Pertumpahan Darah di Majapahit


Darah dan Dendam dalam Pergulatan Meraih Tahta,

Putera-putera terbaik Majapahit gugur satu persatu akibat ulah licik salah seorang pejabat keagaaman Keraton Majapahit. Kerajaan Majapahit yang masih berusia muda pun berjalan dengan tertatih-tatih Peperangan besar baru saja usai. Darah merah membanjiri lapangan luas di sepanjang Sungai Tambak Beras di perbatasan selatan Kadipaten Tuban.

Tubuh- tubuh bergelimpangan tak bernyawa. Erangan beberapa parjurit yang terluka parah masih belum surut. Di kejauhan, umbul-umbul berwarna gula kelapa, bendera khas Keraton Majapahit berkibar-kibar seperti tengah mengabarkan kemenangan pada peperangan yang baru usai itu. Itulah peristiwa pada awal tahun 1295, saat terjadi pemberontakan bersenjata yang dipimpin Adipati Tu­ban Rangga Lawe.

Adipati Tuban itu tewas dalam perang tandingdengan senapati Ma­japahit, Kebo Anabrang, di dalam Sungai Tambak Beras yang cukup deras airnya. Rangga Lawe yang sangat sakti, ternyata menjadi lemah saat adu kanuragan di dalam air.

Sementara lawannya, mantan prajurit pilihan Keraton Singasari yang sempat bertugas dalam ekspedisi Pamalayu pada zaman Prabu Kertanegara di Singasari, adalah jagoan dalam air. Anabrang sendiri nampaknya sangat paham, meng- hadapi Rangga Lawe yang digdaya di darat adalah dengan menggiringnya berkelahi di dalam air.

Rangga Lawe memang terbukti bisa dikalahkan Kebo Anabrang melalui serangkaian pertarungan sengit di dalam air. Namun, Kebo Anabrang akhirnya juga harus tewas dalam perkelahian yang sejatinya sangat seimbang itu. Ia ditikam keris oleh salah seorang punggawa Majapahit, saat lengah karena didera kekalahan yang luar biasa. Ironisnya, punggawa yang menikamnya adalah Lembu Sora, yang masih terhitung merupakan paman dari Rangga Lawe, dan juga merupakan pejabat tinggi di lingkungan Keraton Majapahit.

Banyak pertanyaan yang mengemuka, kenapa Rangga Lawe yang se­jatinya sebagai pendiri Majapahit malah melakukan pemberontakan terhadap kerajaan yang didirikannya itu? Ternyata, pemicunya adalah pengangkatan Nambi sebagai patih amangkubumi oleh Prabu Kertajasa Jayawardhana.

Sebenarnya, Rangga Lawe tak mempersoalkan pengangkatan tersebut. Karena, menurutnya, Nambi adalah teman seperjuangan, karena bersama Nambi, dirinya mengawali membuka Hutan Tarik menjadi daerah terbuka dan menjadi cikal bakal Kerajaan Majapahit. Ber­sama Nambi pula, bahu membahu memerangi tentara Tartar utusan Kaisar Kubilai Khan dari Cina.

Dan juga, nambi adalah saudara sepupunya, karena ayahnya – Adipati Sumenep Arya Wiraraja – bersaudara dengan ayah Nambi yang bernama Arya Pranaraja atau Mpu Sina. Yang menjadi biang keladi dari semua permasalahan hingga mengakibatkan perang besar itu adalah Mahapati. Mahapati ini pula yang kemudian memicu pertumpahan darah di zaman Prabu Kertarajasa hingga zaman Prabu Jayanegara.

Sebagai pejabat keagamaan Hin­du Syiwa, Mahapati sangatlah dekat dengan Prabu Kertarajasa. Ia ternya­ta punya ambisi tersembunyi sangat ingin diangkat menjadi patih amang­kubumi. Ambisinya yang besar ini mendasari sikapnya yang menghalalkan segala cara untuk mencapainya. Mahapati memakai taktik adu domba di kalangan orang-orang sekitar raja yang berpeluang menjadi patih amangkubumi. Strategi adu domba itu mulai dijalankan ketika raja mengangkat Nambi sebagai patih.

Mahapati tahu jika Rangga Lawe sangatlah kecewa, sebab dalam beberapa kali pasewakan agung. Lawe tidak datang. Ma­hapati kemudian memprovokasi Rangga Lawe. Ditekankannya, bahwa pengangkatan Nambi adalah bentuk ketidaksukaan Sang Prabu kepada dirinya.

