Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma, Kabupaten Banyuwangi


Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma6 Desember 1912, Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma lahir di Banyuwangi, Jawa Timur, Indonesia. anak dari R. Suryaka Suryadarma pegawai bank di Banyuwangi, yang masih memiliki garis keturunan dari Kraton Kanoman, Cirebon.   Buyutnya adalah Pangeran Jakaria alias Aryabrata dari Kraton Kanoman.   Sedangkan kakeknya adalah Dokter Pangeran Boi Suryadarma yang bertempat tinggal di Kuningan Jawa Barat, beliau tamatan Sekolah Dokter Jawa.  Sejak kecil Suryadarma telah menjadi yatim piatu, Ia ditinggal oleh ibu kandungnya dalam usia yang masih kecil, sedangkan ayahandanya wafat ketika Suryadarma berusia sekitar lima tahun.  Sepeninggal kedua orangnya, Suryadarma ikut keluarga kakeknya di Jakarta.

Tahun 1918, usia enam tahun Soerjadi Soerjadarma masuk sekolah ELS (Eropese Lagere School) yaitu Sekolah Dasar khusus untuk anak Eropa atau Cina dan anak-anak Indonesia yang miliki keturunan bangsawan atau anak pejabat yang kedudukanya bisa disamakan dengan Bangsa Eropa.

Tahun 1926, Soerjadi Soerjadarma menyelesaikan pendidikanya di ELS, yang kemudian melanjutkan ke jenjang pendidikan berikutnya yaitu HBS (Hogere Burgere School) di Bandung.   Namun sebelum berhasil menamatkan sekolahnya di kota ini, ia harus berpindah ke Jakarta dan melanjutkan di KWS-III (Koning Willem School) Jakarta, sekolah ini sederajat dengan HBS, dan berhasil diselesaikan tahun 1931.

Setelah lulus dari KWS-III, Soerjadi Soerjadarma terus berusaha mengejar cita-citanya menjadi penerbang. Dari KWS ia tidak dapat langsung mengikuti pendidikan penerbang, Ia harus menjadi perwira dahulu. Untuk menjadi perwira, tidak ada jalan lain kecuali mengikuti pendidikan perwira di KMA (Koninklijke militaire Academic), yang saat itu hanya ada di Breda Negeri Belanda.

September 1931, Soerjadi Soerjadarma mendaftarkan diri masuk pendidikan perwira di KMA Breda.  Keinginan Suryadarma untuk menjadi anggota militer ini sebenarnya tidak disetujui oleh Dr. Boi Suryadarma, kakek yang sekaligus menjadi ayah angkatnya. Namiun setelah mendapat penjelasan dari Suryadarma, akhirnya tidak keberatan Suryadarma menjadi kadet (taruna) KMA.

Tahun 1934, Soerjadi Soerjadarma lulus dari Akademi Militer Breda Belanda, ditempuh selama tiga tahun. Suryadarma ditempatkan di Satuan Angkatan Darat Belanda di Nijmigen, negeri Belanda. Baru satu bulan kemudian Suryadarma dipindahkan ke Batalyon I Infantri di Magelang sampai bulan Nopember 1936 Dengan status sebagai perwira dengan pangkat Letnan Dua.

3 Juni 1938, Suryadi Suryadarma menikah dengan Utami anak kelima keluarga Martokusumo,dan telah di karuniai tiga orang anak, yaitu Dra. Awaniduhita Priyanti, Erlangga Suryadarma dan Adityawarman Suryadarma.

Juli 1938, Soerjadi Soerjadarma menyelesaikan pendidikan Sekolah Penerbang, namun tidak pernah diberikan brevet penerbang berhubung adanya politik diskriminasi Belanda, yang tidak mengizinkan seorang pribumi untuk menjadi penerbang karena Militaire Luchtvaartdienst merupakan kelompok elite Belanda saat itu.

Teman sekamar Soerjadi Soerjadarma ketika di Akademi Militer Breda, Captain A.L. Cox yang telah menjadi instruktur penerbang di Kalijati sudah tiga kali mengajukan Suryadarma untuk di checkride, akan tetapi tetap ditolak dan hanya diberikan kesempatan untuk mengikuti ujian sebagai navigator.

