Bahasa Masyarakat Samin


Masyarakat-SaminBahasa perantara atau bahasa khusus Samin ialah bahasa Jawa yang sangat bersahaja (Jawa Dwipa atau Djawa Lugu). Dengan tidak menghiraukan pangkat, bangsa, tingkatan terhadap siapapun mereka selalu mempergunakan perkataan “sedulur” (saudara). Mereka tidak mengindahkan apakah mereka berbicara dengan seorang pejabat pemerintahan, orang atasan, kaya, petani, miskin, cendekiaewan, dan sebagainya. Tidak, mereka tidak takut kepada siapapun walaupun terhadap pemerintah Belanda yang berkuasa pada zamannya. Ya, suatukemenangan batinyang mengagumkan, suatu revolusi jiwa yang hangat, mengingat pada masa tumbuhnya aliran ini di sekitar tahun sembilan ratusan (Soepanto-Djaffar, 1962:31).

Orang Samin yang tinggal di mana pun menggunakan bahasa Jawa lugu, yakni bahasa Jawa yang sederhana atau bersahaja. Mereka tidak mau mempelajari dan menggunakan bahasa selain bahasa Jawa. Menurut pemikiran mereka “orang Jawa itu harus berbahasa Jawa” karena itu tidak sepantasnya orang Jawa berbahasa asing. Dalam pikiran mereka orang asing itu (Belanda) suka menjajah dan merampas kemerdekaan manusia. Karena itu orang Samin tidak senang kepada pemerintah Kolonial (Belanda). Hal itu terbukti dengan sikap mereka yang menentang dengan cara tidak mau membayar pajak. Dalam hal ini rasa kebangsaannya sangat mendalam.

Masyarakat Samin tidak mengenal tingkat bahasa Jawa, seperti bahasa Jawa krama, bahasa Jawa madya, dan bahasa Jawa ngoko. Dalam ajaran yang diberikan oleh Samin Surosentiko bahwa siapa pun sama. Mereka tidak membeda-bedakan siapa pun. Manusia hidup mempunyai kedudukan dan tingkatan yang sama. Dalam pergaulan hidup sehari-hari dengan siapa saja, mereka menyebutnya sedulur (saudara). Walaupun terhadap para priyayi (bangsawan) sekali pun. Orang atasan (pejabat), petani, orang kaya, orang miskin. Semua adalah sedulur. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa orang Samin ternyata memiliki rasa demokrasi dan kemanusiaan yang kental.

Oleh karena itu dalam pergaulan sehari-hari, terutama dengan sesama sedulur orang Samin menggunakan bahasa Jawa ngoko. Dahulu bahasa ini (masa kolonial) mereka gunakan apabila mereka berbicara dengan siapa saja, misalnya dengan Lurah atau Kepala Desa, perangkat atau pamong desa yang lain. Semua mereka ajak berbicara dengan menggunakan bahasa Jawa ngoko. Orang tua dengan ana dan anak dengan orang tua. Yang penting sikapnya menghormat (ngajeni) agar dihormati (kajen).

Apabila berkomunikasi atau bertemu dengan orang lain yang bukan paham Samin, tidak menggunakan bahasa Jawa ngoko, tetapi mereka menggunakan bahasa Jawa krama andhap. Misalnya, apabila bertemu dengan orang lain:

+ “Seger war as’ (apa khabar) atau ‘ sami seger warns”)

– “Waras” (Baik).

+ ” Tepangaken, kula pengaran X saking dhusun Y, turune Z, kula sikep rabi kalijan turune O”

(Kenalkan, saya bernama X dari Dusun Y, anak Z, kawin dengan anaknya O)

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 103 – 104

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 2008 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s