Sebaliknya, kepada Sang Prabu, Mahapati melaporkan bahwa Rangga Lawe yang mulai jarang mengikuti pasewakan agung merupakan tanda-tanda jika Adipati Tuban itu mbalela. Kesalahpahaman pun akhirnya memuncak menjadi perlawanan bersenjata. Memang, pemberontakan itu akhirnya bisa ditumpas. Rangga La­we dan Kebo Anabrang juga banyak sekali prajurit mati sia-sia akibat hasutan busuk Mahapati.

Satu pesaing telah hilang. Ma­hapati masih tetap berniat untuk menjatuhkan Nambi. Namun dalam benaknya, bila dia berhasil menyingkirkan Nambi, bukan dirinya yang akan diangkat menjadi patih. Tapi calon lain yang dianggap lebih kuat, bila patih Nambi tersingkir, hanyalah Lembu Sora, yang masih terhitung paman dari Rangga Lawe.

Mahapati kemudian menjalankan politik adu domba, antara pihak-pihak yang memungkinkan bertikai. Antara lain, Kebo Taruna anak Kebo Anabrang yang dihasut untuk membalas dendam, Patih Nambi sendiri, dan terakhir Sang Parbu.

Kepada keempat pihak itu, Ma­hapati memberi info yang berbeda- beda. Kepada Lembu Sora ia mem- bisik agar berhati-hati terhadap Kebo Taruna, yang berniat membalas ke- matian ayahnya. Taruna meminta bantuan kepada Patih Nambi yang masih terhitung pamannya juga.

Kepada Patih Nambi sendiri, Ma­hapati mengatakan, bahwa Prabu Kertarajasa sudah tidak menyukai lagi Lembu Sora dan akan mencopot jabatannya untuk segera diisi oleh Kebo Taruna. Dilaporkan juga, bahwa Taruna bermaksud untuk menghabisi nyawa Sora Akhirnya, akibat politik adu doma, Lembu Sora yang mencoba menghadap raja, dikeroyok oleh para prajurit Majapahit atas perintah Nambi.

Ber­sama Juru Demung dan Gajah Biru, Sora gugur dalam perkelahian tersebut. Pesaing utama ke kursi kepatihan tinggal Patih Nambi sendiri. Namun sampai Sang Prabu Kerta­rajasa mangkat pada tahun 1309, ambisi Maha­pati belum berhasil diwujudkan. Tampuk pemerintahan lantas digantikan oleh Raden Kalagemet yang bergelar Prabu Jayanegara dan menjadi patih amangkubumi masih Nambi.

Keinginan Mahapati untuk menjadi pa­tih, setelah terkubur selama 14 tahun, ternyata belum juga mereda. Mahapati mulai mendekati Nambi. Dengan bisikan ja- hatnya, Mahapati berkata bahwa Pra- bu Jayangera sebenarnya tidak menyukainya. Waktu penantian Mahapati akhirnya tiba. Kabar bahwa ayah Nambi, Arya Pranaraja, yang berkedudukan di Lumajang sedang sakit keras, dijadikan peluang Mahapati untuk meng- habisi Nambi.

Pranaraja meninggal, sebelum Nambi tiba di Lumajang. Atas saran Mahapati pula, yang ketika itu ikut melayat’ke Lumajang, Nambi diminta memperpanjang cutinya. Patih amangkubumi yang tak sadar akan kelicikan Mahapati, mengiyakan. Bahkan meminta tolong agar Ma­hapati menyampaikan sendiri ke Prabu Jayanegara.

Kepada Sang Prabu, Mahapati mengatakan lain. Ketidakmunculan Nambi melewati batas waktu cuti yang diizinkan, adalah bukti keengganannya kembali ke Majapahit, bahkan berniat memberontak kepa­da pemerintahan Prabu Jayanegara.

Dalam laporannya, Mahapati juga menga­takan bahwa Nambi tekah melatih orang- orang di Lumajang un­tukmemberontak, bahkan mendirikan benteng-benteng per- tahanan yang kuat.

Raja termakan omongan provokatif Sang Mahapati. De­ngan mengirim ribuan tentara, yang dipimpin sendiri oleh Mahapati, Lumajang digilas. Nambi dibunuh beserta seluruh pengikut-pengikut setianya. Peristiwa penghancuran Luma­jang itu terjadi tahun 1316.

Ambisi Mahapati akhirnya terwujud. Terlaksana dengan penuh kelici­kan dan pengkhianatan. Mengorbankan kawan dan menghabisi orang yang menganggapnya saudara. Ma­hapati menjadi patih amangkubumi sejak 1316 – 1323 Masehi, dengan gelar Rakai Dyah Halayudha #c 

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur: LIBERTY, 52, Januari 2009, hlm.62-63

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Th. 2009 dan tag , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s