Lembunandini, Kabupaten Mojokerto


Berharap Emas Lembunandini Disembelih,

Lembu Andini0002Patung Lembu Nandini yang pernah hilang itu ditemukan dalam kondisi leher putus. Konon, itu dilakukan pencuri untuk mengambil emas yang ada di tubuh patung tersebut. Saat itulah peristiwa gaib banyak penyertai hilangnya patung itu, di antaranya ada satu keluarga yang gila sampai akhirnya tewas gantung diri.

Dua pohon beringin yang tumbuh di tengah Desa Mojo- lebak, Kecamatan, Jetis, Mojokerto itu ukuran sangat besar. Tak banyak yang tahu berapa usia pohon itu. Penduduk hanya mengatakan jika pohon itu sudah ada sejak zaman kakek-neneknya. Nah, di bawah pohon itulah terdapat sebuah patung sapi atau yang biasa dise- but Lembu Nandini yang sedang nderu atau duduk. Patung lembu itu mungkin peninggalan zaman Hindu atau bahkan pada zaman sebelumnya.

Penduduk sekitar menyebut tempat itu dengan nama Punden Pendem.Tak hanya penduduk sek­itar yang menghormatinya, orang- orang dari jauh terkadang ada pula yang lelaku di tempat itu. Bahkan, setiap tahun selalu diadakan bersih desa dengan pementasan tontonan wayang kulit semalam suntuk.

Saat LIBERTY mengunjungi tempat ini, ada yang aneh dengan patung ini. Di lehernya ada bekas tambalan, yang diakibatkan patung itu pernah disembelih orang yang mencurinyaCeritanya, dulu patung ini per­nah hilang dari tempatnya.Tak seorang penduduk yang tahu siapa yang mengambilnya. Hilangnya benda ini tentu saja membuat penduduk resah, sebab hilangnya benda itu bisa pertanda sebagai datangnya bencana atau musibah yang bakal menimpa kampung itu. Sebelum terjadi hal- hal yang tidak diinginkan, aparat desa setempat membentuk tim untuk mencari keberadaan benda itu agar bisa kembali ke tempatnya. Namun, sampai seminggu lamanya, benda itu tak juga bisa ditempatkan.

Mendadak, kampung yang sebelumnya sudah resah itu menjadi heboh dengan adanya salah seorang penduduk yang bernama Ngatinah yang bertingkah seperti orang gila. Lokasi rumahnya dari Punden Pendem hanya sekitar beberapa meter. Karena itu masyarakat lantas menghubunghubungkan peristiwa itu dengan hilangnya patung Lembu Nandini.

Dalam trancenya, wanita ini menyebutnyebut jika patung itu harus segera ditemukan. Beberapa orang yang hadir di tempat itu paham betul bahwa Ngatinah telah kerasukan. Bahkan, mungkin suara yang keluar dari mulutnya bukan suaranya, tapi suara penguasa gaib Punden Pendem.


“Majapahit mungkin artinya Trowulan. Sebab, di situ dulunya adalah pusat Kerajaan Majapahit. Bahkan, di Trowulan sampai sekarang masih banyak pembuat patung,” ujar seorang perangkat desa pada waktu itu, mencoba mengartikan maksud ucapan yang keluar dari mulut Nga­tinah. Setelah dilakukan diskusi, pada waktu itu akhirnya ditugaskan bebe­rapa orang untuk menuju Desa
Mbah Rakso, salah seorang pen­duduk di kampung itu, yang paling dituakan mencoba mengajak Nga­tinah yang tengah kerasukan berkomunikasi. Dalam komunikasi dengan roh halus yang mengunakan media Ngatinah itulah akhirnya diperoleh petunjuk jika patung yang hilang itu berada di Majapahit. Setelah diresapi makna petunjuk itu, akhirnya pen­duduk berkesimpulan jika petunjuk Majapahit yang dimaksud adalah daerah Trowulan, yang merupakan bekas istana atau kraton Kerajaan Majapahit.

