Tuban Dibawah Kekuasaan Demak


Pada permulaan abad ke-16, Tuban adalah tempat penting raja. Keratonnya mewah, dan kotanya, meski tidak terlalu besar, mempunyai kubu pertahanan yang tangguh. Wangsa rajanya, sekalipun Muslim, sejak pertengahan abad ke-15 tetap menjalin hubungan baik dengan Raja Majapahit di pelosok. Raja Tuban pada waktu itu disebut Pati Vira. Dari kata vira dikenal kata wira, yang sering menjadi bagian dari nama Jawa. Tetapi, vira juga dihubung- kan dengan Wilwatikta. Menurut cerita-cerita Jawa Tengah dan Jawa Timur, Raja Tuban yang memerintah itu memakai gelar Arya Wil­watikta.

Wira sebagai bupati Tuban bertahan sampai 1515, karena Tome Pires masih menyebut Pati Wira dari Tuban. Pati Wira yang berkua- sa pada waktu itu menurut Tome Pires bukan seorang Muslim yang taat, meski kakeknya sudah masuk Islam. Ia mempunyai hubungan baik dengan orang-orang Hindu di pedalaman. Bupati Wira suka memelihara anjing. Ia pun bersahabat dengan orang-orang Portu- gis. Persahabatan tersebut menjadi cemoohan kaum muslim Tuban. Menurut Tome Pires, Bupati Wira mendapat anugerah gelar “anati- mao de raja” dari raja Jawa. Pada waktu itu yang menjadi penguasa di Kerajaan Majapahit ialah Dyah Ranawijaya Girindrawardhana.

Cerita sejarah lokal dibukukan menjadi Serat Babad Tuban, suatu naskah yang khusus memuat urutan nama para pejabat kota tersebut. Menurut Babad Tuban, Arya Wilwatikta adalah anak dan pengganti Arya Teja, seorang ulama keturunan Arab yang berhasil meyakinkan raja Tuban, Arya Dikara, untuk masuk Islam. Arya Teja dinikahkan dengan putri Arya Dikara. Nama Arya Teja semakna dengan bahasa Arab “Abdurrahman”, artinya hamba yang menyinarkan rahmat Tuhan. Cerita ini sesuai sekali dengan cerita Tome Pires bahwa pejabat Tuban pada sekitar tahun 1500 itu adalah cucu raja Islam yang pertama di tempat itu.

Nama-nama yang disebutkan dalam Serat Babad Tuban itu ternyata bergelar Adhikara, sebuah gelar yang dicantumkan pada bagian akhir nama jabatan gubernur di daerah-daerah penting, atau pejabat tinggi keraton. Mereka juga berhak memakai gelar Arya. Pada kata Wilwatikta, dapat dikenali kata wilwatikta, terjemahan Sansekerta untuk Majapahit. Jadi, nama-nama yang dituturkan itu memperkuat berita mengenai hubungan yang sudah lama terjalin antara keraton Majapahit dan keturunan para pejabat Tuban.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: Tuban Bumi Wali; The Spirit of Harmony, Pemerintah Daerah Kabupaten Tuban, hlm. hlm. 56 – 57

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Th. 2013, Tuban dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s