Juli 1938, Soerjadi Soerjadarma mengikuti pendidikan di Sekolah Pengintai (Waarnemerschool).

Juli 1939, Soerjadi Soerjadarma ditugaskan sebagai navigator pada Kesatuan Pembom (Vliegtuiggroep) Glenn Martin di Andir Bandung.

Januari 1941, Soerjadi Soerjadarma dipidahkan untuk menjadi instruktur pada Sekolah Penerbang dan Pengintai (Vlieg en Waarnemerschool) di Kalijati.  Setelah satu tahun menjadi instruktur.

Desember 1941, Soerjadi Soerjadarma ditempatkan pada Kesatuan Pembom di 7 e Vliegtuig Afdeling, Reserve Afdeling Bommenwerners, yang dilaksanakan sampai bala tentara Jepang mendarat di Indonesia tanggal 8 Maret 1942

1940- awal,  Soerjadi Soerjadarma diterima sebagai navigator, sebenarnya ia berbakat sebagai penerbang namun tidak diizinkan karena ia pribumi. Suryadarma banyak terlibat dalam operasi-operasi udara AU Belanda, terutama ketika Belanda terdesak oleh invasi Jepang.

Soerjadi Soerjadarma merupakan satu dari empat puluh bumiputera yang diterima di Akademi Militer Belanda (KMA) di Breda, Belanda, sebelum PD II pada era Hindia Belanda. Setelah pensiun berbagai aktifitas dan kegemaran dilaksanakan seperti berburu dan menembak, koleksi batuan mineral/mulia, menulis, koleksi perangko, membaca dan lain-lain.

13 Februari 1942, keberanian Soerjadi Soerjadarma sebagai navigator (sebagai letnan penerbang intai) dengan tiga pesawat pembom Glenn Martin B-10, yang mengebom armada Jepang di Tarakan tanpa disertai fighter escort. Mereka berhasil mengebom kapal penjelajah (cruiser) Jepang, namun kemudian mereka diserang oleh pesawat-pesawat Zero, sehingga hanya bomber yang dipiloti Suryadarma yang berhasil kembali meskipun dalam keadaan rusak.

Maret 1942, Karena jasa Soerjadi Soerjadarma, Pemerintah Belanda menganugerahi Medals for Distinguished Service During Combat untu Jan Lukkien yang menjadi Komandan Skawadron sungguhpun sebetulnya peran Suryadarma sangat besar dalam mengambil keputusan bersama Kapten Lukkien.

Tahun 1945-1949, Soerjadi Soerjadarma sebagai KSAU mendirian Aeroclub, mewujudkan pendidikan dan latihan-latihan dasar penerbangan militer di Maguwo, Maospati dan Malang (teknik radio, radio operator, penerbang, paratroops, pembekalan udara, morse code).

1 September 1945,  Soerjadi Soerjadarma ditugaskan membentuk AURI oleh Presiden Soekarno. Suryadi Suryadarma sebagai pendiri dan Bapak AURI – tidak hanya berperan dalam mengembangkan dunia dirgantara pada bidang kemiliteran, namun juga sebagai pelopor pada penerbangan komersial. Tidaklah berlebihan kalau dikatakan, Suryadarma telah menjadikan dirgantara sebagai bagian dari hidupnya.

September 1945, Soerjadi Soerjadarma memenuhi panggilan Urip Sumohardjo untuk berangkat ke Markas Tertinggi TKR (Tentara Keamanan Rakyat) di Yogyakarta.  Gagasan yang bersifat perintah ini, kemudian disampaikan kepada Soerjadi Soerjadarma.  Dalam pernyataan kesanggupan untuk melaksanakan perintah tersebut, Soerjadi Soerjadarma mengajukan saran, bahwa angkatan udara yang akan dibentuk seyogyanya merupakan suatu angkatan udara yag mandiri, seperti halnya Royal Air Force (RAF) di Inggris.

