Pengembangan Pondok pesantren


Pengembangan pondok pesantren di Jawa Timur sampai abad ke-19

Pertumbuhan Islam di Jawa Timur mula-mula berada di daerah pelabuhan-pelabuhan. Di Ampel (Surabaya). Giri (Gresik), Drajat (Sedayu). Bonang (di Tuban), dan Bintoro (Demak) telah muncul pondok-pondok pesantren yang menggembleng tenaga-tenaga penyebar Islam. Setelah keluar dari suatu pesan­tren para ulama akan kembali ke masing-masing kampung atau desanya. Di tempat-tempat asalnya mereka akan menjadi tokoh keagamaan, menjadi kiai dan menyelenggarakan pesantren lagi. Di antara mereka mungkin ada yang berasal dari daerah peda- laman, sehingga muncullah pondok pesantren di pedalaman. Pengembangan pondok pesantren di daerah pedalaman ini mung­kin dipercepat dengan munculnya Kerajaan Demak sebagai kerajaan Islam yang pertama di Jawa.

Dalam jaman Kerajaan Demak peranan para wali bukan hanya memberikan da’wah Islamiah saja, tetapi juga sebagai dewan penasehat dan pendukung raja-raja yang memerintah. Da­lam kedudukan yang demikian sudah sewajarnyalah apabila para wali mengirimkan kader-kader tamatan pesantrennya untuk menjadi muballigh ke daerah pedalaman. Di mana mereka ber- ada di situlah mereka mendirikan langgar atau mesjid sebagai basis gerak agama. Lama-kelamaan jumlah pengikutnya makin banyak, sehingga berdirilah pondok pesantren sebagai tempat pembentukan kader pengembangan agama Islam selanjutnya. Penyiaran Islam selanjutnya mungkin dilaksanakan dengan mendatangi para ahli agama lama. Para ahli agama lama itu diajak berdiskusi, berdebat, dan adu kesaktian. Apabila para ahli agama lama itu dapat dikalahkan, maka biasanya ia mau memeluk agama Islam. Begitu pula para pembesar. para bupati dan raja-raja tidak luput dari metode itu. Bila perlu dengan menggerakkan suatu aksi militer untuk menyelesaikan persoalannya.

Dengan demikian maka pada jaman Kerajaan Demak pon­dok pesantren yang telah menyebar ke daerah pedalaman itu mempunyai peranan penting pula dalam rangka penyebaran agama Islam. Pondok-pondok pesantren ternyata mengalami perkembangan yang makin subur ketika jaman Kerajaan Mata- ram di bawah kekuasaan Sultan Agung. Pada tahun 1635 Sultan Agung memerintah di Mataram. Daerah Jawa Timur menjadi wilayah kekuasaan Mataram. Alas kebijaksanaan Sultan Agung, kebudayaan lama yang berdasarkan Jawa asli dan Hindu dapat disesuaikan dengan agama dan kebudayaan Islam. Selain itu Sultan Agung memerintahkan agar tiap-tiap ibukota kabupaten didirikan sebuah mesjid besar yang dikepalai oleh pengulu. Dan pada tiap-tiap ibukota distrik didirikan sebuah mesjid kewedanan yang diketuai oleh naib. Begitu pula pada tiap-tiap desa didirikan mesjid dewa yang diketuai oleh modin. Di setiap desa diadakan beberapa tempat pengajian dengan modin sebagai gurunya. Di situ antara lain diajarkan cara membaca A1 Qur’an, pokok-pokok, dan dasar-dasar ilmu agama Islam seperti cara ber- ibadat, rukun iman, dan rukun Islam. Pengajaran diberikan de­ngan cara menghafal semata-mata. Setelah mereka khatam da- pat meneruskan pelajarannya di tempat pengajian kitab, yaitu di pesantren atau pondok pesantren. Para guru agama yang mengajar di pesantren ini biasanya diberi gelar kiaianom

Di beberapa daerah kabupaten diadakan pesantren besar lengkap dengan pondok-pondoknya sebagai kelanjutan pendi- dikan dan pengajaran dari pesantren-pesantren desa. Gurunya diberi gelar kiai sepuh atau kanjeng kiai. Para guru itu adalab ulama kerajaan. Tingkat kedudukannya sama dengan penghulu kabupaten. Sedangkan kiai anom termasuk golongan ulama kabupaten yang kedudukannya setingkat dengan ketib.

Dengan demikian jelaslah bahwa jaman Mataram adalah jaman keemasan bagi pendidikan dan pengajaran Islam di tanah Jawa. Karena pada waktu itu pendidikan dan pengajaran Islam sudah mempunyai organisasi yang teratur dalam pemerintahan negara Islam. Maka itu merupakan suatu hal yang wajar apabila perkembangan pondok pesantren di Jawa Timur makin lama makin besar, sehingga Pemerintah Hindia Belanda pada abad ke-19 perlu mengadakan pengawasan. Demikianlah pada tahun 1882 oleh Pemerintah Hindia Belanda didirikan Priesterraden yang antara lain bertugas mengawasi pondok-pondok pesan­tren.

Tekanan yang halus dari fihak Pemerintah kolonial dan semakin berkembangnya lembaga pendidikan Barat yang ditu- jukan untuk membentengi Belanda dari volcano Islam (van der Prijs) mengakibatkan pengemhangar. pendidikan Islam maKin lama makin mundur. Namun demikian pendidikan dan penga­jaran Islam di Jawa Timur tetap tegak berdiri di pondok – pondok pesantren.

Adapun pondok-pondok pesantren yang dalam abad ke- 19 telah muncul di Jawa Timur antara lain ialah Pondok Pesan­tren Termas (dekat Pacitan) didirikan pada tahun 1823, Pondok Pesantren Jampes (Kcdiri). Pondok Pesantren Bendo (Kediri), Pondok Pesantren Pelangitan (Babat  berdiri pada tahun 1855.

Pondok Pesantren Probolinggo, Pondok Pesantren Bangkalan (di Madura), Pondok Pesantren Siwalan Panji (di Sidoaijo), dan Pondok  Pesantren di Jombang yang banyak sekali jumlahnya Nggendang, Keras, Tambak Beras, Den Anyar, Rejoso, Peterongan, Sambong, Sukopuro, Watu Galuh, Tebuireng).

Di antara pondok-pondok pesantren tersebut ternyata ada beberapa yang namanya telah termashur di Jawa Barat se­hingga di Pesantren Banten ada tradisi lama yang menganjurkan para santrinya apabila akan mendirikan pesantren baru terlebih dahulu harus mencari berkah dan menambah ilmu ke pondok Pesantren Jawa Timur tersebut. Pondok pesantren yang dimak- sudkan itu ialah Pondok Pesantren Termas di Pacitan, Pondok Pesantren Bangkalan di Madura, dan Pondok Pesantren Tebu­ireng di Jombang.

Di antara tiga pesantren yang termashur di Jawa Timur itu, ternyata Pondok Pesantren Tebuireng Jom­bang mempunyai sumbangan yang tidak sedikit terhadap perjuangan bangsa Indonesia dalam mencapai dan mempertahankan kemerdekaannya. Terwujudnya sumbangan pondok pesantren terhadap peijuangan bangsa Indonesia itu berkat bimbingan, asuhan, dan pengarahan dari pendiri pondok pesantren Tebu­ireng yang terkenal dengan sebutan Hadratus Syeh Hasyim Asy’ ari atau Kiai Haji Hasyim Asy’ari Tebuireng.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Th. 1986 dan tag , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s