Perkembangan Paham Samin


Perkembangan Gerakan Paham Samin (Saminist) di Jawa Tengah dan Jawa Timur

Nama Samin dikenal sedari 1840, ketika Surowijoyo menghimpun kelompok brandalan di Rajegwesi dan Kaner, yang banyak menyusahkan pihak Gupermen. Sampai pada generasi Kohar alias Samin Surosentiko, warisan kekecewaan yang menumpuk ini lebih menekan jiwanya lagi (Sastroatmodjo, 2003:61).

Para ahli menyebutkan adanya tiga unsur dalam gerakan Saminisme yang berkembang di Pulau Jawa. Pertama, gerakan ini mirip organisasi proletariat kuno yang menentang sistem feodalisme dan kolonial dengan kekuatan agraris terselubung. Kedua, aktivitas kontinyu: sepanjang yang dideteksi pihak aparat pemerintah terbukti bahwa gerakan ini bersifat utopis, bahkan tanpa perlawanan fisik yang mencolok. Ketiga, tantangan yang dialamatkan kepada pemerintah yang diperlihatkan dengan prinsip “diam”, tidak bersedia membayar pajak, tidak bersedia menyumbangkan tenaga untuk negeri, menjegal peraturan agraria daerah yang berlaku, dan terlampau mendewakan diri sendiri sebagai pengejawantahan dewa yang suci (Sastroatmodjo, 2003:12).

Wong Sikep, yakni Samin yang dulunya fanatik – tapi kini meninggalkan ajaran dasar dan memilih agama formal, yakni Budha-Dharma, misalnya di Klopoduwur (Blora), Purwosari (Cepu), dan Mentora (Tuban) – hanya kelihatannya Samin apabila dilihat dari keberhasajaan dan kesenangan berpakaian polos hitam dari bahan kasar, sedang kredo agamis sepenuhnya telah Budhasentris (Sastroatmodjo, 2003:48).

Situasi sekarang tidaklah sama dengan pada zaman penjajahan pemerintah kolonial berkuasa. Masyarakat Samin juga mengalami perubahan. Mereka pada umumnya sudah menyesuaikan dengan masyarakat sekitar yang tinggal dalam satu komunitas. Tetapi ajaran-ajaran yang mereka terima dari Samin Surosentiko tetap mereka pertahankan (ugemi). Seperti misalnya, orang harus berbudi luhur, jangan membuat orang kecewa, jangan menyakiti orang lain dan sebagainya, “Aja drengki srei, tukarpadu, gahwen kemeren. Aja kutil jumput, bedhog nyolong dan sebagainya. Ajaran itulah yang masih melekat dalam ingatan orang-orang Samin dan konsekuen mereka jalani.

Kemurnian ajaran kesaminan mungkin hanya bisa bertahan hingga setengah, atau paling banter, satu abad. Setelah itu, mengingat meluasnya penggunaan alattransportasi modern,adanya radio dan surat kabar serta pengaruh perkembangan pesat teknologi lainnya, isolasi mereka lambat laun menipis. Perlu ditambahkan, kendati mereka cenderung menolak menjadi anggota organisasi politik dan hanya memberikan partisipasinya kepada lembaga- lembaga yang bersifat sosial, ekonomi, dan kesenian setempat, tetap membuktikan bahwa sisi terpenting ajaran baku Kiai Samin tidak diabaikan, bahkan menjadi semacam pedoman penghayat. Masuk akallah apabila nereka tampak puritan (Sastroatmodjo, 2003:31). ‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Setya Yuivana Sudikan. Kearifan Lokal Masyarakat Samin dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 88 – 89

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 2008 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s