5 Oktober 1945, pemerintah mengeluarkan dekrit pembentukan Tentara Keamanan Rakyat (TKR), yang selanjutnya dibentuk MT TKR (Markas Tertinggi TKR) di Yogyakarta.  Sebagai Kepala Staf Umum dijabat oleh Mayor Jendral Urip Sumohardjo.  Sejalan dengan pembentukan TKR, timbul gagasan dari Kepala Staf Umum TKR Mayor Jendral Urip Sumohardjo untuk membentuk suatu kekuatan udara di Indonesia.   Untuk mewujudkan gagasan tersebut,  Mayor Jendral Urip Sumohardjo memanggil Soerjadi Soerjadarma.  Panggilan pertama, Surayadarma belum memenuhinya, karena Ia sedang melaksanakan tugas yang diberikan Bung Karno untuk menangani BKR di Priangan.

27 Oktober 1945, untuk pertama kalinya para juru teknik TKR bagian penerbangan mampu memperbaiki sebuah pesawat latih “Cureng” yang berbendera merah putih dan dapat mengudara di atas Pangkalan Udara Maguwo, Yogyakarta.

12 Nopember 1945, Saran pembentukan angkatan udara yang mandiri tersebut dapat diterima oleh Mayor Jendral Urip Sumahardjo.  Hal ini terbukti dengan mulai dibicarakannya masalah kekuatan udara dalam sidang Konferensi Tentara Keamanan Rakyat di Yogyakarta, dengan keputusan :

10 Desember 1945 semua bagian penerbangan di Indonesia, termasuk prajurit, pegawai dan pangkalan serta alat-alatnya ditempatkan di bawah Kepala Penerbangan. Kepala Penerbangan berkedudukan di Markas Besar Umum.

12 Desember 1945, MT TKR mengeluarkan pengumuman yang ditandatangani oleh Letnan Jendral Oerip Sumohardjo yang menyatakan bahwa MT TKR di bentuk bagian penerbangan yang dipimpin oleh Soerjadi Soerjadarma dan Sukarnen Martokusumo sebagai wakilnya.

Tahun 1946 Tentara Nasional Indonesia Angkatan Udara (TNI AU) sejak berdiri, telah silih berganti pimpinan dengan berbagai sebutan. Menteri/Panglima Angkatan Udara (Men/Pangau) maupun dengan sebutan Kepala Staf Angkatan Udara (Kasau).  Penetapan Pemerintah No. 6/SD, tanggal 9 April 1946 merupakan dasar dari pembentukan TNI AU.

Tanggal 9 April hingga sekarang diperingati sebagai hari lahirnya TNI AU. Ketetapan tersebut sekaligus menunjuk Komodor Udara R. Surjadi  Suryadarma sebagai Kepala Staf Tentara Republik Indonesia Angkatan Udara (TRI AU). Kedudukan TNI AU pada saat itu berada di Jogyakarta.

9 April 1946, Presiden RI Sukarno mengeluarkan Penetapan Presiden No. 6/SD/1946, TRI Jawatan Penerbangan dirubah menjadi TRI Angkatan Udara, dan diresmikan pula penggunaan sebutan dan tanda pangkat dilingkungan TRI Angkatan Udara, dengan susunan sebagai berikut :

  1. Pimpinan Tertinggi TRI AU : Panglima Besar Jenderal Sudirman.
  2. Kepala Staf TRI AU : Soerjadi Soerjadarma dengan pangkat Komodor Udara (sama dengan Mayor Jendral di Angkatan Darat) (KASAU Pertama)
  3. Wakil Kepala Staf TRI AU I : R. Sukarnen Martokusumo dengan pangkat Komodor Muda Udara (sama dengan kolonel).
  4. Wakil Kepala Staf TRI AU II : Agistinus Adisutjipto, dengan pangkat Komodor Muda Udara.

Tahun 1946  – 1962, Laksamana Udara Soerjadi Soerjadarma menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Udara.

27 Februari 1948, Komodor Udara Suryadi Suryadarma mendapat tugas rangkap sebagai KSAP (Kepala Staf Angkatan Perang) Republik Indonesia. Dan ketika Belanda melakukan aksi Militer II tahun 1948, Suryadarma ikut tertawan bersama pimpinan Republik yang lain, dan dibuang ke Pulau Bangka. Kemudian tahun berikutnya, dalam memperkuat delegasi Indonesia menghadapi perundingan dengan pihak Belanda di KMB, Suryadarma turut sebagai penasihat militer. Demikian juga pada waktu penyerahan kedaulatan tahun 1949.

