Sejarah Lembaga pendidikan madrasah, di Jawa Timur


Lembaga pendidikan madrasah yang didirikan dan dipelopori oleh Nizam El Muluk, seorang menteri dari dunia Arab, diperkenalkan dan kemudian berkembang di Jawa Timur. fada sistem pesantren tidak terdapat standar antara satu dengan yang lain. Tetapi pada akhir abad ke-19 dan permulaan abad ke-20 madrasah-madrasah mulai memperkenalkan pembagian menurut tingkat kemampuan dan prestasi murid, kelompok umur, dan digunakan pula metode klasikal. Artinya seorang guru mengajar di hadapan banyak murid dalam satu kelas. Sistem dan metode ini sedikit banyak dipengaruhi oleh sistem baru yang menggu- nakan sekolah

berjenjang. Dalam pendidikan madrasah diutama- kan keselarasan otak (perkembangan akal), hati (perkembangan perasaan dan kemauan), dan tangan (perkembangan kecekatan ketrampilan). Sedangkan pelajaran-pelajaran yang diberikan me- liputi tiga kelompok yaitu kelompok pelajaran agama, kelompok pelajaran pengetahuan alam, dan kelompok pelajaran kerajinan tangan.

Pada pendidikan pesantren, mata pelajaran serta lamanya belajar tidak sama. Pesantren kecil dengan jumlah santri yang menetap amat sedikit lebih tepat disebut pengajian. 48) Keba- nyakan santrinya adalah anggota masyarakat yang terdekat.

2. Bidang Pendidikan

Sampai dengan tahun 1900 himpunan buku-buku berupa suatu perpustakaan di pesantren belum ada. Buku-buku disimpan pada pemilik masing-masing, dan merupakan koleksi pribadi di antara para kiai, badal, ustad, dan santri.

Yang terpenting ialah mengetahui isi dan hubungan antara satu buku dengan buku lainnya. Masalah ini amat rumit. Tetapi di sinilah letak kunci pembuka pengertian untuk memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang kawasan ilmu yang diajarkan dalam lingkungan pesantren. Pada hakekatnya apa yang diajurkan dalam lingkungan pesantren itu adalah untuk mempelajari satu kitab saja, yaitu Al Qur’an.

Pusat ilmu semenjak berkembangnya agama Islam adalah bangunan mesjid di Negara Arab. Lembaga pendidikan madra­sah telah dikenal sejak abad ke-10. Pada abad ke-11 sistem pen­didikan madrasah diperbaharui oleh Menteri Nizam Al Muluk dari Negara Arab. Semula madrasah hanya memberikan hal-hal yang bertalian dengan theologi saja. Tetapi setelah itu ilmu as- tronomi dan obat-obatan juga diberikan di madrasah. 49 ] A1 Qur’an dikaji secara benar sehingga anak-anak mendapatkan pe- ngertian tentang ayat-ayat Al Qur’an secara benar pula. Kemu- dian memahami maknanya yang meliputi tafsir serta bagaimana cara mengamalkannya.

Mengaji di pesantren bermula pada Al Qur’an dan berakhir pada Al Qur’an pula. Setelah itu dibutuhkan kitab-kitab yang disebut ilmu alat. Dari segi lain Al Qur’an merupakan induk atau sumber bagi lahir dan berkembangnya cabang-cabang ilmu lain yang kemudian ditulis dan dihimpun menjadi berbagai kitab.

Dari ayat-ayat A1 Qur’an mengenai hukum melahirkan ilmu Fiqih. Fiqih itu banyak sekali jumlahnya dan mempunyai mad- zhab dengan kecenderungan titik berat yang berbeda-beda. Mad- zhab Imam Syafii disebut Syafiiah, dan banyak didapati di pesan­tren-pesantren Jawa Timur.  Dari ayat-ayat Al Qur’an yang memberikan petunjuk mengenai pendekatan

dari manusia de­ngan Allah, menimbulkan mistik Islam atau tassawuf. Kaum Suffi mengajarkan tarekat. Dari ayat-ayat Al Qur’an yang me- nerangkan kejadian alam benda sebagai tanda kebesaran Allah menimbulkan ilmu alam kodrat. Menurut keterangan dari beberapa kalangan para ulama terdahulu mengeluarkan kitab-kitab ilmu falak, ilmu aljabar, dan ilmu sistem angka 0 (nol) yang dipergunakan sekarang.

