Pusara Raja, Blitar


Pusara Raja itu, Melahirkan Banyak Naga

Makam Raja0001Selain Bung Karno, Blitar juga menjadi pusara beberapa raja besar. Di antaranya Anusapati, Ranggawuni atau Wisnuwardhana, dan Raden Wijaya atau Kertarajasa Jayawardhana. Inikah sebabnya, banyak tokoh lahir dari kota ini?

Sejahrawan tersohor Romo DR FX Baskara T Wardaya Sj menyatakan keheran- nya, dengan banyaknya orarrg Blitar yang menjadi tokoh. Keheranan tersebut disampaikan di kompleks Perpustakaan Bung Karno, di sela-sela acara bedah buku karyanya: “Mencari Soeprijadi”.

“Mengapa ya orang Blitar pandai- pandai, dan bisa ngangkat jadi pahlawan?” demikian Baskara mempertanyakan keheranannya kepada seja-rahwan dari Blitar Heritage Society, Endah Iriani Spd Mpd. Endah pun segera menjelaskan, bahwa yang “diminum” orang Blitar itu rumeseping ratu semua.

“Lha makam ratu itu ada di Blitar semua. Mulai dari Anusapi, Rangga­wuni, Raden Wijaya dan terakhir Bung Karno. Jangan heran kalau nanti Satrio Piningit itu muncul dari Blitar. Sebab, yang diminum orang Blitar itu tidak sama dengan yang lainnya,” demikian Endah Iriani menguraikan jawabannya.

Aspek geografis Blitar pun, menurut Endah Iriani sangat mendukung. Di bagian selatan Blitar merupakan pegunungan kapur yang kaya sekali akan mineral. Kemudian di bagian utara Blitar, terda- pat gunung berapi aktif Kelud. Blitar pun dibelah Sungai Brantas yang berbentuk gelang, yang juga sangat kaya akan sumber mineral.

Tetapi, potensi Blitar sebenarnya bukan hanya itu saja. Sejak zaman dulu, Blitar ini selalu menjadi perhatian raja karena memiliki aspek spiritual yang sangat dahsyat. “Inilah sebab­nya, banyak raja mendirikan bangunan suci (candi) di berbagai tempat di Blitar,” ungkap Endah Iriani. “Candi tersebut, ada yang berfunsi sebagai tempat pemujaan, tetapi ada pula yang berfungsi sebagai makam raja,” imbuhnya.

CANDI SIMPING

Makam Raja0003Candi sebagai makam raja yang terkenal adalah Candi Simping. Candi ini terletak di kawasan Blitar Selatan. Tepatnya, di Kelurahan Sumberjadi, Kecamatan Kademangan. Dalam Nagarakertagama    disebutkan,

Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya (1293-1309) yang meninggal pada tahun 1309 M ‘didharmakan’ atau dimakamkan di candi ini dengan sifat Siwaitis dan di Antapura dengan sifat Budhistis.

Pada tahun 1361 M, Raja Hayam Wuruk (1350-1389) mengunjungi makam leluhurnya itu. Dalam Nagarakretagama disebutkan, menara candi itu miring sehingga sang baginda memerintahkan untuk menegakkannya kembali. Hayam Wuruk kembali berkunjung ke Simping pada tahun 1363 M untuk memindahkan candi makam Kertarajasa.

Sebelum mengunjungi Candi Sim­ping, pada tahun 1361 M Raja Hayam Wuruk juga mengunjungi beberapa tempat suci di Blitar. Di antaranya Candi Palah (sekarang. orang menye- butnya Candi Penataran). Bangunan suci yang berfunsi sebagai tempat pemujaan ini terletak di lereng barat daya Gunung Kelud, tepatnya di Desa Penataran, Kecamatan Nglegok.

Bernet Kempers menyatakan, Candi Penataran mencakup masa 250 tahun, dari tahun 1197 (masa Kerajaan Kadiri) hingga 1454 Masehi. Gugusan candi ini ditujukan untuk memuja Dewa Siwa sebagai Dewa Gunung.