Mei 1948, sebanyak 20 Kadet AURI dikirim ke India tujuannya adalah mengusahakan pendidikan penerbang. Dan tidak kurang dari 60 orang kadet dikirim ke Amerika, selain itu juga memperbanyak awak pesawat dan staf personalia. Pada tahun yang sama, mulai merintis pembentukan Pasukan Payung Angkatan Udara, yang disebut Pasukan Gerak Cepat, yang kemudian dikenal sebagai Kopasgat.

Tahun 1950-an, Soerjadi Soerjadarma berperan dalam negoisasi pengambil-alihan KNILM/KLM menjadi Garuda Indonesia Airways (GIA). Adalah Sekolah Perwira Penerbang AURI angkatan pertama yang sekaligus menghasilkan penerbang-penerbang untuk GIA. Selain itu, Suryadarma juga menggagas agar para penerbang dan crew penerbang sipil menjadi perwira dan bintara cadangan AURI. Masyarakat awam yang terlibat dalam penerbangan sipil oleh Suryadarma juga diangkat sebagai perwira yang berpangkat Tituler.

Tahun 1950, Soerjadi Soerjadarma memprakarsai terbitnya majalah kedirgantaraan Angkasa, diterbitkan oleh Dinas Penerangan AURI. Sekarang majalah Angkasa diterbit-lestarikan oleh grup Kompas Gramedia dibawah asuhan Jakob Oetama.

Tahun 1950-1954, Soerjadi Soerjadarma memprioritaskan pendirian sekolah-sekolah pendidikan dan latihan penerbangan. Hampir segala macam kejuruan teknis penerbangan militer dan sipil, dengan memanfaatkan tenaga-tenaga ahli Belanda (ex ML dan ex Luchvaart Dienst) sebagai instruktur, dosen dan pengawas mutu pendidikan. Hanya Sekolah Perwira Penerbang saja yang menggunakan instruktur-instruktur Amerika.

Soerjadi Soerjadarma bersama Soetanandika (Kepala Direktorat Penerbangan Sipil) menggagas berdirinya Akademi Penerbangan Curug ( Sekolah Penerbang, Sekolah Teknik Udara, Sekolah Lalu-lintas Penerbangan, dan Sekolah Meteorologi). Akademi ini harus memenuhi persyaratan-persyaratan ICAO. Pada tahun-tahun pertama, sekolah-sekolah ini menggunakan tenaga instruktur AURI, namun kemudian digantikan oleh tenaga asing atas rekomendasi ICAO dan ditambah dengan tenaga sipil yang sudah memenuhi kualifikasi ICAO.

Tahun 1950-1955, Soerjadi Soerjadarma mendirikan Aeroclub dibeberapa ibukota propinsi. Bahkan, dari sipil pun yang berminat terbang dengan pesawat latih Piper Cub L4-J diijinkan, asal tetap memenuhi persyaratan fit and proper. Ada dua lichting berhasil memenuhi persyaratan sebagai Penerbang-III (klein brevet), yaitu mencapai 60-65 jam terbang. Para instruktur adalah penerbang AURI dan kursus ini terbatas hanya bisa diselenggarakan di Cililitan (Halim), Andir (Sulaiman, Bandung) dan Maguwo (Adisucipto). Masyarakat sipil ini sebagian besar adalah para dosen muda dari universitas.

Tahun 1954, Soerjadi Soerjadarma memenuhi tenaga-tenaga instruktur pendidikan dari para perwira dan bintara AURI. Bahkan untuk calon-calon instruktur pendidikan yang berprestasi, Suryadarma mengirimkan para perwira dan bintara ini ke India Air Force.