Kitab-kitab tariqh yang disusun oleh para ulama di masa yang lalu keluar dari ayat-ayat A1 Qur’an. Kitab tersebut mene- rangkan kehidupan umat terdahulu. terutama sejarah para nabi dan rasul. Kitab ilmu Hadith juga merupakan hasil penelitian yang luas dari para ulama mengenai Sunnah Rasul yang menjadi pegangan ajaran Islam sesudah Al Qur’an.

Bahasa Al Qur’an itu sendiri setelah diperdalam menim­bulkan ilmu bahasa Arab sampai pada perinciannya yaitu bayan, ba’di, syorof, nahwu. dan cara mengucapkannya dipelajari dalam pelajaran tajwid. makhrad dan balagah. Bahasa kitab ini disebut fasa, berbeda dengan bahasa amiyah yang digunakan secara umum dalam kehidupan sehari-hari.

Di dalam pesantren diusahakan pengajaran Al Qur’an secara utuh seperti di jaman para nabi di mana para murid duduk ber- kumpul memahami dan mempelajari ayat-ayat yang telah di- turunkan. Cara mempelajari ialah dengan cara tadarus. yaitu di- baca berulang-ulang sampai hafal.

Kcpada setiap orang yang telah menerima pelajaran Al Qur. an dikenakan tusias untuk mengajar lebih lanjut kepada kaum kerabat dan orang-orang lain dalam lingkungannya. A1 Qur’an tidak boleh dijadikan seperti buku undang-undang yang hanya dibuka lembarannya bila diperlukan untuk diperiksa salah satu ayatnya. Dengan selalu tadarus akan timbullah pengertian baru yang membangkitkan kita kepada usaha mengembangkan ilmu dan mendapatkan banyak petunjuk.  Al Qur’an merupakan qalam Allah yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad saw secara keseluruhan.

Dalam kitab Tariqhut Tasyiri yang disusun oleh Alqhud- dari disebutkan bahwa jangka waktu nuzul ayat-ayat Al Qur’ an dari awal sampai akhir meliputi waktu 20 tahun 21 bulan dan 22 hari. Jangka waktu ini diperhitungkan sejak dari malam 17 Ramadhan tahun 41 dari milad Nabi sampai dengan tanggal 9 Dzulhijah, dari Haji Akbar tahun 10 Hijriah atau tahun 63 dari Milad Nabi. Di sana didapatkan masa turunnya Al Qur’an yang dapat dibagi menjadi 2 periode dengan masing-masing mempu- nyai tanda-tanda dalam bentuk dankandunganisisecara umum.

Periode pertama, yaitu masa ketika Nabi masih bermukim di Mekah. Ia menerima wahyu pertama pada tanggal 17 Ramadhan tahun 41 dari Milan

sampai dengan awal Rabiulawal tahun 54 dari Milan, meliputi masa 12 tahun 5 bulan 13 hari. Periode ini disebut ayat-ayat Maqqiyah. Semuanya meliputi jumlah 86 surah yang memuat 4780 ayat. Ciri-ciri umum ayat-ayat Maqqiyah itu ialah susunannya pendek-pendek. Isinya mengenai dasar keya- kinan atau aqidah tentang ada dan ke-esaan Allah. Atau Tauhid- dulah tentang hal-ikhwal azab dan nikmat di hari kemudian. Ayat-ayat ini memuat seruan kepada segenap manusia. Oleh karena itu diawali dengan kalimat-kalimat Ya Ayyuhannasu

Periode kedua, yaitu masa sesudah Nabi hijrah, bermukim di Madinah mulai tahun 54 sampai dengan tahun 63 Milad Nabi. Begitu pentingnya peristiwa hijrah sehingga kemudian dijadikan awal tahun dalam perhitungan tahun di kalangan umat Islam. Ayat-ayat yang nuzul dalam periode ini disebut ayat-ayat Mada- niah, yang semuanya meliputi 28 Syurah. dan memuat 1450 ayat. Ciri-ciri umum ayat-ayat ini susunan pada masing-masing Surahnya panjang-panjang. Kandungan isi ayat-ayatnya menge­nai masalah-masalah hukum dan kemasyarakatan. Oleh karena ayat-ayat yang memuat perintah dan larangan itu adalah bagi orang-orang yang telah beriman, maka banyak ayat-ayatnya yang dimulai dengan Ya Ayyuhaladzina …………………………………………..

