Masyarakat Pandalungan, Pola Hibridisasi Budaya


Wilayah Jawa Timur bagian Timur (tapal kuda) adalah “tanah harapan” bagi para perantau Jawa maupun Madura. Bagi orang Jawa dari kawasan budaya Mataraman, wilayah ini menjadi tempat mencari rezeki alternatif yang tidak kalah suburnya dengan tempat asal mereka di wilayah dataran rendah. Sedangkan bagi orang Madura wilayah ini telah menjadi tumpuan kehidupan yang sangat menjanjikan dibandingkan tempat asalnya. Kesulitan sosial ekonomi dan kondisi geografis Pulau Madura yang pada masa-masa penjajahan sangat gersang, telah mendorong orang-orang Madura Pulau bermigrasi ke kawasan tapal kuda. Kepentingan sosial- ekonomi merupakan faktor dominan yang mewarnai peristiwa migrasi tersebut.

Mereka datang dengan kemauan sendiri atau direkrut oleh Pemerintah Kolonial Belanda untuk dipekerjakan sebagai buruh perkebunan. Orang orang Madura dikenal sebagai pekerja keras, tekun, dan ulet sehingga menarik perhatian Pemerintah Kolonial Belanda (Sutjipto, 1983:302-339). Mengalirnya kedua suku dominan di wilayah ini dengan latar belakang status sosial yang sangat beragam telah melahirkan tipe kebudayaan orang pandalungan yang agraris-egaliter.

Bertemunya berbagai suku bangsa menjadi penduduk wilayah ini menyebabkan munculnya sebuah budaya yang relatif unik. Tradisi dan identitas masing-masing suku berhubungan secara dialektis. Setiap kultur membawa dan berusaha mempertahankan tradisinya masing-masing, demikian pula dengan masyarakat Madura dan masyarakat Jawa yang sangat dominan. Untuk melestarikan kultur yang mereka miliki, biasanya masing-masing komunitas berusaha mensosialisasikan kultur tersebut kepada komunitasnya. Melalui proses sosialisasi akan terjadi proses internalisasi nilai-nilai kehidupan sosial budaya masing-masing masyarakat, baik komunitas Jawa maupun komunitas Madura.

Proses sosialisasi tradisi pada masing-masing suku bangsa di wilayah melting pot sangat dipengaruhi oleh pilihan strategi yang tepat, meskipun apa yang mereka lakukan itu tanpa mereka sadari sebagai sebuah strategi. Pertimbangannya adalah dalam proses sosialisasi tersebut secara tidak langsung akan terjadi persinggungan antarkomunitas sehingga pilihan strategi tertentu memungkinkan terjadinya pandangan oleh anggota masyarakat sebagai suatu intrusi kultural yang akan mendisonansi struktur kognitifnya yang telah mapan. Apabila hal ini terjadi, maka dapat mendorong mereka berupaya mempertahankan kemapanan struktur kognitifnya. Upaya mempertahankan kemapanan struktur kognitif bukannya tanpa risiko, karena mereka pun mengetahui konsekuensi dari selective incentives (istilah Lichbach,1995) pilihan tindakan reaksi akumulatif yang dipilihnya dalam kehidupan kultural yang berubah.

Dalam proses interaksi kultural, baik masyarakat Jawa maupun masyarakat Madura secara tidak langsung menyadari bahwa cepat atau lambat mereka akan mengalami proses perubahan. Namun demikian, mereka akan merasa memperoleh kepuasan dengan mengembangkan konsepsi pemikiran dengan cara bertahan pada ideologi tradisionalnya masing-masing. Artinya, dalam proses intrusi kultural dari keduabelah pihak terjadi upaya saling bertahan. Pada momentum seperti ini memungkinkan timbulnya resistensi sosial akibat dipicu oleh pilihan tindakan untuk mempertahankan struktur kognitif yang mengalami disonansi mekanisme perubahan kultural yang menyentuh kehidupan sehari-hari suatu masyarakat. Dengan terjadinya proses sosialisasi pada masing-masing komunitas tersebut, yang terjadi adalah kecenderungan memperkokoh konstruksi identitas kultural pada lokalitasnya masing-masing.

