Budaya Madura


Bentuk dasar budaya Madura dalam garis besarnya dapat digolongkan ke dalam budaya Jawa yang didalamnya tercakup sebagai rumpun Jawa-Sunda-Madura-Bali, sedangkan warna tersebut antara lain dipengaruhi oleh letak geografis meliputi karakteristik topografinya, iklim dan kondisi-kondisi alamiah lainnya yang terkait serta jangkauan komunikasi. Secara kultural yang agak menonjol perbedaannya adalah dalam segi tutur bahasa dan sikap mental dari orang Madura dibandingkan dengan orang Jawa.

Orang Madura mempunyai dan berbicara bahasanya sendiri, Bahasa Madura. Mereka tergolong orang-orang yang terus terang, tanpa tedeng aling-aling, langsung dalam tutur bahasa dan tingkah lakunya, sehingga banyak golongan masyarakat lain menganggapnya sebagai kurang halus. Tetapi tidak demikian halnya apabila mengenal orang Madura dari dekat secara seutuhnya. Kiranya lebih sesuai apabila dikatakan bahwa orang Madura agak berdarah panas. Ini sesuai dengan iklim daerahnya dimana mereka hidup. Kehidupan keras yang harus dihadapi dalam memperoleh mata pencahariannya hingga berpengaruh pada sikap mental mereka, menjadikan mereka ulet dan pandai menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan.

Betapapun hal itu tidak menjadikan gangguan maupun halangan bagi siapa saja yang hendak berkomunikasi dengan orang Madura. Mereka semua seramah orang Jawa maupun orang Bali dan golongan etnis lainnya, asal orang mendekatinya dengan baik, sopan dalam tegur sapa. Corak kehidupan orang Madura dalam bidang keagamaan dan kebudayaan seolah-olah melarut sama dengan orang Jawa. Keduanya sama-sama mengenal filsafat hidup bangsa sejak zaman purba, ialah Bhineka Tunggal Ika dimana sepanjang kehidupan, mereka bisa saling me-ngambil dan memberi. Dari abad ke abad orang Madura turut serta mengalami pasang surutnya politik pemerintahan kerajaan-kerajaan pra-Majapahit beserta peperangan-peperangannya hingga pasca-Majapahit dengan masuknya agama Islam ke Pulau Jawa. Pengaruh Islam yang kuat dibawa oleh mubaligh-mubaligh yang dikirimkan oleh Sunan Giri ke Madura dan pada akhirnya menjadikan mereka sangat patuh pada agamanya dan para pemimpin agama Islam di Madura.

Islam membawa pengaruh terhadap arsitektur bangunan sebagaimana tampak di Astatinggi, Sumenep, yang terlihat pada cungkup kedua yang merupakan peralihan dimana tulisan-tulisan memakai huruf Jawa dan Arab, sedangkan pada cungkup pertama hanya bertulisan huruf Jawa, dan yang terakhir sudah beratapkan kubah dengan tulisan Arab didalamnya. Sebaliknya dalam abad-abad berikutnya arsitektur bangunan dimasuki unsur-unsur asing, misalnya, Masjid Jamik Sumenep yang berdenah luas dan tumpang atap yang menunjukkan gaya Majapahit sedangkan pintu gerbang dipengaruhi unsur Cina.

di Nukil=S1Wh0T0=: dari Koleksi Deposit. Tanpoaran

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madura, Seni Budaya dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s