27 Juni 1950, Marsekal Suryadarma dengan resmi menerima penyerahan Markas Besar Koninklijke Militaire Luchtvaart (Angkatan Udara Belanda) kepada Angkatan Udara Republik Indonesia. Upacara ini mengakhiri serangkaian upacara penyerahan pesawat udara militer dan pangkalan Angkatan Udara  di beberapa tempat di Indonesia kepada AURI. Tahun itu juga, Suryadarma menyelenggarakan program pendidikan Kadet, antara lain mengirim sejumlah calon penerbang ke luar negeri.

Soerjadi Soerjadarma menyadari pentingnya keberadaan pasukan payung (paratroops). Cikal bakal lahirnya pasukan payung pertama di Indonesia yaitu Pasukan Gerak Tjepat (PGT) yang kini menjadi Paskhas TNI-AU.

TNI Angkatan Udara terlahir dari tidak ada, hingga menjadi angkatan udara paling canggih dan ditakuti di kawasan Asia Tenggara pada era tahun 1960-an merupakan wujud dari pengabdian Suryadarma kepada negara dan Bangsa Indonesia dalam membangun dan mengembangkan Angkatan Udara Republik Indonesia selama 17 tahun menjabat KSAU yang pertama.  Melalui mottonya “Kembangkan Terus Sayapmu demi kejayaan tanah air tercinta ini, Jadilah Perwira sejati pembela tanah air”, Suryadarma terus mengajak perwira-perwira muda AURI untuk terus bersemangat dalam menumbuh kembangkan AURI.  Untuk itu.

Tahun 1960, Suryadi Suryadarma menjadi Menteri/Kepala Staf AURI. Jabatan KSAU diserahkan kepada Omar Dani dalam suatu peristiwa peralihan kepemimpinan yang tragis, di tengah hangatnya Operasi Mandala, pembebasan Irian Barat tahun 1962. Kemudian diangkat menjadi penasihat Militer Presiden RI di Jakarta sampai dengan tahun 1965, setelah menjabat penasehat presiden, Suryadarma diangkat sebagai Menteri Pos dan Telekomunikasi (Postel) di Jakarta. Tahun 1966 diperbantukan pada Menteri/PANGAU. Dan pada tahun 1968, Marsekal Suryadi Suryadarma diberhentikan dengan hormat dengan hak pensiun.

Setelah pensiun berbagai aktifitas dan kegemaran dilaksanakan seperti berburu dan menembak, koleksi batuan mineral/mulia, menulis, koleksi perangko, membaca dan lain-lain. Menginjak di usia ke 63 tahun, kesehatannya mulai menurun dan mengidap sakit komplikasi liver.

Tahun 1976, Soerjadi Soerjadarma mendukung gagasan Wiweko Supeno dan Nurtanio Nurtanio Pringgoadisuryo  dalam berbagai eksperimen pembuatan pesawat terbang dan helikopter di Maospati.

Soerjadi Soerjadarma bersama Halim Perdanakusuma dan Wiweko mengundang pesawat-pesawat angkut asing untuk menerobos blokade udara Belanda terhadap Indonesia.

Soerjadi Soerjadarma mendukung upaya kepeloporan membangun industri penerbangan Indonesia. Dalam tahap embrionalnya, proyek ini dinamai Lembaga Persiapan Industri Penerbangan (LAPIP), secara struktural ada dalam organisasi AURI dan Suryadarma sebagai KSAU menentukan policy dari lembaga tersebut. LAPIP kemudian berubah menjadi Lembaga Industri Penerbangan-Nurtanio (LIPNUR).

18 Februari 1960, Soerjadi Soerjadarma selain sebagai KASAU,  jabatannnya ditingkatkan sebagai Menteri/Kastaf AURI.

9 Maret 1960, Suryadi Suryadarma sempat meminta mengundurkan diri sebagai bentuk pertanggungjawaban atas ulah Letnan II (Pnb) Daniel Maukar yang pada pagi harinya menembaki Istana Negara Jakarta dengan pesawat tempur MiG-17F Fresco asal Skadron Udara 11, namun permintaan tersebut ditolak oleh Presiden Soekarno.

