Kebo-Keboan, Kabupaten Banyuwangi


Pada puncak acara Kebo-Keboan, masyarakat saling berebut bibit padi yang ditunggui kerbau jadi-jadian. Bibit padi  itu dianggap bisa sebagai sarana tolak bala maupun pembawa keburuntungan jika dibawa pulang.

kebo- keboan

Malam semakin larut di Desa Alas Malang, Kecamatan Singojuruh, Kabupaten Banyuwangi. Para ibu masih sibuk memasak kue dan menyiapkan perlengkapan sesaji di dapur. Berbagai jenis hewan ternak telah terlelap tidur di kandangnya masing-masing.

Di sisi lain, suara ramai namun damai terlihat di sepanjang jalan utama desa. Laki-laki tua-muda, anak-anak, dan perempuan ikut membantu menyiapkan dan memasang hiasan perlengkapan upacara yang terdiri dari pala gumantung (buah-buahan yarig bergantung, seperti pisang, jeruk, durian, dan mangga), pala kependhem (umbi-umbian dalam tanah, seperti ubi kayu, ketela, kacang tanah, kentang, talas, ganyong, jahe, dan lengkuas), dan pala ke- sampir (polong-polongan seperti kacang panjang, kecipir, kara, dan buncis). Kesemuanya ditata dan dihias rapi sebagai lambang kesuburan dan kesejahteraan.

Itulah gambaran suasana yang terlihat pada awal sebuah upacara ritual kesuburan yang dilakukan masyarakat Using di Desa Alas Malang, yang selalu digelar pada setiap Suro. Ritual Kebo-Keboan pada 2009 mendatangkan, Pemda Banyuwangi mengagendakan jatuh pada 11 Januari. Jika berminat melihat atau mengikuti ritual itu, usahakan datang pada malam menjelang upacara berlangsung. Sebab, pada saat itu juga banyak rangkaian acara yang menarik untuk diikuti.

Menurut para sesepuh Desa Alas Malang, upacara Kebo-Keboan bertujuan untuk mendapatkan kesela- matan, penyembuhan, kesuburan, dan pembersihan diri dari Tuhan Yang Maha Esa. Ternyata ritual ini tidak hanya menarik wisatawan domestik, tapi juga wisatawan manca negera, khususnya Eropa.

Bila upacara itu telah tiba, pemandangan di desa itu sungguh menakjubkan. Berbagai pernik ornamen hiasan sudah terpajang, umbul-umbul, killing (baling-baling kicir angin), paglak (dangau tinggi di tengah sawah) terlihat megah di hamparan sawah dengan latar belakang Pegunungan Raung, Ijen, dan Gunung Merapi. Semua warga desa sudah siap dengan kue tradisional serta sesaji untuk upacara ritual. Hampir semua orang tampak anggun dengan busana adatnya.

Prosesi upacara diawali dengan selamatan di tengah jalan utama desa. Semua panganan diletakkan di atas tikar, lembar-lembar daun, na­si tumpeng di atas ancak (tempat yang terbuat dari batang daun pisang dan bambu). Lengkap dengan lauk pauk dan sayur yang ditata dalam takir (tempat yang ter­buat dari daun pisang) serta masakan khas pecel pitik (ayam pang gang yang diurap kelapa) telah siap. Seluruh elemen kampung terlibat, dari orang dewasa hingga anak-anak. Doa dipimpin oleh seorang Kiai, kemudian nasi tumpeng dan kue dibagikan kepada para pengunjung dan warga setempat sebagai berkat. Tak hanya untuk keluarga terdekat, tiap-tiap warga juga menyiapkan kue-kue untuk para kerabat atau pengunjung yang datang dari jauh.

Setelah upacara selamatan selesai, selanjutnya acara Ider Bumi (prosesi mengelilingi kampung dari hilir hingga ke hulu kampung). Upa­cara bersama ini begitu unik dan menarik sekaligus memiliki dimensi dari masyarakat yang akar kepercayaan agraris dan spiritualnya masih kuat.

Acara ritual ini melibatkan seluruh elemen di kampung, mulai dari laki-laki, perempuan, tua-muda, dan anak-anak sampai sanak famili yang berada di luar kampung. Bahkan hampir seluruh kesenian adat yang ada di Banyuwangi juga terlibat. Ada gandrung, barong, janger, patrol, balaganjur, angklung paglak, jaranan, kuntulan, dan wayang kulit. Upacara ini tidak melulu seni pertunjukan terpadu tapi juga sebagai seni instalasi komunal yang memperlihatkan energi kualitas dan spiritual bersama.

Pada acara Ider Bumi, ritual Kebo-Keboan ini diawali dengan visualisasi Dewi Sri (Dewi Padi) yang ditandu oleh beberapa pengawal dengan pakaian khas. Puluhan laki-laki bertubuh kekar dengan dandanan dan bertingkah aneh seperti kerbau dihalau oleh para petani yang membawa hasil panennya. Suasana kian meriah karena diiringi alunan musik tradisional khas Using yang hinggar binggar.

Pada bagian akhir upacara adalah prosesi membajak sawah dan menanam bibit padi. Para kerbau manusia seperti kesurupan mengejar siapapun yang mengambil bibit padi yang ditanam. Masyarakat berebut, ikut berkelit untuk mendapatkan bibit padi itu karena dipercaya bisa digu- nakan sebagai tolak bala maupun keberuntungan. Kegiatan berakhir pada tengah hari. Para lelaki yang berseragam kerbau membersihkan diri di sungai-sungai yang airnya bersih. Para pengunjung pun pulang ke rumahnya masing-masing sambil membawa bibit padi yang akan digunakan sebagai tolak bala atau keber­untungan di tahun kerbau ini.

Sementara itu, pada sore hari dan malam hari, kesenian tradisional disajikan, termasuk pementasan wa­yang kulit semalam suntuk. Jadi bisa dibayangkan betapa meriahnya Desa Alas Malang pada perayaan Kebo-Keboan itu • RUD

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, 1-10 Januari 2009, hlm. 32-33

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Banyuwangi, Seni Budaya, Th. 2009 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s