Sartono, Madiun


SARTONO29 Mei , Sartono lahir di Madiun, Jawa Timur, Indonesia.  Pemenang lomba cipta lagu hymne guru. Sartono tinggal rumah sederhana di Jalan Halmahera 98, Madiun.

Sartono, Putra sulung dari lima bersaudara, adiknya, Sartini, Sartinah, Sarwono dan Sarsanti,  sebenarnya dari keluarga cukup berada. Ayahnya R. Soepadi adalah Camat Lorog, Pacitan. Sehingga Sartono kecil bisa bersuka-suka bermain musik, Sartono belajar musik secara otodidak. Namun ketika ia berusia 7 tahun, Jepang menduduki Indonesia. Ayahnya pun tak lagi menjabat camat. Sartono, bersama empat tak bisa mengenyam pendidikan tinggi.

Sartono sempat bersekolah di SMA Negeri 3 Surabaya, waktu itu berada di Jl. Genteng kali 33 Surabaya.Namun tidak lanjut hanya kelas dua.

Sartono bekerja di Lokananta perusahaan rekaman dan produsen piringan hitam. “Saya Lupa tahun berapa itu, tapi saya hanya bekerja selama dua tahun saja,” kata Sartono, yang mengaku sudah susah mengingat tahun.

Sartono bergabung dengan grup musik keroncong milik TNI AU di Madiun. Ia bersama kelompok musik tentara itu pernah penghibur tentara di Irian selama tiga bulan.

Tahu 1971, Sartono menikah dengan Damiyati, BA, seorang guru PNS. Dari pernikahan mereka belum jua dikaruniai anak. Sehingga mereka mengasuh dua orang keponakan. Damiyati yang juga guru, juga seniman biasa manggung bersama Ketoprak Siswo Budoyo Tulungagung, di masa mudanya.

Tahun 1978, berbekal bakatnya di bidang musik serta sertifikat pengalaman kerja di Lokananta, perusahan pembuat piringan hitam di Solo, Jawa Tengah. Sartono yang beragama Islam mengajar musik di SMP Purna Karya Bhakti Madiun, yang belakangan lebih dikenal sebagai SMP Kristen Santo Bernadus sebagai guru honorer.

Tahun 1980, Sartono membaca koran, mengenai sayembara penciptaan lagu himne guru yang diselenggarakan Depdiknas. Hadiahnya besar untuk saat itu, Rp 750.000. Dan waktu yang tersisa dua pekan untuk merampungkan lagu.

075632_544622_Bok_Himne - CopySartono, meski tak bisa membaca not balok, ia memulai kerja keras mengarang lagu, mencermati betul setiap bait dan nada. Pada hari pertama Hari Raya Idul Fitri, Sartono tidak keluar rumah. Waktu dimanfaatkan untuk membuat lagu dan syair secara serius. Ia merasa begitu lancar membuat lagu dan menulis syairnya.

Sartono berkali- kali mengkajinya ulang, untuk mengetahui mana yang harus dibuang. Karena awalnya lirik yang ia ciptakan kepanjangan. padahal, durasi lagu tak lebih dari empat menit. “Hingga muncullah istilah “pahlawan tanpa tanda jasa. Guru itu pahlawan, namu selepas mereka berbakti tak satu pun ada tanda jasa menempel pada mereka, seperti yang ada pada polisi atau tentara. Sartono menjual jas untuk biaya pengiriman via pos. Sartono menang. “Hadiahnya berupa cek. Sesampainya di Madiun saya tukarkan dengan sepeda motor di salah satu dealer.

Tahun 2000, Sartono mendapat Piagam diberikan Menteri Pendidikan Nasional Yahya Muhaimin.

Tahun 2002,  Sartono sudah tidak mengajar lagi, Namun ia tak punya gaji pensiunan, karena statusnya bukan guru Pegawai Negeri Sipil (PNS), sampai akhir pengabdiannya

Tahun 2005, Sartono mendapat piagam dari Menteri Pendidikan Nasional Bambang Soedibyo, plus bantuan uang. sebesar enam ratus ribu rupiah. Di tahun yang sama juga mendapat piagam dari Gubernur Jawa Timur Imam Utomo, serta bantuan uang sebesar Rp 600.000, plus sebuah keyboard.

Tahun 2006 lalu, giliran Walikota Madiun yang dalam sepanjang sejarah baru kali ini memberikan perhatian kepadanya. “Pak Walikota menghadiahi saya sepeda motor Garuda,” kata Sartono seraya menunjuk sepeda motor pemberian Walikota Madiun.

Lagunya melambung, Sartono tidak. Sang pencipta tetap saja menggeluti dunia mengajar sebagai guru honorer hingga “pensiun.” Kalaulah ada penghargaan selain hadiah mencipta lagu, “cuma” beberapa lembar piagam ucapan terimakasih.

Sartono tetap bangga, meski minim perhatian, lagunya menjadi himne para guru. Pekerjaan yang dilakoninya selama 24 tahun. Pengabdian yang tak pendek bagi seorang pahlawan tanpa tanda jasa.

  • Terpujilah wahai engkau ibu bapak guru
  • Namamu akan selalu hidup dalam sanubariku
  • Semua baktimu akan kuukir di dalam hatiku
  • Sbagai prasasti trimakasihku tuk pengabdianmu
  • Engkau sebagai pelita dalam kegelapan
  • Engkau laksana embun penyejuk dalam kehausan
  • Engkau patriot pahlawan bangsa tanpa tanda jasa

“pahlawan tanpa tanda jasa” akhirnya menjadi ikon yang disematkan pada para guru. Siapa sangka “sang pahlawan” yang tanpa tanda jasa itu sejatinya si pencipta lagu tersebut……=S1Wh0T0=

Sumber: 

http://drjhn.blogspot.com/2012/12/biografi-pencipta-lagu_3953.html

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Madiun, Seniman, Sosok, Th. 2006 dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s