Trowulan yang jaraknya cukup jauh dari Desa Mojolebak. Kebetulan pada waktu itu ada penduduk Desa Mojolebak yang mempunyai kenalan orang di Trowulan Supaat, penduduk Mojolebak menemui seorang kenalannya yang kebetulan mengetahui beberapa orang antikan di daerah tersebut. Dari sini, mereka kemudian mendatangi satu persatu nama-nama orang antikan yang ada di Trowulan. Namun, tak satupun orang-orang yang sering mengeksport barang-barang kerajinan patung dari batu atau tembaga ke Bali dan luar negeri itu mengetahui keberadaan patung Lembu Nandini yang berasal dari Mojolebak.

Kalaupun mengetahui atau bahkan menyimpannya, mereka belum tentu mau menyerahkannya. Karena sudah menjadi rahasia umum bahwa mereka sering bermain di bisnis barang antik peninggalan purbakala yang harganya terkadang mencapai jutaan rupiah.

Pada waktu itu, Supaat dan rekanya melakukan mencarian sam­pai jam dua belas malam, tapi tidak menemukan barang yang dicari. Mereka pulang dengan tangan hampa karena tak setitik pun keterangan yang mengetahui keberadaan patung Lembu Nandini. Sampai di kampungnya, Supaat mendapatkan laporan yang menghebohkan yakni perihal Ngatinah yang sebelumnya ber­tingkah aneh dikabarkan telah meninggal dunia dengan cara gantung diri.

Supaat semakin masgul demi mendengar kabar itu. Malam itu, meski dalam kondisi capek, usai berada di rumahnya, ia kembali men­datangi tempat mayat Ngatinah dise- mayamkan untuk melekan dan dikuburkan esok harinya.

Di rumah duka, menurut cerita para penduduk, orang-orang sudah banyak yang berkumpul. Di situ juga ada Bapak Kepala Desa dan Pak Rakso. Bapak Kepala dan Pak Rakso memberi kode agar Supaat duduk di dekatnya karena ada sesuatu yang hendak diomongkan.

“Majapahit tak hanya identik dengan Trowulan, Pak Supaat. Bisa juga Majapahit itu adalah Tarik, tem­pat cikal bakalnya Majapahit berdiri,” ucap Kepala Desa Mojolebak pada waktu itu.

“lya, perkiraan tersebut juga masuk akal. DesaTarik memang ada, tapi kalau Tarik secara ke- seluruhan adalah sebuah wilayah kecamatan yang cukup luas. Di mana saya mesti mencoba mem- ulai pencarian, Pak?” tanya Supaat yang dikenal sebagai tokoh muda yang pemberani dan cerdas dari teman-temannya.

Rupanya tanpa menunggu lama, Bapak Kepada Desa pada waktu itu sudah bergerak cepat dengan meminta bantuan polisi untuk di wilayah itu untuk mencari orang-orang yang berkecimpung di dalam barang-barang antik di wilayah Tarik. Untungnya, orang yang bekerja sebagai kolektor barang antik di wilayah Tarik jumlahnya hanya beberapa oi ang, tidak sebanyak di wilayah Trowulan.

Pagi harinya, usai pemakaman jenazah Ngatinah, kabar gembira itu akhirnya datang. Petugas ke- polisian berhasil membawa kembali patung Lembu Nandini ke tempatnya semula. Hanya saja leher kepala patung sapi itu tidak utuh lagi karena ada bekas pemotongan oleh gergaji. Konon, leher kepala patung sapi

itu dipotong karena pencurinya hendak mengambil emas yang ada di tubuh patung tersebut seperti yang selama ini menjadi dugaan banyak orang. Tapi, saat menge­tahui bahwa dugaan perihal emas itu hanya sekedar cerita akhirnya si pencuri menjualnya ke seorang kolektor barang antik yang ada di Tarik, Sidoarjo. Setelah mendapatkan nama dan alamat pencuri patung Lembu Nandini, polisi pun tak kesulitan menangkapnya. Ternyata salah seorang dari dua pencuri itu adalah penduduk Desa Mojolebak sendiri.

Lembu Andini0001

Untuk tolak bala sekaligus rasa syukur atas ditemukannya patung sapi itu kembali, masyarakat Mojolebak menanggap pangelaran wayang kulit semalam suntuk. Mereka berharap tidak akan ada lagi bencana yang menimpa kam­pung yang berada di pinggiran sungai Marmoyo, anak Sungai Brantas itu. RUD.

Liberty, 1-10 Pebruari 2013, hlm. 62-64

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Mojokerto, Seni Budaya, Th. 2013 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s