Sejarah Bangkalan


Penetapan Hari Jadi Bangkalan melalui proses yang rumit dalam pembakuannya, karena masih me- merlukan penelitian lebih mendalam. Bahkan pengkajiannya juga dilakukan secarateliti melalui seminar dan diskusi- diskusi sehat yang positif untuk menentukan hasilnya. Akhirnya dari Tim 19 yang telah di- bentuk, melalui sidang DPRD Bang­kalan bulan Mei 1992 yang lalu, memutuskan secara aklamasi Hari Jadi Bangkalan ditetapkan pada tanggal 24 Oktober 1531.

Sebagai pertimbangan yang mendasar, bahwa pada tanggal itu dijadikan titik awal sejarah peme- rintahan baru di Bangkalan, karena bertepatan dengan dinobatkannya Pranatu menjadi Panembahan yang bergelar Lemah Duwur. Sosok Pranatu atau Panembahan Lemah Dhuwur adalah putra dari Raja Pragalba yang dikenal sebagai pendiri Kerajaan kecil yang berpusat di Arosbaya, 15 Km arah utara kota Bangkalan.

Adapun masyarakat Bangkalan sendiri menokohkan Pranatu ditinjau dari berbagai pertimbangan diantara- nya, dia dianggap sebagai penyebar Agama Islam yang pertama di Wilayah Madura. Bahkan putra Pragalba itu juga disebut sebagai pendiri Masjid pertama, ditambah dengan upayanya dalam mengawali hubungan ke luar daerah, seperti halnya dengan negeri Pajang di Pulau Jawa.

Walaupun jauh sebelumnya Agama Islam masuk ke Madura, sejarah tidak bisa ditinggalkan dengan munculnya kekuasaan sebuah kerajaan di Plakaran. Embrio berdirinya kerajaan Plakaran dimulai pada periode awal kedatangan Kiai Demung dari Sampang. Dia adalah anak Aria Pujuk dan Nyai Ageng Budha. Melihat nama Kiai Demung, mengingatkan salah satu jabatan dalam Pancaring Wilwatikta, yaitu Rakryan Demung.  Adanya hal ini dimungkinkan kata Demung adalah nama jabatan yang terdapat di pemerintahan Mojopahit.

Jadi kerajaan Plakaran merupakan bagian Wilayah Mojopahit yang dianggap potensiil pada waktu itu. Setelah menetap di Plakaran, Kiai Demung dikenal dengan sebutan Demung Plakaran. Pe- kembangan berikutnya Demung mendirikan sebuah tempat untuk kegiatan keramaian di sebelah barat kerajaan Plakaran atau tepatnya di kecamatan arosbaya. Sebagai kuasa pratama dari kerajaan plakaran, Demung menikah dengan Nyi Sumekar sehingga mempunyai keturunan lima putra termasuk R. Pragalba sebagai putra bungsunya, yang akhirnya diberi kekuasaan untuk bertahta.

Dikala Pragalba bertahta, kekuasaannya tidak hanya di Arosbaya saja melainkan beliau meluaskan kekuasaannya dihampirseluruh Madura terutama Wilayah Madura Bagian Barat, yang merupakan keramaian untuk melancarkan roda perekonomian. Di Madura bagian barat itu daerah kekuasaannya berangsur-angsur berkembangdanakhirnyamenjadi sebuah kota Bangkalan.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Artikel di atas dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: MIMBAR JATIM, Nomor

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Bangkalan, Seni Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s