Para sahabat Nabi membagi surah-surah dalam AlQur’an menjadi 4 bagian menurut panjang pendeknya isi syurat. Pertama, ialah 7 syurat yang terpanjang yang disebut de­ngan syurat-syurat Assab’uth-thiwaal. Kedua ialah syurat yang terdiri dari 100 ayat atau lebih sedikit yang disebut syurat Mi’ in atau Mi’un. Ketiga, syurat yang kurang dari 100 ayat yang disebut Alretsani. Keempat, syurat yang amat pendek yang di­sebut A1 Mufashal.

Penelitian terhadap ayat-ayat Al Qur’an baik mengenai lafal sampai kepada hitungan jumlahnya telah dilakukan dengan kecennatan yang amat subi’il. Abdullah Ibnu Katair adalah salah seorang tokoh peneliti hitungan ahli Mekah di masa lalu. Hitungan ahli Madinah diteliti oleh Abu Ja’far Ibnu Jazid. Hitungan ahli di Qufah dipelopori oleh Abu Abdirachman Asyalami. Hitungan ahli Basrah dilakukan oleh Aksin bin Asjjaj. Sedangkan bentuk ahli Syam penelitiannya dilakukan oleh Abdullah Ibnu Amir A1 Yahs- habi. Mereka itulah yang amat terkenal, di samping masih banyak lagi ulama yang lain. Sebagai peneliti syurat dan ayat-ayat Al Qur’an, sesudah terhimpun dalam Mushafat semuanya sepakat bahwa dalam Mushafat itu terdapat 114 syurat. Apabila ternyata ada segolongan kecil kaum Syi’ah yang menyebut 116 syurat, itu karena dimasukkannya 2 syurat-syurat Qunut A1 Khala dan A1 Hafadh. Menurut pentahkiban Abu Bakhar A1 Bagilani dalam kitab I’l

Jajul Qur’an. 2 buah doa Qunut itu karena ditulis oleh Ubay di kulit Mushab. Maka timbullah perkiraan sebagian orang sebagai dua buah syurat seperti yang lain. Perbedaan ini mudah saja dijelaskan karena syurah-syurah itu jelas ciri-cirinya, dan jumlahnyapun tidak banyak. Akan tetapi dalam penelitian hi- tungan-hitungan. ayat dalam Mushaf kadang-kadang terdapat perbedaan angka yang besar. Hal ini disebabkan lafadh Basmalah pada awal syurah diperhitungkan sebagai ayat dan sebagian ti­dak. Demikian pula untuk lafadh yang disebut Fawaathussuwari, yaitu pembuka syurah yang berbentuk huruf-huruf seperti alf- lam-mim, dan sejenisnya, tidak diperhitungkan sebagai ayat. Per­bedaan hitungan dalam penelitian ini tidak menyalahi kenya- taan bahwa isi Mushaf itu pada tiap syurah dari ayat sampai hu- rufnya sama.

Dari A1 Qur’an ini, bukan hanya isinya saja yang dipegang teguh oleh para ulama tetapi juga cara penulisannya, kata Kyai Yusuf Ismail Yasir. Maksudnya ialah bahwa A1 Qur’an sebagai sumber dan ilmu tidak putus dari cabangnya. 55) Dari A1 Qur’ an ditulislah kitab-kitab yang memuat ilmu tafsir. Tafsir itu pada hakekatnya ialah mensyarahkan lafadh yang sukar dipahami dengan uraian yang menjelaskan maksud. Adakalanya dengan menyebut muradif (sinonim)nya, atau menjelaskan dengan cara dalalah (petunjuk) dan contoh.

Pada setiap kitab tafsir ayat A1 Qur’an aslinya selalu dituliskan. Disiplin ini kemudian diturun untuk penulisan kitab- kitab lain. Bahkan dengan cara yang seragam ayat-ayat pada kitab induk dituliskan pada bagian tepi. Sedangkan tafsir maupun komentarnya disebut sejarah, dan dituliskan pada kolom bagian tengah dari tiap lembaran atau halaman kitab.

‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾‾
Dinukil oleh Tim Pustaka Jawatimuran dari koleksi Deposit – Badan Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Timur:  Pendidikan Tradisional Pengaruh Agama Islam dalam, Sejarah pendidikan Jawa timur, Departemen pendidikan dan kebudayaan,  direktorat sejarah dan nilai tradisional, proyek inventarisasi dan dokumentasi kebudayaan daerah 1985-1986, Surabaya, 1986.

Tentang Pusaka Jawatimuran

Semua tentang Jawa Timur
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Sejarah, Th. 1986 dan tag , , , , . Tandai permalink.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s