Selain berziarah, Hayam Wuruk mengunjungi tempat ini dalam upaya menguatkan legitimasinya. Ia juga bersembah bakti ke hadapan Hyang Acalapati, memohon keselamatan semua makhluk dari bencana letusan Gunung Kelud.

CANDI SAWENTAR

Makam Raja0002Bangunan suci yang diduga seba­gai maka» raja lainnya adalah Candi Lwangwentar. Candi ini terletak di Desa Sawentar, Kecamatan Kanigoro. Masyarakat setempat dan sekitaranya lebih akran dengan sebutan Candi Tawang Sawentar atau Candi Sawentar. Raja Hayam Wuruk disebut- sebut dalam Negarakertagama pernah bersemedi di candi ini.

Bentuk bangunan Candi Sawentar nyaris sama dengan Candi Kidal yang terletak di Rejokidal, Kecamatan Tumpang, Malang, Jatim. Candi ini dibangun pada masa Singosari sebagai bentuk pernghormatan atas jasa-jasa besar Anusapati, raja ke 2 Singosari (1227-1248).

Menurut Pararaton, Anusapati dicandikan di Kidal. Tetapi sebuah penelitian menyebutkan, besar kemungkinan makam Anusapati ada di dua tempat. Selain di Kidal, juga di Candi Sawentar.

Lazimnya, raja-raja besar dima- kamkan atau dicandikan di lebih dari satu tempat. Seperti halnya Kerta­rajasa Jayawardhana, selain dican­dikan di Simping juga di Antahpura. Atau candi makam Narasinghamurti, selain di Kumitir juga di Redi Kuncir. Begitu juga dengan makam Wisnu- wardhana atau Ranggawuni, selain di Candi Mleri juga di Candi Jajagu atau Candi Jago.

CANDI MLERI

Makam Raja0004Candi makam lainnya di Blitar terdapat di Desa Begelen, Kecamatan Srengat. Namanya Candi Wleri atau Mleri. Tetapi banyak pula yang menyebut Kekunoan Mleri. Warga setempat yang mengeramatkan kompleks tersebut malah menyebutnya punden Ki Ageng Mleri.

Candi Mleri terdapat di kaki Gunung Pegat. Candi ini tidak jauh dari Candi Pertapan yang terletak di puncak Gunung Pegat. Jika Candi Pertapan sebagai tempat pemujaan yang diban­gun oleh Raja Kertajaya dari Kediri, maka bangunan Candi Mleri dibangun semenjak zaman Kediri mulai Raja Kameswara sampai zaman Singosari akhir atau Majapahit awal.

Sementara dugaan menyebutkan, selain sebagai tempat pemujaan, funsi Candi Mleri juga berfungsi sebagai makam Raja Wisnuwardhana atau Ranggawuni.

Di dalam bangunan cungkup di kompleks Kekunoan Mleri ini memang terdapat dua buah bangunan yang tersusun dari batu-batu candi. Susunan

batu-batu candi itu membentuk ma­kam. Juru kunci setempat, Jaenab (60) menyebutnya sebagai makam Rangga­wuni atau Wisnuwardhana dan istrinya. “Memang tidak ada penjelasan yang pasti, yang satu itu makam permaisuri atau selir Ranggawuni,” jelasnya.

NAGA

Maka, Blitar pun bak “Kota Pusara” yang menyimpan banyak “Naga”. Pendapat ini dikemukakan oleh Nurhadi Rangkuti, seorang peneliti di Balai Arkeologi Yogyakarta. Menurutnya, naga merupakan makhluk mitologi. Keberadaannya hampir selalu dikait- kaitkan dengan penciptaan alam semesta, dan legitimasi kekuasaan politik penguasa.

Sejarah pun meneguhkan, Blitar sejak zaman Majapahit menjadi tem­pat “ziarah” penguasa di pusat. Mereka ziarah ke tempat-tempat naga, untuk tujuan keagamaan dan politik. Dalam kenyataannya, Blitar tidak hanya tem­pat “bersembunyi” para naga-naga kuno. Tetapi juga melahirkan naga-naga zaman modern dengan makna baru. Sebut saja Bung Karno, yang bisa diju- luki “naga dunia” karena kiprah dan kepiawaian politiknya diakui dunia.