Pada masyarakat Madura yang cenderung memiliki kekerabatan yang kuat, untuk mempertahankan identitas kulturnya mereka cenderung mempertahankan pola tinggal berkelompok, dalam pola tanejan /anjangmeskipun tidak sempurna. Dengan pola tinggal semacam itu, mereka berharap mampu bertahan dari berbagai hal, termasuk keamanan lingkungannya. Hal seperti ini masih tampak di daerah-daerah pedesaan pinggiran kota. Sebagaimana generasi pendahulu mereka yang datang ke wilayah sebagai pekerja, maka mereka pada umumnya merupakan pekerja keras. “Hidup itu harus bekerja, memahami cara kerja, dan menghargai kerja orang”.

Demikian pula sebaliknya, pada masyarakat Jawa, juga cenderung masih mempertahankan kultur Jawa dengan memegang teguh harmoni, yaitu kondisi hidup yang serasi dan selaras dalam hubungan interaksinya. Masyarakat harus hidup “rukun”, untuk mencapai ketenteraman dan kedamaian satu sama lain. Harmoni juga berarti harus bisa mengatasi perbedaan-perbedaan, bisa bekerjasama dan saling menerima untuk mencapai tujuan hidup.

Di mata orang Jawa, menjadi “Jawa” berarti harus menjadi manusia yang beradab, memahami bagaimana seharusnya bertingkah laku yang baik. Hidup yang benar adalah hidup sebagai orang Jawa, memperlihatkan tingkah laku yang halus, sopan, sabar, berkata- kata yang pantas dan mempertahankan tatanan yang teratur.

Di samping itu, kedua kelompok masyarakat yang dominan tersebut saling berinteraksi, berkomunikasi dan membangun sistemnya sendiri. Hal yang sangat penting di sini adalah bahwa dalam proses interaksi itu terjadi proses dialogis makna, pesan- pesan yang dipertentangkan, dipadukan, atau saling dipertukarkan posisinya, antara subjek dan objek komunikasi secara timbal balik. Friedman (1995:70) menamakan proses seperti ini sebagai suatu bentuk “atribusi makna-makna”, dan Pieterse (1995:46) menyebutnya dengan istilah “hibridisasi”. Secara umum hal yang demikian itu dapat pula dikategorikan sebagai saling tular- menularkan nilai dan pandangan hidup.

Dalam proses sosialisasi masing-masing kultur terjadi perbenturan antara dua kultur secara tidak langsung. Proses saling mempengaruhi tersebut tidak berhadapan dengan “wilayah kosong”. Artinya, interaksi dua masyarakat dominan di Provinsi Jawa Timur (Jawa dan Madura) berlangsung antara dua pihak yang sudah memiliki identitas kultural dan tradisi sendiri-sendiri. Penduduk di wilayah Jawa Timur bagian Timur ini, yang masing masing membawa identitas kultur dari daerahnya, pada akhirnya membangun mekanisme untuk saling menonjolkan kultur spesifiknya. Latar belakang kesamaan nasib sebagai perantau dan pendatang baru, tampaknya menghasilkan suatu bentuk “kompromi budaya”yang harmonis (budayapandalungan) yang dikenal dengan proses “hibridisasi budaya”.

Masing-masing etnik yang mendiami wilayah ini tampaknya tidak berusaha untuk saling mempertahankan identitas partikularistik tradisionalnya. Baik orang Jawa maupun orang Madura saling membuka diri terhadap budaya yang dibawa oleh masyarakat lainnya. Perkembangan kultural di wilayah ini pada tahap selanjutnya justru mengembangkan praktik amalgamasi budaya, terutama sentuhan-sentuhan dari budaya dominan. Sehingga situasi kehidupan budaya mengarah pada bentuk multikulturalitas fluid dalam bentuk interkulturalitas (Pieterse, 1995:46). Artinya, baik orang Madura maupun orang Jawa mau menerima budaya masing-masing pihak dengan damai.

Baik masyarakat Jawa maupun masyarakat Madura saling dapat menggunakan budaya masing-masing pihak. Meskipun demikian, bukan berarti tidak ada kultur etnik yang mengalami marginalisasi. Proses “marginalisasi” dengan sendirinya terjadi pada kultur etnik yang relatif kecil sumbangannya kepada komunitas masyarakat baru tersebut. Amalgamasi budaya secara tidak langsung didominasi oleh dua etnik besar yang menguasai wilayah ini. Dalam proses yang demikian itu terjadi pula “invensi” maupun “modifikasi” kultur yang melahirkan identitas kultur baru. Identitas kultur baru yang dianggap berbeda dengan kultur yang membentuknya tersebut sering dikenal dengan istilah lokal sebagai pandalungan.

