Budaya Masyarakat Pandalungan


Masyarakat Pandalungan adalah masyarakat yang berada dalam posisi transisi dalam pola sosial budayanya. Masyarakat transisi adalah masyarakat yang memiliki kultur campuran antara dua budaya dominan yang ada. Etika sosial, seperti tata krama, sopan-santun, atau budi pekerti orang pandalungan berakar pada nilai-nilai yang diusung dari dua kebudayaan yang mewarnainya, yakni kebudayaan Jawa dan kebudayaan Madura. Mereka yang berada di wilayah dominan Madura cenderung memiliki karakteristik kultur transisi antara Jawa-Madura tetapi karena mereka tinggal di wilayah yang dominan Madura maka pengaruh adat-istiadat, budi pekerti kultur Madura relatif sangat kuat. Karakteristik tersebut tampak pada cara mereka berkomunikasi, yaitu menggunakan bahasa Jawa campur Madura, akan tetapi perbendaharaan bahasa dan logat Maduranya sangat tampak. Kondisi demikian, mau tidak mau membawa pengaruh terhadap sikap dan perilaku sopan-santun, tatakrama, dalam pergaulan sehari-hari.

Sebaliknya, mereka yang berada di wilayah dominan Jawa cenderung memiliki karakteristik kultur transisi Jawa-Madura, tetapi pengaruh kultur lingkungan yang dominan Jawa mengakibatkan adat-istiadat dan budi pekerti kultur Jawa relatif sangat kuat membentuk perilakunya. Hal demikian sangat tampak dalam cara mereka berkomunikasi , yaitu menggunakan bahasa Jawa campur Madura tetapi perbendaharaan bahasa dan logat Jawanya sangat kuat.

Satu hal yang tampaknya juga cukup menarik adalah kecenderungan masyarakat di pusat lingkaran konsentris tersebut untuk menggunakan bahasa Jawa, meskipun mereka berasal dari komunitas yang berbeda. Penggunaan bahasa Jawa yang sangat dominan ini, dapat ditandai oleh semakin mengaburnya Penggunaan bahasa asal komunitas untuk digantikan dengan Penggunaan bahasa Jawa meskipun dengan ragam bahasa yang asar. Meskipun masyarakat Madura secara kuantitatif lebih dominan, di wilayah pusat kota justru penggunaan bahasa Jawa lebih mendominasi pergaulan sehari-hari. Akan tetapi, kultur Madura yang ekspresif, terbuka, paternalistik, tidak banyak basa- basi, memiliki pengaruh yang sangat kuat pada sikap keseharian masyarakat pandalungan ini.

Dalam perilaku sehari-hari, masyarakat transisi atau orang pandalungan sangat akomodatif, toleran dan menghargai perbedaan. Jika merasa tidak senang, mereka akan segera mengungkapkannya. Sebaliknya, jika merasa senang, mereka pun akan segera mengatakannya. Di kawasan ini hampir tidak pernah terjadi konflik antarkelompok etnik. Konflik yang pernah dan mungkin terjadi, lebih disebabkan akar konflik berupa kecemburuan sosial yang bernuansa ekonomi, politik, pribumi dan nonpribumi, atau bernuansa keagamaan. Dalam perkembangan selanjutnya, budaya orang pandalungan sangat sarat dengan nuansa Islam. Hal itu terjadi karena di wilayah ini ulama dan kiai bukan hanya menjadi tokoh panutan, melainkan juga tokoh yang memiliki akar kuat pada beberapa kekuatan politik (Sutarto,2006).

1)          Berdasarkan uraian tersebut di atas, terdapat beberapa ciri umum masyarakat pandalungan, antara lain,

2)          Masyarakatnya cenderung bersifat terbuka dan mudah beradaptasi.

3)          Sebagian besar lebih bersifat ekspresif, cenderung keras, temperamental, transparan, dan tidak suka berbasa basi.

4)          Cenderung bersifat paternalistik, keputusan bertindaknya mengikuti keputusan yang diambil oleh para tokoh yang dijadikan panutan.

Menjunjung tinggi hubungan primer, memiliki ikatan kekerabatan yang relatif kuat, sehingga penyelesaian persoalan seringkali dilakukan secara beramai-ramai (kerojokan).Sebagian besar masih terkungkung oleh tradisi lisan tahap pertama {primary orality) yang memiliki ciri-ciri suka mengobrol, ngrasani (membicarakan aib orang lain), takut menyimpang dari pikiran dan pendapat yang berlaku umum (solidaritas mekanis). 6. Sebagian besar agraris tradisional, berada di pertengahan jalan antara masyarakat tradisonal dan masyarakat industri; tradisi dan mitos mengambil tempat yang dominan dalam kesehariannya (Sutarto, 2006).

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Hary Yusivadi, Budaya Pandalungan Multikulturalitas dan Hibridisasi Budaya Antaretnik dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm.63 – 65

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 2008 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s