan salah seorang anggota keluarga Tjoa. Menurut ‘Kitab Soesi’, Tjoa juga berarti kura-kura, yang dalam falsafah Tiongkok adalah lambang kemakmuran dan keberuntungan.

Selain kental nuansa mistisnya, perkawinan ini juga terasa istimewa kare­na merupakan perkaw­inan antar keturunan bangsawan. Jika Nyi Roro Kindjeng adalah keluarga bupati Surabaya dan masih keturunan Soesoehoenan Reboet Pajoeng, Tjoa Kwie Soe yang lahir pada 1739 adalah putra Tjoa Tjhong, seorang berpangkat dan kaya, keturunan Tjioe Boe Ong, salah satu kaisar Tiongkok.

Tak salah bila Tjoa Tjhong disebut seba­gai seorang pejabat kaya, karena bila tidak, dia tidak akan mempunyai catatan kelahiran dan kematian. Tjoa Tjhong lahir pada 1702, dan meninggal 1741. Kedatangan Tjoa Kwie Soe ke Surabaya menggunakan kapal sendiri juga menjadi bukti bahwa dia berasal dari keluarga bangsawan yang kaya. •HK

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil  Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur : LIBERTY, 21-31 JULI 2012, hlm.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Surabaya, Th. 2012 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s