Identitas kultur baru yang dikonstruksi kedua masyarakat dominan ini tidak lagi terkungkung pada budaya etnik tertentu, tetapi sangat dipengaruhi oleh besarnya komunitas yang dominan di suatu wilayah sosialisasi budaya. Masyarakat Madura yang sebagian besar berbudaya santri, keras, ekspresif, dan bersifat paternalistik, berhasil mewarnai perilaku masyarakat di wilayah pandalungan ini. Demikian pula sebaliknya masyarakat Jawa, meskipun jumlahnya relatif lebih sedikit dibanding dengan masyarakat Madura, berhasil mewarnai budaya komunikasi. Identitas kultur khas pandalungan ini merupakan kompromi dua kultur dominan yang telah bertahun-tahun membangun suatu bentuk per campuran yang bercitra multikultur. Secara skematis proses terbentuknya budaya pandalungan dapat digambarkan sebagai berikut.

Pendalungan0001

Pembentukan budaya pandalungan juga dapat digambarkan dengan pola lingkaran konsentris, yang terdiri dari pusat kota dengan lingkaran kantong-kantong budaya yang melingkupinya. Pusat kota sebagai meltingpot menjadi pusat pertemuan dua budaya dominan dan menjadi pusat lingkaran konsentris. Kutub positif berada di pusat kota dan kutub negatif berada di pinggiran.

Pendalungan0002

Jika pola tinggal masyarakat dominan berdasarkan kantong- kantong budaya yang melingkari pusat kota, maka maka degradasi perubahan kultural disinyalir juga mengikuti sifat lingkaran konsentris dari pola konsentrasi etnik tersebut. Artinya semakin menjauh dari pusat kota semakin tampak memudarnya budaya khas tersebut dengan mengikuti pola budaya dominan. Identitas budaya pandalungan tersebut secara degradatif menjadi semakin memudar kekhasannya di wilayah pinggiran-kota.

Secara objektif rincian empat kategori masyarakat pandalungan tersebut yaitu: masyarakat Madura, masyarakat Transisi Madura, masyarakat Transisi Jawa, dan masyarakat Jawa. Masyarakat Madura adalah masyarakat yang memiliki latar belakang kultur Madura, dan sampai sekarang sebagian besar masih mempertahankan tradisi leluhurnya dalam kehidupan sehari-hari. Masyarakat Jawa, adalah penduduk yang memiliki latar belakang kultur Jawa dan sampai sekarang masih mempertahankan tradisi leluhurnya dalam kehidupan sehari-hari.

Dengan mengikuti pemilahan tersebut di atas, maka gambaran geografis lokalitas kultural dapat diuraikan sebagai berikut. Masyarakat transisi Madura, mendiami wilayah pusat kota yang didominasi keturunan Madura, semakin ke pinggiran – semakin jauh dari lingkaran konsentris – tampak semakin pudar budaya khas tersebut dan cenderung bergeser menjadi budaya Madura. Hal ini terjadi jika wilayah pedesaaan pinggiran kota tersebut dihuni oleh orang-orang Madura. Masyarakat transisi Jawa, mendiami wilayah pusatkotayang didominasi keturunan Jawa, semakin ke pinggiran (semakin jauh dari pusat kota), tampak semakin pudar budaya khas tersebut, dan cenderung bergeser menjadi dominan Jawa. Hal ini terjadi jika wilayah pedesaan pinggiran kota tersebut banyak dihuni orang-orang Jawa.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Hary Yusivadi, Budaya Pandalungan Multikulturalitas dan Hibridisasi Budaya Antaretnik dalam Pemetaan Kebudayaan di Provinsi Jawa Timur: Sebuah Upaya Pencarian Nilai-nilai Positif. Jember : Biro Mental Spiritual Pemerintah Provinsi JawaTimur bekerjasama dengan Kompyawisda Jatim, 2008, hlm. 56 – 62

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Seni Budaya, Th. 2008 dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s