19 Januari 1962, Soerjadi Soerjadarma “dipaksa” mengundurkan diri dari jabatannya sebagai KSAU sebagai ekses dari peristiwa pertempuran Laut Aru yang menewaskan Komodor (L) Yos Sudarso. Karier gemilangnya berakhiri disini, selama kurang lebih 16 tahun memimpin AURI.

Pengorbanan batin KSAU Soerjadi Soerjadarma masa itu sebagai wujud nyata sikap tertinggi dalam disiplin prajurit, yaitu loyalitas bagi bangsa dan negara. Pada hari itu juga oleh Presiden Soekarno, ia diangkat sebagai Menteri Penasehat Presiden RI.

Tahun 1965, Soerjadi Soerjadarma dipercaya memangku jabatan sebagai Menpostel RI.

24 Februari 1966 – 28 Maret 1966, Soerjadi Soerjadarma menjabat sebagai Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia ke-3.

Agustus 1975, Pada minggu kedua Suryadarma mulai dirawat di Rumah Sakit Husada, Jakarta selama seminggu.

Sabtu 16 Agustus 1975-05.45 WIB,  atas kehendak Tuhan Soerjadi Soerjadarma meninggal dunia, pada umur 62 tahun.  Jenazah disemayamkan di rumah duka dan di Markas Besar TNI AU Jalan Gatot Subroto.

Minggu 17 Agustus 1975, pukul 13.00 WIB, Pemakamannya dilaksanakan di Pemakaman Umum Karet, Jakarta secara militer dengan Inspektur Upacara KASAU Marsekal TNI Saleh Basarah.

Sebagai penghormatan atas jasa-jasanya bagi bangsa dan negara maka TNI-AU meresmikan nama Lanud di daerah Kalijati, Subang Jawa Barat dengan nama Lanud Suryadarma disingkat SDM. Selain itu nama Suryadarma juga diabadikan sebagai nama sebuah perguruan tinggi milik TNI-AU di daerah Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur dengan nama Universitas Suryadarma.

Soerjadi Soerjadarma sebenarnya mendapat medali penghargaan dari pemerintah Belanda atas jasanya melawan tentara Jepang semasa pendudukan Jepang di Indonesia, akan tetapi medali tersebut tidak pernah diberikan oleh Belanda kepada Suryadarma karena dianggap menyeberang memihak Indonesia saat perang kemerdekaan.  Hingga saat ini medali tersebut masih dipajang di museum perjuangan Negara di Negeri Belanda.

Tahun 1980, Lembaga Industri Penerbangan-Nurtanio (LIPNUR), diubah menjadi Industri Pesawat Terbang Nusantara (IPTN) oleh B.J. Habibie.

Tahun 2000 Suryadarma dikukuhkan oleh KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan sebagai Bapak AURI sesuai surat keputusan KSAU nomor SKEP/68/VI/2000 tanggal 20 Juni 2000.   Selain itu, untuk mengenang jasa-jasanya,

7 September 2001, nama Suryadarma diabadikan menggantikan nama Lanud Kalijati.  Dipilihnya Lanud Kalijati, karena Lanud Kalijati merupakan salah satu pangkalan cikal bakal berdirinya TNI Angkatan Udara, yaitu tempat dilaksanakannya sekolah penerbang pertama dan sekolah-sekolah pendukung penerbangan

Beberapa tanda kehormatan yang dimiliki Suryadarma, antara lain, Bintang Maha Putra Adipurna, Bintang Sakti, Bintang Dharma, Bintang Garuda, Bintang Sewindu RI, Satya Lencana Perang Kemerdekaan I, Satya Lencana GOM I (Madiun), Satya Lencana GOM II (RMS), Satya Lencana GOM IV (Sulawesi Selatan), Satya Lencana GOM V (Jawa Barat), Satya Lencana GOM VII (Aceh), Satya Lencana Sapta Marga, Satya Lencana Kesetiaan VIII & XVI Tahun, Medali 10 Tahun AURI,  Middle of Yugoslav People Army First Class, The Grand Gordon of the Order of the Republik Thai, Order of the Crown, First Class Thai, Order of the White Elephant Second Class. =S1WhoT0=

http://tni-au.mil.id/content/surjadi-suryadarma

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Pejabat Negara, Sosok, Th. 2000 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s