Beberapa Produk Kesenian Masyarakat Pandalungan


Perkembangan kesenian di wilayah pandalungan tidak terlepas dari bentuk-bentuk akulturasi dan akomodasi produk kesenian etnik dominan. Percampuran budaya tampaknya sangat mempengaruhi ekspresi masyarakatnya dalam berkesenian. Sejatinya, proses invensi dan modifikasi kesenian juga terjadi. Sebagai sebuah media berkomunikasi, maka produk kesenian yang berkembang di wilayah pandalungan melahirkan pola ekspresi yang cenderung akomodatif, egaliter, kasar, dan marginal.

Pola ini berkembang tampaknya lebih didorong oleh keinginan mengedepankan sifat komunikatif antaretnik yang ada. Beberapa produk kesenian tersebut tampaknya sudah kurang banyak diminati oleh masyarakat (bahkan sebagian nyaris punah), karena tergilas oleh produk kesenian modernyang cenderung instant dm pragmatis. Berikut ini beberapa produk kesenian yang pernah berkembang dan relatif masih memiliki pendukung di wilayah kebudayaan pandalungan.

  1. Musik Patrol: Kesenian ini masih terus berkembang di wilayah kabupaten Jember dan sekitarnya, yang dilhami oleh tradisi ronda malam pada zaman dahulu. Alatnya terdiri dari seruling, beberapa kentongan besar dan kecil dari kayu dan bambu. Musik patrol ini dalam perkembangannya terus mengalami modifikasi serta variasi, meskipun tetap memiliki keterbatasan.
  2. Jaran Kencak: Jaran kencak adalah kesenian rakyat dalam bentuk kuda yang dilatih menari. Agar menarik perhatian, maka kuda-kuda tersebut diberikan aksesoris warna-warni. Biasanya diiringi kendang, kenong, terompet tradisional (saronen). Kesenian ini perkembangannya agak terhambat oleh semakin berkurangnya peternak kuda di wilayah pedesaan.
  3. 3.     Hadrah: Suatu bentuk kesenian yang bernafaskan Islam yang terdiri dari beberapa rebana kecil, untuk mengiringi sholawat nabi.
  4. Terbangan: Kesenian bernafaskan Islam yang terdiri dari beberapa alat musik rebana besar yang memiliki nada suara yang berbeda satu sama lain.
  5. Kentrung: Seni kentrung adalah pelantunan pantun Madura yang diiringi bunyi rebana atau terbang. Seni ini masih banyak dijumpai di kantong-kantong kebudayaan Madura di wilayah Tapal Kuda.
  6. Singo Ulung: Singo ulung adalah tarian rakyat dari Kabupaten Bondowoso, yang menggambarkan legenda peperangan antara dua tokoh sakti.
  7. Can-macanan Kadduk: Can macanan kadduk adalah tarian rakyat Jember yang merupakan produk masyarakat agraris pandalungan. Tarian ini melambangkan keperkasaan harimau atau macan yang diposisikan sebagai hewan yang sangat ditakuti.
  8. Lengger: Lengger adalah tarian rakyat yang mirip dengan tandhak atau tledhek yang dikenal dalam wilayah kebudayaan Jawa.
  9. Topeng: Sebuah kesenian panggung mirip ludruk (sandiwara), tetapi dialognya menggunakan bahasa Madura dan kidungannya menggunakan bahasa Madura dan Jawa. Ceriteranya sangat beragam, mulai ceritera klasik berlatar belakang sejarah sampai ceritera modern tentang kehidupan sehari-hari.
  10. Janger: Janger adalah sandiwara rakyat yang pementasannya mirip dengan ketoprak yang terdapat di wilayah kebudayaan Jawa. Iringan musik (gamelan) menggunakan gamelan Bali atau Banyuwangi, tetapi gending dan syair yang dinyanyikannya menggunakan bahasa Jawa. Kostum pemain ketika di atas pentas hampir seluruhnya menirukan kostum janger Bali atau Banyuwangi. Ceritera yang dimainkan biasanya sekitar sejarah Majapahit, Blambangan Jenggala, dan Daha. Janger berpentas hingga pagi hari, syair lagunya menggunakan bahasa Jawa, tetapi dialognya menggunakan bahasa Madura.
  11. Mamacah (Macapat: Bhs.Jawa): Seni membaca cerita dengan cara dilagukan (macapat-an) yang biasanya diiringi dengan seruling. Kitabyang dibaca biasanya mengisahkan ceritera Menak (ceritera 1001 malam). Dinyanyikan dengan nada tinggi dan bahasa yang digunakan biasanya bahasa Jawa, tetapi kemudian ditafsirkan dalam bahasa Madura. Kesenian ini sudah hampir punah karena tidak ada regenerasi.
  12. 12.  Pencak Silat: Permainan pencak silat yang diiringi dengan kendang, kecrek, rebana dan bedug besar (Jidur: Bhs. Madura).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Hary Yusivadi. Budaya Pandalungan Multikulturalitas dan Hibridisasi Budaya Antaretnik dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 65 – 67

 

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesenian, Seni Budaya, Th. 2008 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s