Presiden SBY pun tidak lepas dari pengaruh “alam” Blitar. Restu ibundanya yang bermukim di Blitar, membuatnya menjadi “naga Indonesia”. Akankah Prof Dr Boediono yang digandeng calon incumbent SBY sebagai cawapresnya dalam Pilpres 2009 kelak juga akan menjadi “naga”? • emte

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  LIBERTY,  1 – 10 Juni 2009. hlm.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Beranda, Blitar, Legenda, Sejarah, Th. 2009 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Pusara Raja, Blitar

  1. hari basuki berkata:

    Asssalamu’alaikum WR. WB. Blitar memang tempat Naga sejati seperti Bung Karno yang mendunia. Naga naga siluman lebih banyak dengan menjual warisan leluhurnya UUD 1945 adalah warisan utama sudah acak adut terutama pasal 33 sebagai penopang kehidupan untuk seluruh rakyat Indonesia tetapi diacak-acak oleh naga-naga siluman melalui suap menyuap agar jadi legitimasi hukum. Semua pertambangan diberikan ke orang asing. Hutan digunduli untuk menambang tambang batu bara dengan sistem dibuka akibatnya jadi blangsat lihat saja Kalimantan akan banjir bagaikan lautan. Ingatlah lagu Mas Gomloh, Ebiet, Iwan Fals dan lain-lain mengkritik perilaku naga-naga siluman. Tambang mestinya diterowong untuk menjaga kestabilan alam. Pegunungan jadi lembah karena ditambang secara terbuka sampai habis lihat di Irian Jaya/Papua masih banyak lainnya. Banyak yang dengan dalih demokrasi tetapi semestinya tidak ikut-ikutan beda dengan USA disana warganya banyak imigran wawasan berbeda itu sudah wajar. bukan ikut-ikutan Kita pernah menjdi RIS dan gagal masak sekarang kembali ke RIS dengan versi multi partai. Ayo kembali ke UUD 1945 dan bubarkan Pilkada hanya menumpuk hutang nasional. Banyak Mudlorotnya dari pada manfaatnya. Pemimpin bisa didapat dengan fit dan proper tes layak atau tidak akan nampak. Partai kembalikan ke tiga parrtai saja. Biar hemat keuangan negara. Negara-negara maju hanya dua tiga partai mengapa kita jadi multi partai. Ingat setiap partai punya visi dan misi berbeda. Maka itu sama saja kita menuju devide et impera. Padahal, Devide et Impera adalah musuh bersama yang mengoyang NKRI dan Sumpah Pemuda maka akan mencabik-cabik Bineka Tunggal Ika. Karena rakyat akan gampang dikotak-kotakan. Kesimpulan ayo cari Naga Sejati yang cinta Ibu Pertiwi berjuang untuk negeri bukan kantong pribadi. Ing Ngarso Sung Tulodo Ing Madya Mbangun Karsa Tut Wuri Hadayani bukan Ing Ngarso Ngusung Bondo Ing Madya Grogoti Konco Tut Wuri Angadahi. Selamat Berjuang Berjihad untuk Agama Untuk Negara dan untuk Keluarga. Wassalam. WR.WB. Hari Basuki.

  2. gagak lumayung 32 berkata:

    Harebat nya orang jawa ih mantap lah

  3. sisi berkata:

    Blitar Juga hebat punya Boediono dan Anas urbaningrum.
    Duh ibu…. sejak kapan ada orang hebat muncul dari blitar ?Sukarno di angkat NWO, di angkat paus. Ya Tuhan…ibu jilbaban tapi kok gak ngerti jg yah yg ginian.
    Selama saya temui, orang blitar malah kaya gini nih :
    1. Lamban berpikir lamban bertindak 2. Munafik 3. Suka berdusta 4. Tidak amanah 5…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s